MENELADANI AKHLAK ALLAH MELALUI SIFAT AS-SATTAR DAN AL-GHAFFAR
MENELADANI AKHLAK ALLAH MELALUI SIFAT AS-SATTAR DAN AL-GHAFFAR
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
MENYEMBUNYIKAN aib dan mengampuni kesalahan orang lain merupakan
akhlak terpuji dan mulia. Tahukah bahwa pemilik akhlak tersebut adalah Tuhan
Allah yang bersifat As-Sattar yaitu senantiasa menutupi aib hamba-Nya.
Al-Ghaffar yaitu senantiasa mengampuni dosa-dosa. Setiap kali hamba-Nya
berdosa, sifat As-Sattar yang terbit pertama kali. Ibarat tirai penutup
sehingga manusia merasa aman, terlindungi ketika berbuat dosa. Dalam arti, dosa
tidak memberi tanda fisik yang mudah dikenali. Bila setiap kali berbuat dosa,
misal menanda kekotoran pada fisik. Pasti semua orang akan jijik bergaul dengan
para pendosa. Tirai-tirai As-Sattar labuh menutupi aib, sehingga Dia tidak
mempermalukan pendosa di khalayak ramai. Tanyakan di hati, adakah Tuhan sebaik
Dia?
Allah Al-Ghaffar sang pengampun yang selalu mengampuni. Setiap kali
jatuh ke dalam lumpur dosa, Dia angkat dengan membimbing hamba-Nya untuk
bertobat, menyesal dari perbuatan dosa. Tidak lagi mengulanginya seumur hidup,
ber-azam sepanjang masa untuk berbuat baik sampai akhir hayat. Hijrah
meninggalkan pergaulan yang melupakan Allah, berganti dengan pergaulan dan
lingkungan sehat yang mengajak ke jalan-Nya. Sungguh tangisan tobat dari penyesalan
seorang ahli maksiat lebih dicintai Allah daripada kesombongan ahli taat.
Allah As-Sattar dan Al-Ghaffar diam-diam menyembunyikan aib para
pendosa dalam naung kasih beserta lindung sayang-Nya. Mengapa manusia dengan
mudah mengupload dosanya di media sosial (medsos)? Medsos bagi masyarakat yang hidup di era
transformasi digital kini adalah forum atau majelis sedunia yang dapat diakses
oleh banyak orang, tanpa sekat geografis dan tanpa pembatas teritorial. Karena
warga dunia terhubung satu sama lain dalam jaringan internet. Sebuah rekam
jejak digital yang tidak pernah hapus, tersimpan di memori besar jagad maya
(big-date).
Disuruh berakhlak seperti akhlak Allah Ta'ala dalam batas
kemanusiaan, meskipun sedikit merupakan ciri pencinta Allah. Karena meniru
akhlak-Nya dalam teori dan praktik hidup sehari-hari menjadi idaman kaum
beriman. Dalam hal ini, banyak mengampuni adalah solusi tepat saat ongkos
kehidupan terasa berat. Apa yang dilakukan adalah memangkas seremonial yang
tidak perlu. Bila tidak memaafkan, selain menyisakan dendam berkepanjangan,
juga menyimpan sakit hati. Dendam dan sakit hati seperti embrio yang
menumbuhkan benih penyakit fisik. Penyebab penyakit fisik dapat disebabkan oleh
problem psikhis (psiko-somatik). Terapi mengampuni dan memaafkan menjadi sumber
penyembuhan dari penyakit jasmani dan rohani.
Serius ketika siapa yang sanggup mengimani lalu meneladani
sifat-Nya Al-Ghaffar. Sungguh Al-Ghaffar akan menyediakan surga dan dengan
hormat mempersilahkan memasukinya tanpa hisab. Demikian juga kegunaan di dunia
dan akhirat bagi orang yang meneladani sifat As-Sattar. Spektakuler tatkala
Tuhan menutup aib hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Dengan catatan, selama
hamba menutup aib dan cela hamba-Nya di dunia. Atau Tuhan tetap menolong
hamba-Nya, selama hamba menolong sesamanya. Prinsip saling mengerti dan saling
memahami yang melahirkan aksi kemanusiaan.
Karena yang sanggup mengampuni tanpa syarat masih sangat langka.
Menolong ikhlas tanpa tanya masih jarang terjadi. Sehingga kedua sifat ini,
tetap berkelas dan teratas di balantika moral, etik dan adab. Masih adakah
sifat manusia ikhlas dan gemar mengampuni? Namun di era transformasi digital,
kedua sifat mulia tadi sudah sangat sulit ditemukan. Ketika banyak manusia
berorientasi pamrih atas jasa baik yang diberikan, atau berorientasi materi
ketika layanan dihadirkan.
Konsep langit ketuhanan di atas yaitu As-Sattar dan Al-Ghaffar,
sanggup membumi menjadi praktik kemanusiaan. Misal, berbuat tanpa pamrih
(ikhlas) hari ini, masih bernilai mahal. Belum mengalami inflasi seperti nilai
mata uang rupiah yang anjlok di tengah mata uang negara-negara di dunia.
Meneladani Tuhan berbukti kasih-Nya yang tidak pernah membedakan status dan
profesi. Fakta sayang-Nya tulus tanpa meminta imbalan.
Ibarat diri bercermin, demikian juga yang dirasakan oleh diri yang
lain. Jika diri mencubit rasanya sakit, maka jangan cubit diri yang lain. Jika
menghormati diri bermartabat, maka hormatilah diri yang lain.
Oleh sebab itu, tujuan agama dihadirkan guna menyedikitkan beban
(taqlilut-takalif), kemaslahatan umum (maslahah 'ammah), menghilangkan
kesulitan ('adamul-haraj). Bila pengamalan agama belum membuat penganutnya
ceria, berarti agama yang diamalkan belum fungsional dalam mewujudkan cita-cita
kebahagiaan dunia, kebahagiaan akhirat. Sebab cahaya beragama harus tampak dari
perilaku umat yang lebih memilih memudahkan (yusra) dalam setiap urusan
daripada memilih yang menyulitkan ('usra). Sejalan dengan cita-cita Tuhan yang
menghendaki kemudahan bagimu. Dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagimu.
Kemudian, Dia tidak membebani setiap jiwa, kecuali sesuai dengan
kesanggupannya. Sungguh, Dia sangat banyak memaafkan. Wallahu a'lamu
bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar