MENGGANJILKAN PERSPEKTIF MENJADI SYARAT MERAIH LAILATUL QADAR

MENGGANJILKAN PERSPEKTIF MENJADI SYARAT MERAIH LAILATUL QADAR

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

EKSISTENSI malam kemuliaan yang disediakan Tuhan mengajarkan tauhid sejati. Secara implisit sesungguhnya selain Dia adalah dualitas. Banyak dalam ayat suci ditemukan bahwa Dia tidak mau dipersekutukan. Sungguh Allah adalah ganjil, Dia menyukai yang ganjil. Namun bukan ganjil lawan dari genap. Jika hitung matematika, 20 angka genap, 21 angka ganjil. Lalu, mengganjilkan perspektif bukan artinya menghitung malam ganjil Ramadan adalah 21, 23, 25, 27, 29. Malam ganjil yang berpotensi turun lailatul qadar. Tapi hitungan malam tersebut menjadi genap, manakala perbedaan penentuan tanggal 1 Ramadan berbeda di kalangan kaum muslimin. Perbedaan karena metode penentuan 1 Ramadan saat melihat  hilal. Melihat wujud hilal (eksistensi bulan) dengan metode hisab dan metode rukyat. Kedua metode tersebut memiliki syarat ilmiah, pengukuran, perhitungan dan penilaian akurat.

Bukan malamnya yang harus diganjilkan. Jika terdapat dua haluan yang berbeda dari ormas Islam yang menentukan awal Ramadan, maka semua malam terutama sepuluh malam terakhir berlaku malam ganjil. Atau sebaliknya, semua malam adalah malam genap. Duduk persoalan bukan lagi mendebat malam ganjil atau genap. Tetapi lebih kepada perspektif (tinjauan) tentang makna (takwil) lailatul qadar. Sehingga menjadi syarat penting bagi peraihnya ialah: Sudahkah mentauhidkan (mengesakan) Allah SWT?

Meskipun salat malam rajin dikerjakan bila pelakunya masih mempersekutukan Allah, saban tahun akan luput menggapai lailatul qadar. Keimanan di hati yang masih tercampur dengan syirik, pasti ditolak Allah SWT. Sebab Dia tidak mau dipersekutukan dengan siapa dan apa yang ada di langit dan di bumi. Kemarahan-Nya bukan sebab kamu tidak salat. Tetapi di dalam salat-mu banyak Tuhan selain Dia. Seperti pikiran yang lalai dari mengingat Allah, mereka yang riya' dalam salat, dan mereka yang enggan membantu dengan barang-barang yang berguna karena hati yang terjerat kepada dunia (baca Al-Maun:5-7).

Mengganjilkan perspektif artinya hanya menuhankan Allah yang esa saja. Bahkan kata Allah itupun lenyap saat Dia sudah tidak sanggup lagi dibayangkan oleh lintasan pikiran dan perasaan, meski di dalam benak. Bila telah sampai di tingkat ini, itulah syarat penghuni surga bagi hamba Tuhan. Disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW: "Aku sediakan untuk hamba-hambaKu yang saleh. Apa yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat didengar oleh telinga, dan tidak terbetik di hati manusia." (Riwayat Muslim).

Gerbang utama untuk menemui lailatul qadar ialah hamba yang mengesakan Allah SWT (muwahhid) dalam kehidupan sehari-hari. Tidak saja di masjid, tidak juga di rumah. Namun keseharian tampak ketika ia menolak ajakan kerja sama untuk merapat kepada yang syubuhat (samar-samar) hukumnya, lebih lagi dari yang haram (terlarang). Memilih hidup bersih dan menjaga kesucian diri (iffah) dari merusak tatanan dan kesejahteraan sosial. Tidak mencari panggung dan merebut mic untuk menyatakan diri penting dan diri berharga di mata manusia. Tidak lagi mengejar sorotan kamera supaya dipublikasikan oleh media, jurnal dalam dan luar negeri.

Maksudnya, hanya orang yang sudah tuntas dengan diri, mengenal Tuhan (khalik) dan mengenal ciptaan (makhluk). Mereka yang didatangi lailatul qadar berupa kemuliaan bahwa keyakinan diri selalu bersama-Nya (Allah). Allah memerhatikan-ku, Allah menyaksikan-ku. Merasakan kehadiran-Nya adalah bagian dari lailatul qadar yang diturunkan kepada hamba pilihan-Nya.

Sekali meraih lailatul qadar, niscaya seseorang akan dijaga oleh Allah SWT sepanjang kehidupan (hayat). Dan dijaga-Nya kehidupan baru setelah kematian yang sekarang di dunia. Kemudian memasuki kebahagiaan abadi di akhirat yang tiada habisnya. Hidup yang tiada mati, sehat yang tiada sakit, kaya yang tiada miskin, muda yang tiada tua, mudah yang tiada susah. Kecuali Tuhan Allah menghendaki yang lain. Sesungguhnya Allah berbuat terhadap apa saja yang Dia kehendaki.

