MARHABAN YA RAMADAN

MARHABAN YA RAMADAN

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

MARHABAN berasal dari kata rahban yang artinya lapang, luas, semakna dengan rasa senang, gembira. Siapa yang merasa senang akan kedatangan Ramadan, niscaya dihindarkan jasadnya dari siksa neraka. Dalam banyak riwayat disabdakan: "Kebaikan terkumpul di bulan ini (Ramadan). Sungguh dia telah datang kepadamu dengan penuh keberkahan. Ibadah sunah dinilai sebagai ibadah wajib. Ibadah wajib dilipatgandakan kebaikan pahalanya sampai tujuh puluh kali. Didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ketaatan diterima, dosa-dosa diampuni, doa diijabah, kerinduan kepada surga ditumbuhkan."

Ucapan marhaban secara tersirat menunjukkan arah kebeningan hati menerima ketibaan Ramadan bulan suci. Sucikan lisan dari mengumpat dan menghujat, sucikan harta dari barang yang haram. Haram dari jenis dan haram dari sumber pendapatan. Sucikan pikiran dari berbagai sampah kotoran duniawi dan amarah. Sucikan perasaan dari merasa suci dan merasa hebat. Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Tinggalkan tipu muslihat memakan harta waris dengan cara mencampur kebenaran (haq) dengan kesesatan (bathil), agar dapat menguasainya dengan cara culas. Berhenti memakan harta riba. Sebab Allah menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah. Larangan memakan harta anak yatim dan larangan menjadikan mereka sebagai objek untuk memperkaya diri dan keluarga.

Semuanya harus dilakukan dengan cara lapang (rahban). Sebagaimana diri Ramadan lapang hati menerima kita. Kita sambut dengan menunaikan perintah wajib dan sunah dengan senang hati. Kita jauhi larangan-Nya dengan lapang hati pula. Itulah Ramadan yang selamat dan menyelamatkan. Menyelamatkan manusia dari siksa neraka dan memasuki surga Allah dengan aman. Terbuka pintu langit dengan ucapan "marhaban bikum" (selamat datang wahai hamba Tuhan).

Tradisi masyarakat Arab bila menerima tamu yang baru datang dan telah dirindu, ditunggu lama adalah: Ahlan, sahlan, marhaban. Ahlan artinya keluarga. Sehingga kedatangan saban tahun tidak asing lagi. Sebab tamu yang datang sebagai keluarga, dia membawa sejuta kebaikan dan membuang sejuta keburukan. Ahlan (keluarga) yang bersamai tidaklah lama, 29 atau 30 hari saja. Selepas itu, dia tidak akan datang lagi. Kecuali setahun yang akan datang. Saat usia kita sampai di Ramadan tahun depan. Bila tidak, jadikan Ramadan tahun ini, menjadi Ramadan terbaik. Ramadan yang sanggup mengantar ke gerbang ampunan Tuhan yang maha luas.

Sahlan artinya mudah. Berikan kemudahan untuk segala yang diminta Ramadan. Ramadan meminta bangun di tengah malam untuk tahajud dan makan sahur. Dengan mudah kita layani tanpa resah. Ramadan meminta untuk tadarus Alquran dengan cepat kita layani tanpa lambat. Ramadan meminta kita untuk taraweh dengan mudah kita laksanakan tanpa hambatan. Betapa mudah kita melayani tamu Ramadan, dengan mudah pula Ramadan melayani kita di dunia sampai akhirat. Saatnya sekarang, peluk Ramadan dengan cinta. Karena kitab suci (Taurat, Zabur, Injil, Alquran) telah diturunkan dari sisi Tuhan semesta alam. Tuhan yang maha terpuji sudah menurunkan Alquran di bulan Ramadan suci. Sebagai pedoman, imam dalam kehidupan, bagi orang yang hidup hatinya untuk rela mengikuti petunjuk Alquran.

Allah SWT akan memberikan kekuatan kepada kaum beriman untuk berpuasa sejak dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Durasi waktu yang ditempuh sekitar 13 sampai 14 jam. Selain berguna sebagai jam istirahat dari kerja organ tubuh untuk membuang toksin (racun). Juga menumbuhkan sel-sel baru kehidupan yang lebih baik, untuk sebelas bulan ke depan. Bila beban jasmani (bumi) dikurangi, niscaya rohani (langit) akan mudah terkoneksi. Koneksitas tersebut berupa kelapangan dada untuk memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, gemar bersedekah, membebaskan manusia dari jeratan hutang, mengampuni para pendosa dan memulihkan nama baiknya. Lalu, jalani hari dan malam Ramadan dengan membaca, menelaah dan menghayati Alquran, sebagai titik awal kesadaran untuk perubahan diri ke arah yang lebih berguna.

Sehingga Ramadan digelar syahrul-qur'an (bulan Alquran). Perbanyak membaca Alquran, mengkaji, menelaah, menghayati dan mengamalkan. Ramadan bulan memperberat timbangan amal kebaikan (tsaqulat mawazinuhu) yang datang setiap tahun, guna tabungan (investasi) akhirat kelak. Siang-malam bersama Alquran, tidur-bangun dengan Alquran.

