RENUNGAN DIRI DAN PEMBELAJARAN HATI SEBELUM TIBA HARI PERHITUNGAN
RENUNGAN DIRI DAN PEMBELAJARAN HATI SEBELUM TIBA HARI PERHITUNGAN
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
TIDAK ada orang yang sungguh-sungguh menyayangi kita kecuali Allah,
meskipun sahabat dekat. Banyak rahasia yang ditutup, banyak aib yang
disembunyikan, ketakutan yang disimpan,
pemberi harapan tapi palsu. Namun ada yang tidak menutup rahasia, supaya
dikenali. Ada yang tidak menyembunyikan aib, supaya selalu memperbaiki diri.
Ada yang ingin membuang ketakutan, lalu mendatangkan keselamatan, keamanan,
kesejahteraan. Ada yang memberikan harapan pasti, bukan iming-iming janji yang
akhirnya didustai. Kenalilah Dia yang tidak pernah berkhianat kepada-mu.
Sewaktu Dia telah memberi separuh nafas-Nya kepadamu. Jangan
khianati Dia, jangan sakiti Dia. Tapi bagaimana tidak, kadang salat menjadi
lambang pengkhianatan saat tidak direnungi makna dan tujuan. Berawal dari
ketidak-pahaman makna bacaan dan gerakan. Bukan berarti salat itu salah. Namun
sudahkah memulai untuk belajar mengerti arti bacaan dan gerakan. Supaya salat
tidak sebatas ibadah kosong tanpa ilmu. Perantara ilmu ialah perkataan dan
perbuatan yang disadari karena kedalaman makna. Sampai di sini, sudahkah salat
sanggup memberi kesadaran? Bukan banyaknya jumlah rakaat salat, atau seberapa
lama berdiri, rukuk, i'tidal, sujud, duduk dan salam? Tapi seberapa jauh sudah
kaki melangkah untuk memahami salat, bukan sebatas kaifiyat, juga harus
mencakup manfaat?
Sudahkah dirasakan bahwa salat seperti rekreasi jiwa sang Rasul.
Hati yang panas karena api, asap dan debu jalanan terasa disiram oleh air
dingin zam-zam yang mengalir tiada henti. Karena sumbernya dari telaga Nabi.
Bukti kebesaran Tuhan tampak di saat salat (munajat), dan di luar salat
(musafahat). Munajat adalah permintaan, permohonan (wirid). Sedangkan musafahat
adalah kemudahan, kelapangan, keceriaan, karunia, anugerah (warid). Fakta salat
diterima mengambil bentuk ketika dirimu ceria. Sebab telah selesai masalah
dirimu dengan dirimu, dan dirimu sudah usai dengan urusan lingkungan. Tiada
pertanyaan dan jawaban. Karena jika engkau bertanya, boleh jadi pertanyaan yang
salah, bukan jawaban. Bagi yang sudah mengerti pertanyaan dan jawaban ada di
dalam diri, bahagiakan hamba-hambaKu dengan ampunan dan pahala yang agung.
Tugas wahyu diturunkan untuk membuang beban. Alquran dibacakan
supaya hati jinak dengan Tuhan. Karena Tuhan sumber kebahagiaan. Maksudnya,
hati yang jinak dengan-Nya memantik ketenangan dan kedamaian. Tenang dan damai
undangan bagi keselamatan dalam agama, afiyat dalam jasad, tambahan ilmu,
rezeki yang berkah. Redaksi doa selamat, namun luput untuk dimaknai.
Sebaliknya, hati yang liar dari Allah akan membahayakan dunia dan
akhirat hingga mengancam agama seseorang ketika jasad akan berpisah dengan roh
(suul khatimah). Hati yang jauh dari Allah, tidak akan pernah menemukan solusi.
Jikapun menemukan, pasti tidak berkah. Bukti hati yang liar dari Allah, ketika
hati tidak lagi sanggup memetik manfaat dari banyak nasehat. Padahal agama
itulah nasehat.
Karena itu, hidayah-Nya turun di hati yang lembut dan berperangai
santun. Bukan di hati kasar dan berperangai angkuh. Siapkan wadah hati yang
luas untuk menerima hidayah-Nya. Bukan karena keturunan dan kekayaan. Tuhan
tidak memberi hidayah kepada Kan'an, putera Nabi Nuh Najiyullah. Tuhan tidak
berkenan melimpahkan hidayah kepada Azar, ayahnda dari Nabi Ibrahim Khalilullah.
Tuhan menutup tangan ampunan-Nya kepada Abu Thalib, Abu Lahab. Meskipun
keduanya adalah pamanda Rasulullah Muhammad Habibullah.
Jangan sampai ibadah yang dikerjakan justru mengeraskan hati dan
mengangkuhkan diri. Ibadah yang demikian membuat jarak semakin jauh dari
hadirat kasih-Nya. Ibadah yang menipu dapat membuat perbedaan bahwa diri sudah
lebih mulia daripada orang lain. Cacat dan cela ibadah bukan dari syarat dan
rukun syariat. Tapi dari sisi hati yang sudah merasa cukup, sempurna dan
istimewa.
Jebakan dosa juga sanggup membuat seseorang acuh terhadap
lingkungan. Hari ini menunjukkan, betapa banyak orang tua yang mengambil sikap
diam. Bukan karena tidak mau menasehati. Sudah sering kali orang tua
menasehati, tapi direspon dengan kasar. Bahkan ancaman pembunuhan.
Untuk saat sekarang, sebaiknya setiap diri menghitung dirinya
sebelum dihitung pada hari persidangan di Mahkamah Tuhan yang adil. Tunaikan
amanah sebatas kemampuan. Jangan memaksakan kehendak di luar batas kesanggupan
menanggung beban. Sebab setiap orang memiliki kalung takdir masing-masing.
Buang rasa khawatir karena diri sedang berjalan di dalam pagar takdir. Di
langit telah tercatat rezekimu, rezeki orang lain dan apa-apa yang dijanjikan.
Jangan lupa, setiap orang menempuh jalan yang berbeda ketika menuju Tuhannya.
Bisa dengan jalan taat atau maksiat, nikmat atau bala'. Wallahu a'lamu
bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar