SEPULUH KEBAIKAN UNTUK SATU KALI SELAWAT
SEPULUH KEBAIKAN UNTUK SATU KALI SELAWAT
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
DALAM hitungan hari, bulan Syakban yang mulia akan pergi menyambut
ketibaan bulan suci Ramadan 1447 H. Untuk tidak menyia-nyiakan sisa hari di
bulan Syakban sebagai bulan Rasulullah SAW sebaiknya memperbanyak bacaan
selawat dan salam kepada Rasulullah SAW disiarkan. Salam untuk baginda ialah:
Assalamu'alaika ya Rasulullah (salam sejahtera untuk-mu wahai utusan Allah).
Sedang selawat ialah: Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad-wa 'ala ali
sayyidina Muhammad (wahai Allah Tuhan kami, selawat atas tuan kami Muhammad-dan
atas keluarga tuan kami Muhammad). Penggunaan kata sayyidina menunjukkan sikap
beradab kepada utusan Allah (adab untuk Nabi).
Sejarah mencatat terjadi beberapa peristiwa penting di bulan ini
(Syakban). Diantaranya turun perintah kewajiban puasa pada tahun ke-2 Hijrah di
Madinah. Pemindahan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsa (Palestina) ke Masjid
Al-Haram (Mekah). Dan turun wahyu perintah berselawat-salam kepada Nabi,
berdasarkan surah Al-Ahzab (33) ayat 56: "Sesungguhnya Allah dan para
malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,
berselawatlah dan haturkan salam atasnya dengan penuh penghormatan." Penuh
penghormatan di sini dimaknai jangan engkau memanggil Rasul seperti kamu
memanggil sesama temanmu. Maksudnya larangan menyebut baginda tanpa adab.
Seperti memanggil nama tanpa jabatan
(Annur:63).
Kewajiban menaati Rasulullah SAW adalah keniscayaan menaati Allah
SWT. Artinya, siapa yang menaati Rasul sama artinya menaati Allah. Siapa yang
mendurhakai Rasul sama artinya mendurhakai Allah. Bersumber dari Hadis riwayat
Muslim: "Bersabda Rasulullah SAW. Seluruh umatku akan masuk surga. Kecuali
mereka yang enggan (memasukinya). Sahabat bertanya: Siapakah mereka yang enggan
ya Rasulullah? Siapa yang menaatiku, mereka akan masuk surga. Siapa yang
mendurhakaiku, mereka itulah yang enggan."
Bahagia dan doa terbaik bagi orang yang berselawat-salam kepada
Rasulullah dengan menaati beliau. "Katakan! Jika engkau ingin mencintai
Allah, maka ikutilah aku (Rasul). Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni
dosa-dosamu." (Ali Imran:31).
Sebaliknya, mereka yang tidak mengimani Rasul merupakan kerugian
besar di dunia dan di akhirat. Penyesalan yang tidak berguna. "Pada hari wajah
mereka dibolak-balik di dalam neraka. Mereka menyesal dengan berkata, celaka
kami, andai di dunia dahulu, kami menaati Allah dan menaati Rasul."
(Al-Ahzab:66). Jelas, Allah dan Rasul tidak terpisah dalam menaati keduanya.
Rangkaian keterpaduan tersebut disimpan dalam ucapan makna selawat. Satu kali
selawat kepada Rasul memiliki sepuluh keutamaan, sepuluh kebaikan, sepuluh
ganjaran pahala sebagai balasan dari Tuhan yang maha pengasih lagi maha
penyayang.
Sepuluh kebaikan itu ialah: Selawat berguna memperbaharui iman
kepada Allah SWT. Karena selawat dapat dimaknai zikir, taubat, sabar, syukur
dan rida kepada-Nya. Memperbaharui iman kepada Rasulullah SAW. Karena selawat
mengandung hikmah membangun dan menumbuhkan kembali iman kepada Rasulullah,
supaya lebih bercahaya dan bersemi lagi. Dalam ucapan selawat juga mengandung
ibadah umat untuk mengagungkan Allah dan untuk mengagungkan Rasulullah. Dua
hubungan yang tak terpisah, mengingat Allah tersebut nama utusan-Nya. Allahumma
shalli 'ala sayyidina Muhammad.