Kedatangan Alquran merupakan cahaya di hati manusia. Alquran mengeluarkan manusia dari lembah kegelapan menuju cahaya. Sebab Alquran membongkar jalan bahagia dan jalan sengsara. Alquran membedah gelap dan terang. Memisahkan keduanya saat Alquran berfungsi sebagai pembeda yang disebut Alfurqan. Membedakan baik dan buruk serta menerangkan jalan keduanya (burhan) dan menerangkannya secara rinci beserta bukti (bayan).

Alquran menjelaskan tipe orang-orang durhaka, bahkan memberi contoh dalam sejarah dunia, Fir'aun dan Qarun. Fir'aun lambang sekaligus sosok kejahatan dunia, ego kekuasaan yang tak tertumbangkan. Kecuali saat Kami tenggelamkan dia beserta pasukan di laut. Presentasi fakta ilmiah bahwa ketika Fir'aun ditemukan penuh dengan garam di tubuh si-Tuhan palsu ini. Membuktikan kebenaran Alquran, sesungguhnya Fir'aun mati tenggelam di laut merah.

Qarun sosok yang sama jahat dengan Fir'aun juga diungkap Alquran. Sebagai keluarga Nabi Musa, Qarun adalah seorang ahli Taurat. Setelah lepas dari kemiskinan menjadi kaya raya. Qarun menjadi orang yang paling durhaka kepada Allah dan Rasul Musa. Ingkar zakat, ingkar kepada Allah dan memfitnah Rasul Musa. Akhirnya, Allah tenggelamkan Qarun beserta pengikut dan semua kekayaannya ditelan bumi (likuefaksi).

Ramadan yang kita sambut dan kita elu-elukan ketibaan bak tamu agung. Meminta kita untuk akrab, rekat, dekat, rapat dengan Alquran. Sungguh, dia mengandung cahaya yang tidak pernah padam. Bagi siapa yang ingin memeroleh cahaya Alquran, baca, dengarlah! Sebab keseringan engkau membacanya, nanti dia akan menuntun hatimu, mengarahkan jalan hidupmu, mengatur kualitas suaramu, mengajar pendengaranmu. Alquran akan menjadi hiburan di alam kubur, penerang kaki meniti jembatan, pemberat timbangan amal saleh, mendekat kepada surga, dinding dari api neraka. Intinya, Alquran datang pada hari kiamat sebagai penolong (syafaat) bagi para pencinta-nya.

Ramadan mengajak kita untuk berselancar dengan Alquran dalam banyak destinasi terbaik. Semua destinasi Alquran menjadi pembelajaran mendalam. Jiwa kita diajak terbang oleh Alquran ke masa lalu, masa sekarang, masa depan. Tiga jalan masa (lorong waktu) tersebut merupakan tempat yang disinggahi Alquran di hati para pencinta-nya. Menyimpan berjuta rasa dan berjuta rahasia. Lembar demi lembar kerahasiaan ayat tersingkap, tersibak yang berakhir keterbukaan dari semua ketertutupan. Bukankah ketertutupan itu adalah gelap dan keterbukaan ini adalah cahaya?

Apakah kamu tidak mengkaji Alquran, ataukah hatimu yang masih terkunci? Sesungguhnya janji Tuhan pasti datang! Tumbuhkan perasaan takutmu terhadap ayat-ayat azab, sungguh engkau tidak akan tersentuh azab dari Tuhanmu. Tumbuhkan perasaan harapmu terhadap rahmat, ampunan, rida dan surga-Nya, niscaya engkau memeroleh apa yang engkau cita-citakan dan upayakan.

Alquran telah mengingatkan jauh hari. Jangan menyesal di akhirat bila di dunia tidak berbenah diri. Benah diri maksudnya beriman kepada Allah dan beriman kepada kerasulan. Bukti keberimanan tersebut ialah beramal saleh. Amal saleh tidak sebatas diterjemahkan berbuat baik. Namun makna lebih luas adalah mereka yang membangun (muslihun), lawan dari mereka yang merusak (mufsidun). Artinya, iman tidak sempurna jika tanpa amal. Amal tidak diterima jika tanpa iman. Dua kata yang selalu berdampingan dalam Alquran yaitu iman dan amal saleh. Amal saleh akan diterima jika beriman (legacy). Iman menjadi benar jika dibuktikan dengan amal saleh (konfirmasi). Demikian dengan puasa, bila puasa merupakan amal saleh. Harus dipastikan landasan puasa adalah iman. Sebab, tidak akan berpuasa seseorang, kecuali dia seorang yang beriman. Regulasi iman dan amal saleh menjadi syarat guna memverifikasi penghuni surga. Karena mereka yang berpuasa karena iman dan selalu mawas diri, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Lebih jauh, surga merindukan empat golongan manusia: Manusia yang menjaga lisannya dari menyakiti (ucapan sia-sia); gemar membaca Alquran; memberi makan orang yang lapar; berpuasa di bulan Ramadan.

Jadi, marhaban ya Ramadan (selamat datang Ramadan) sebagai ucapan terbaik menyambut bulan yang terhormat, menanda kita adalah orang-orang beriman agar siap menjalani kewajiban puasa Ramadan sampai tuntas. Wallahualam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERAHASIAKAN ATAU MENYATAKAN AMAL

INTENSITAS DIALOG DENGAN ALQURAN

HAJI DAN QURBAN TIDAK SEKADAR RITUAL