Postingan

MENGENAL LEBIH DEKAT ABDURACHMAN ABROR (Ilmuwan Berintegritas)

Gambar
  MENGENAL LEBIH DEKAT ABDURACHMAN ABROR (Ilmuwan Berintegritas) Oleh Ma'ruf Zahran Sabran ABDURACHMAN, kelahiran Banjar Negara, Jawa Tengah, 25 Desember 1939. Ketika Kalimantan Barat masih kekurangan guru, beliau datang mengabdikan diri sejak Januari, 1971. Tidak ada niat hengkang dari bumi Khatulistiwa atau pindah tugas (mutasi) ke Jakarta dan tanah kelahiran, telah menjadi prinsip hidupnya. "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung."   Beliau juga mengabdi sebagai guru PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Pontianak. Tugas utama beliau ialah dosen IAIN Syarif Hidayatullah Cabang Jakarta di Pontianak sampai purna tugas. Mengingat ketika itu, jumlah dosen di Pontianak, masih sangat sedikit. Sayap pengabdian beliau mengajar diperluas ke banyak tempat,   UNTAN, UPB, APDN dengan mengampu mata kuliah Agama Islam. Sekitar tahun 1972-1985, beliau aktif sebagai penceramah dan pembina rohani Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pontianak. Dimana penghuninya kebanyakan tahanan pol...

K.H. MAS'UDI, GURU INSPIRASIKU

Gambar
  K.H. MAS'UDI, GURU INSPIRASIKU Oleh Ma'ruf Zahran Sabran PESANTREN mudah dikenali dengan pembelajaran Bahasa Arab. Sudahkah diketahui, ketika Kyai Haji Mas'udi sosok guru Bahasa Arab dan sekaligus Bahasa Rohani. Tulisan ini diangkat dari pengalamanku sebagai santri kalong (antonim dari istilah santri mukim). Ketika Mbah Kyai tinggal di Gang Dua. Jadual nyantri setiap selesai salat wajib lima waktu. Menjadi kewajibanku pula untuk membuka kitab dasar pembelajaran Bahasa Arab. Metode menyimak, lalu mengikuti ucapan Mbah Kyai. Kemudian menyebutkan kedudukan (wazan) dari setiap kata yang diucap. Tradisi pesantren menyebutnya "i'raf." Awal pertemuan dengan Mbah Kyai ketika bersama dalam satu majelis Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW. Ketika saya diundang untuk berceramah sewaktu masih kuliah di IAIN Pontianak. Mbah Kyai juga diundang sebagai penceramah utama. Sungai Pinang Dalam, tepatnya di Desa Rasau Jaya belok kiri. Ada penyeberang...

MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang)

Gambar
  MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang) Oleh Ma'ruf Zahran Sabran AGAMA bukan semata doktrin, tapi juga metode penyampaian. Bahwa kebanyakan kita berhadapan dengan orang yang lebih dominan perasaan daripada pikiran. Umumnya mengedepankan emosi daripada intelek. Karena itu, pendekatan agama harus mementingkan rasa kemanusiaan, metode diskusi dan karakter kepedulian. Jangan sampai tindakan kekerasan mengatas-namakan disiplin, dan taat regulasi, sehingga menjadi bumerang lembaga pendidikan. Bagi masyarakat, tindakan kekerasan pasti dilawan dengan kekerasan. Sedangkan di sekolah, madrasah, pondok pesantren (pontren), jika kekerasan dilakukan kakak tingkat (kating) senior, maka pasti akan menumbuhkan rasa dendam di hati yunior, serta pewarisan sikap "pembantaian" yang terjadi berulang pada setiap tingkatan tahun ajaran. Viral maraknya bullying (perundungan) di sekolah hingga membawa kematian, sebuah i...

MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin Yaqzan)

Gambar
  MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin Yaqzan) Oleh Ma’ruf Zahran Sabran MANUSIA bertipe makhluk yang bisa dididik dan mendidik, atau disebut manusia pendidikan (homo educandum) untuk menumbuhkan potensi baik padanya. Melalui guru dan tanpa guru (formal). Bukti nyata adalah kisah inspiratif Hayy bin Yaqzan. Lembar kehidupan Hayy bin Yaqzan diangkat dari sebuah kisah filsafat klasik karya Ibnu Thufail (Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail Al-Qaisi). Beliau lahir di Andalusia (Spanyol, 1105 Masehi). Beliau wafat di Maroko, 1185 Masehi, seorang filosof muslim dari Eropa. Kitab Hayy bin Yaqzan artinya: Si-Hidup, anak dari yang sadar. Ringkas kisah terdapat seorang bayi terdampar sebatang kara di pulau kosong tanpa manusia. Diasuh oleh seekor kijang. Pendidikan dan pembelajaran berlangsung tanpa bahasa, tanpa guru, tanpa kitab. Dengan instink, naluri, akal dan pengamatan alam, bayi Hayy tumbuh dan belajar bertahan hidup. Mengamat...

TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN

Gambar
  TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN Oleh Ma'ruf Zahran Sabran MANUSIA ialah insan pembelajar (homo-educandum), jika ingin menjadi manusia berguna. Dalam belajar mereka ikut dinilai dan menilai lingkungan. Kaitan tahapan belajar menilai kehidupan, seseorang pasti melewati tiga fase normal dan utuh. Jika terhenti disalah satu fase, maka riwayat belajar akan pincang atau belum utuh. Tahapan tersebut adalah: Baru Belajar Tahapan pertama belajar   terfokus pada diri yang baru belajar. Bahwa hanya perspektifnya sajalah standar kebenaran, bukan dari yang lain. Cukup dimaklumi, ibarat setiap orang pasti pernah mengalami masa dimana "hanya silatnya" saja yang hebat. Sebab baru belajar satu dan dua jurus silat. Baru melewati masa yang "mencengangkan." Berakibat semua orang salah, standar benar hanya dirinya yang baru tahu. Padahal di luar sekolah sudah jauh berkembang ilmu pengetahuan. Problemnya bukan tentang tahu atau tidak tahu. Tapi adab pembelajar y...

LIMA RESEP HIDUP TENANG MENURUT IMAM HASAN BASRI

Gambar
  LIMA RESEP HIDUP TENANG MENURUT IMAM HASAN BASRI Oleh Ma'ruf Zahran Sabran DALAM rangka menutup tahun lama (2026) dan menyambut tahun baru (2027), ada baiknya duduk sejenak bermajelis online dan kuliah imaginer dengan Imam Hasan Basri yang bergelar Raja generasi Tabi'in (lahir: Madinah, 21 Hijriah, wafat: Basrah, 110 Hijriah). Seorang jamaah sekaligus murid dari Imam Hasan Basri bertanya: Wahai Tuan Guru, di dunia ini banyak sekali paham, ajaran, konsep, sehingga membuat banyak orang bingung. Karena semua paham ajaran tersebut menganggap paham dan ajarannya yang paling benar. Tidak jarang mereka menyalahkan, membid'ahkan, mengkafirkan golongan lain yang tidak sejalan dengan paham ajaran mereka. Lalu, bagaimana cara kami menyikapinya, tolong beri kami bimbingan tuan guru? Ikuti suruhan Allah dan Rasul-Nya dalam Alquran dan Hadis. Jauhi yang dilarang oleh keduanya. Dua standar sumber beragama. Apabila pendapat manusia sesuai dengan keduanya, peganglah kuat-kuat da...