Selawat menambah derajat Rasul pada derajat kemuliaan yang terus
meningkat tidak pernah menurun. Derajat Rasul yang terus meninggi tidak pernah
rendah, di mata Tuhan dan di mata manusia. Orang yang selalu basah lisan dan
tersiram hatinya dengan selawat, Allah anugerahkan padanya ketinggian derajat
yang terus menaik, tidak pernah turun. Pengaruh cahaya selawat menerangi hati
umat, bukan karena berlimpah materi dunia. Namun ketenangan hidup yang Allah
simpan di hati kaum beriman. Memercik air cahaya bagi orang yang berada di
lingkar selawat. Bahkan doa dianggap remeh, jika melupakan selawat. Betapa
banyak manusia di bulan ini, diberi hidayah (petunjuk) berkat selawat.
Sebaliknya, betapa banyak manusia di bulan ini, tersesat dari jalan lurus
karena mengabaikan selawat. Anugerah kewalian akan ditebar di bulan ini berkat
selawat, berkat kemuliaan Rasulullah SAW.
Selawat mengundang kecintaan kepada Rasulullah SAW. Awal mula
selawat ialah cinta. Kehampaan cinta membuat seseorang malas untuk berselawat.
Dari cinta tumbuh rindu, dari rindu (syauq) tumbuh rasa ingin bertemu (liqa’).
Bertemu Rasul menjadi syarat (jalan) bertemu Allah SWT. Berjumpa (liqa')
merupakan obat bagi para perindu ('asyiqin).
"Dan barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah,
maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan oleh Allah) itu akan datang."
(QS. Al-Ankabut: 5). Ayat ini menekankan pentingnya memiliki harapan dan
keyakinan akan pertemuan dengan Allah SWT di akhirat. Orang yang memiliki
harapan ini akan terus berbuat baik dan berusaha meningkatkan kualitas iman dan
amal shalehnya. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini juga mengingatkan kita
akan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dengan menjalankan
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, kita dapat
meningkatkan kualitas iman dan amal shaleh kita serta mempersiapkan diri untuk
pertemuan dengan Allah SWT.
Selawat menambah kecintaan kepada keluarga Rasul. Selawat yang
tanpa menyebut keluarga mulia Rasul merupakan selawat yang terputus. Buktinya,
dalam posisi salat duduk tahiyat akhir selalu diiringi selawat untuk
keselamatan kepada keluarga Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Ibrahim. Mereka
telah dijadikan Tuhan sebagai suri tauladan dalam jejak sejarah.
Selain itu, selawat juga menciri syukur kepada Rasul atas
kedatangan beliau di muka bumi sebagai duta Tuhan. Pahala syukur adalah
setinggi-tinggi ganjaran bagi ahli selawat dan ahli ibadah. Hati yang bersyukur
karena limpah-curah rahmat-Nya kepada bumi dan langit beserta isinya. Semua
berkat kehadiran sang-junjungan.
Selanjutnya, selawat juga bermakna berakhlak seperti akhlak Allah.
Sebab Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi Muhammad Rasullulah. Bukti
Allah berselawat adalah bila Rasul rida, Allah pasti rida. "Apa-apa yang
didatangkan Rasul kepadamu, ambillah. Dan apa yang dilarangnya, jauhilah.
Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha berat hukuman-Nya."
(Al-Hasyr:7).
Terakhir, selawat mengandung kebaikan jalan permohonan, jalan
pengampunan dosa, jalan harap kabul semua hajat (i'tiraf). Para pendosa,
perbanyaklah membaca selawat yang terhubung ke hati sanubari. Para pencinta
(muhibbin) Rasul, obati kerinduan dengan lantunan selawat yang senantiasa
menjuntai di relung kalbu. Dosa diampuni, hajat diijabahi, cita dan harap
kabul, perbanyak amal selawat. Masyarakat, keluarga damai sejahtera, sakinah,
mawaddah wa rahmah (tenang, cinta dan kasih sayang), makmur, rukun dan rahayu
akan terbit sembari masyarakat dan keluarga mensyiarkan selawat. Wallahualam.
Komentar
Posting Komentar