Mengganjilkan (mengesakan) perspektif menciri bahwa yang maha pengasih adalah maha ghaib. Maha ghaib bukan sekadar tidak sanggup dilihat, tidak sanggup didengar. Tapi juga eksistensi diri-Nya yang tidak bisa direkayasa. Mustahil dibahas dalam kata dan sketsa. Surah Al-Ikhlas sudah cukup untuk memahamkan setiap apapun yang terlintas di benak manusia, pasti bukan Allah SWT.

Jelas, hamba yang mendapat lawatan dan jemputan lailatul qadar, tiketnya adalah tauhid yang sampai kepada tahap  tidak menyerupakan Allah SWT dengan sesuatu apapun. Memahasucikan Tuhan ialah menjauhkan diri-Nya dari intervensi manusia. Supaya manusia tidak mengadakan Tuhan yang berbentuk benda di langit dan benda di bumi.

Setinggi-tinggi kalimat tasbih (subhanallah) yang dibaca, sepantasnya menyucikan Allah SWT dari sifat yang dibuat manusia tentang-Nya. Dia yang maha hidup dan menghidupkan, tapi bukan kehidupan seperti semesta yang Dia ciptakan. Dia berbuat bukan seperti perbuatan manusia. Berakhlak kepada Allah SWT dengan cara berserah diri sajalah. Dalam firman Tuhan disebutkan: "Hai orang-orang yang beriman,  bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Dan jangan kamu mati, kecuali kamu berserah diri." (Ali Imran:102).

Setinggi-tinggi doa adalah hamdalah (pujian kepada Allah). Doa diawali dengan hamdalah dan diakhiri dengan hamdalah. Isinya mengandung salam dan selawat kepada junjungan alam, kekasih Allah, Rasulullah SAW. Doa menunjukkan kelemahan hamba ('ubudiyah) di hadirat Tuhan yang maha kuat (rububiyah). Menunjukkan kemuliaan diri-Nya adalah Tuhan yang maha mulia (rububiyah) di hadapan hamba yang penuh kehinaan ('ubudiyah). Bila hamba telah mencapai tingkat tidak memiliki apa-apa dan bukan merasa siapa-siapa, itulah detik dan menit lailatul qadar yang sangat berharga. Berharga karena sedekat-dekat dan selalu bersama-Nya. Bukan pada saat manusia merasa kuat, merasa benar, merasa mulia, merasa suci.

Raih malam kemenangan, malam ketetapan ketika hati telah bersih dari kesyirikan meski setitik embun subuh. Makna tahlil mengarah kepada tauhid, menyaksikan sungguh tidak ada Tuhan kecuali Allah. Makna tahmid mengarah kepada tauhid, menyaksikan tidak ada yang dipuja-puji kecuali Allah. Makna takbir mengarah kepada tauhid, menyaksikan tidak ada yang maha besar kecuali Allah. Makna tasbih mengarah kepada tauhid, menyaksikan bahwa tidak ada yang maha suci kecuali Allah. Tasbih, tahmid, takbir, tahlil merupakan amal utama sepanjang bulan suci Ramadan, bahkan selagi hayat dikandung badan sampai hala napas kehidupan berakhir bagi seseorang.

Maha agung yang tidak terkira-kira oleh manusia, jin dan malaikat. Maha tinggi yang ketinggian-Nya tidak sanggup dicapai oleh semesta. Nabi Muhammad SAW membimbing umat untuk mengesakan Allah SWT secara murni-sejati dalam untaian yang kira-kira artinya: Maha suci Engkau, kami tidak sanggup memanjatkan pujian sempurna untuk-Mu. Maka pujian kami kepada-Mu adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.

Lebih jauh, Alquran dan sunnah menuntun tasbih bukan sebatas ucapan. Tapi melampaui ucapan, melampaui pikiran, melampaui perasaan dan apapun yang terlintas dalam ingatan dan kenangan. Tasbih yang sering digemakan saat mengakhiri doa.

Tiga kalimat pilihan yang ditawarkan, doa berisi pujian: Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang maha agung dari apa-apa yang mereka persekutukan. Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang maha agung dari apa-apa yang mereka sifati. Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang maha agung dari apa-apa yang mereka ketahui. Doa akan mudah terkabul dengan nama zat-Nya yang tidak sanggup dikenali rasa, tidak mampu dikurung karsa. Kecuali berserah diri saja. Wallahualam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERAHASIAKAN ATAU MENYATAKAN AMAL

INTENSITAS DIALOG DENGAN ALQURAN

HAJI DAN QURBAN TIDAK SEKADAR RITUAL