AL-QUDS 19
AL-QUDS 19
SABAR
MENANTI KESEMPURNAAN
Oleh
Ma’ruf
Zahran
Empat catatan takdir dan empat medan ujian jiwa akan tetap dan
sedang berjalan sampai sempurna pada waktunya. Kesempurnaan yang empat bila
tercapai barulah seseorang diwafatkan Allah. Bila belum cukup supaya Tuhan
cukupkan dulu. Bila belum sempurna, pasti Tuhan sempurnakan dulu. Bila masih
ganjil, pasti Tuhan genapkan, medan-medan ujian jiwa tersebut adalah:
- Medan ujian taat akan Tuhan sempurnakan, bila telah disempurnakan pada ujian taat untuk seseorang, kemudian Allah wafatkan.
- Medan ujian maksiat akan Tuhan sempurnakan, jika telah disempurnakan, maka Tuhan akan mewafatkan.
- Medan ujian nikmat akan Tuhan sempurnakan, jika telah disempurnakan, niscaya akan Tuhan wafatkan.
- Medan ujian bala' akan Tuhan sempurnakan, bila telah disempurnakan, niscaya akan Tuhan wafatkan.
Apa yang sekarang wajib kita lakukan adalah menunaikan permintaan
takdir yang sudah ditetapkan Tuhan pada waktu lima ratus tahun sebelum ada
sebutan. Masa sebelum ada ingatan, baik perintah maupun larangan.
Kenyataan yang tidak bisa diingkari adalah bahwa kita bagian dari
masa lalu, kita juga adalah kita yang sekarang, dan kita akan menghadapi masa
depan. Atas keyakinan seperti ini, kenyataan yang dihadapi dan tidak menentu,
kecuali dihadapi dengan sabar. Sabar dalam menghadapi ujian masa lalu, sekarang
dan akan datang. Upaya sabar melipat-gandakan pahala, bahkan tidak terbatas,
dan berbuah surga.
Bila dibicarakan dan dikisahkan tiga dimensi waktu tersebut,
dahulu, kini dan akan datang tidak sampai 15 menit, artinya begitulah tamsil
kehidupan dunia yang hanya ada satu kata yaitu singkat. Sebanyak apapun
kebaikan kita, pasti dilupakan orang. Hanya ada satu yang tidak pernah
melupakan kebaikan, Dialah Allah.
Demikian pula kejahatan, belum ada yang bisa melupakan secara total
dari semua makhluk-Nya, kecuali Allah. Manusia sangat mudah untuk melupakan
kebaikan orang lain padanya, kecuali Allah. Sebab Allah pencipta manusia, Dia
tahu tentang keadaan hamba-Nya yang dahulu, sekarang dan akan datang. Dialah
Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Dia maha pengasih maha penyayang. Tidak
ada sekutu bagi-Nya, maha hidup kekal abadi, Dia yang menghidupkan dan
mematikan, dan Dia berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Adapun tentang suratan takdir sudah Dia tentukan pula. Bukan-kah
kita tinggal menjalani proses, namun hasil tidak ada seorang pun yang tahu. Bahkan
tidak ada seorang-pun di bumi dan di langit mampu menentukan nasib mereka,
sehingga surga dan neraka tidak dapat dipastikan untuk diri seseorang dan diri
orang lain. Melainkan hanya berpasrah-diri saja. Apa yang dipasrahkan adalah
apa yang telah dijalani, sedang dijalani, akan dijalani, itulah takdir.
Oleh sebab Tuhan tidak mau manusia larut dengan kenikmatan di
dunia, lantas dibuatkan dunia untuk manusia bersifat sementara. Dia putus
seluruh kelezatan dengan kematian. Dia ciptakan surga dalam waktu yang lama,
kekal didalamnya. Demikianlah pula musibah,
bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, sudah Dia siapkan benteng
yang tangguh untuk mereka, doa Nabi Yunus 'alaihissalam.
Selain doa Nabi Yunus, Allahu Subhanahu wa Ta'ala persiapkan doa
Nabi Ayub, Nabi Yakub, Nabi Yusuf, semua doa adalah perisai Allahu Subhanahu wa
Ta'ala yang bisa dipergunakan seperti tameng dan benteng. Sungguh siapa yang
masuk ke dalam benteng Tuhan Allah pasti selamat.
Sebelum kewafatan seseorang niscaya Tuhan akan penuhi perjanjian
yang telah dibuat dengan Tuhan sejak masa azali, tertulis pada diri
masing-masing, kemudian kenapa kamu ragu? Bahwa telah ada dalam kitab induk
tentang:
- Rezeki.
- Jodoh atau pertemuan dan perpisahan.
- Kebahagiaan dan kesengsaraan.
- Kematian.
Tuhan penuhi janji sesuai dengan ketetapan dan kadarnya, baru Allah
wafatkan seseorang. Artinya setiap orang terikat dengan takdir mereka
masing-masing (nafsi-nafsi). Dia bekerja dan mendapat rezeki hari ini untuknya,
demikian takdir yang sudah tertulis. Dia bertemu dan berpisah dengan seseorang
demikian takdir waktu yang telah sampai batasnya. Dia merasakan kebahagiaan dan
kesengsaraan yang meliputi kehidupan sampai wafat dalam pergiliran waktu lapang
dan sempit, waktu sehat dan sakit adalah titah perintah takdir Tuhan yang tidak
bisa dibantah. Demikian pula, setiap kehidupan pasti terdapat kematian, takdir
setiap orang berbeda, namun semuanya bersifat sementara.
Hampir bersamaan dengan takdir kemenangan dan kekalahan, kelapangan
dan kesempitan, kebahagiaan dan kesengsaraan. Keduanya ibarat dua sisi mata
uang, dalam kesempitan terdapat kesempatan, dalam kesusahan terdapat kemudahan.
Tuhan pergilirkan diantara hamba-Nya, disitulah letak ujian taat atau maksiat.
Dalam taat terdapat musibah yang satu frekuensi dengan maksiat. Dalam untaian
nikmat terdapat musibah, dan dalam gulungan bala' adalah musibah (ujian). Empat
item yang setiap hari kita temui, hadir bagi siapa-pun dan tidak terkecuali
untuk siapa-pun.
Sejak 1.400 tahun yang lalu, Allah telah menggembirakan rasa optimis di kalangan umat muslim bahwa umat pilihan yang tinggi adalah dengan beriman, ayat-ayat yang menghibur nabi dari kesedihan hati dan kelemahan semangat. Pernyataan bahwa umat pilihan pasti akan menang, janji keadilan Tuhan pasti terlaksana dalam bentuk simulasi kekalahan dan kemenangan pada kapasitas yang sama. Perbedaannya terletak pada modal spiritual berupa ketahanan mental. Allah jelaskan: "Dan janganlah kamu merasa lemah semangat, dan jangan kamu bersedih hati, dan kamu adalah yang paling tinggi, jika kamu beriman. Jika kamu mendapat luka, maka mereka-pun mendapat luka yang serupa. Masa itu dipergilirkan diantara manusia. Agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan menjadikan sebagian mereka gugur (syahid). Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang aniaya. Dan untuk Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa), dan membinasakan orang-orang yang ingkar." (Ali Imran:139-141).
Rambu-rambunya adalah haram hukumnya lari dari arena tarung kehidupan dengan cara membunuh diri dan berdosa besar karena lari dari peperangan. Kecuali untuk mengatur strategi dan taktik, atau bergabung dengan kekuatan yang lebih besar, landasan theologis inilah yang menjiwai para pejuang tanah Nusantara, Indonesia Raya. Sehingga bambu runcing bisa mengusir penjajah Belanda dan Jepang dari bumi dan langit ibu pertiwi. Sebab kuasa-Nya, Dia turunkan kekuatan kepada bangsa ini dan kepada rakyat Indonesia. Al-Quran (Al-Anfal:17) menjadi keyakinan para pejuang kemerdekaan Indonesia, bukan kamu yang melemparkan ketika melempar, melainkan Allah yang melempar. Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar