SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR
SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN
GURU HAJI IBRAHIM BASIR
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
MASYARAKAT Pontianak, Kubu Raya, Mempawah dan sekitarnya, tentu
pernah mendengar nama Tuan Guru Haji Ibrahim bin Haji Basir. Bukan sebatas nama,
tapi perjuangan beliau yang tak kalah penting dalam ikut merebut dan mengisi
kemerdekaan. Terutama kiprah di bidang pendidikan Islam, sosial dan dakwah
santun, harmoni saling asah, asih dan asuh.
Jejak ulama Guru Haji Ibrahim yang akrab dipanggil Guru Braem tidak
terlepas dari peran utama Guru Haji Ismail Mundu bin Daeng Haji Abdul Karim.
Seakan kedua nama mereka tidak terpisah. Bukan sebatas hubungan guru-murid.
Namun lebih daripada itu, hubungan orang tua dengan anak yang paling disayangi.
Guru Ibrahim inilah yang terus melanjutkan cita-cita Guru Haji Ismail Mundu di
kawasan yang pernah dirintis. Dalam rangka menyebarkan ajaran dan mengembangkan
sayap dakwah. Membuka lahan dakwah baru wilayah Sungai Ambawang dan sekitar,
tepatnya di Desa Durian. Mengikuti jejak guru dalam pemikiran, perjuangan dan
kiprahnya. Kesatuan tiga ajaran yang tak terpisah, tauhid, fikih dan tasawuf.
Tauhid mengajarkan keesaan Allah, fikih memuat hukum dan tasawuf mengedepankan
adab dan akhlak. Akhlak kepada Allah, manusia dan alam semesta. Beliau juga
mengajar Alquran di semua elemen masyarakat.
Peringatan satu abad Masjid Miftahurridha wilayah Desa Durian
Kecamatan Sungai Ambawang menjadi saksi bisu perjuangan Guru Haji Ibrahim bin
Haji Basir, dirangkai dengan acara maulid dan haul Tuan Guru. Kita juga bisa
menyaksikan, selain peninggalan bersejarah dari beliau berupa karya tulis,
rumah dan madrasah. Keluarga, keturunan dan murid beliau merupakan saksi hidup
yang bisa menjelaskan kiprah perjuangan berbasis adab, kasih sayang dan cinta
tulus yang sanggup menembus sekat dan melintas batas agama, suku, ras dan antar
golongan. Padang Tikar, Teluk Pakedai, sepanjang tepian Sungai Ambawang
merupakan rute dakwah beliau, disamping sebagai narasumber yang sering diundang
untuk memberi jalan keluar atas persoalan umat dan masyarakat. Beliau selalu
menggunakan bahasa adab, cinta dan pendekatan kearifan lokal dalam bicara.
Nasehat yang santun tanpa menyakiti. Kesadaran yang tumbuh karena kekuatan
sandaran spiritual beliau kepada Allah SWT. Sehingga setiap nasehat darinya
adalah sentuhan batin yang sanggup menyejukkan hati dan menyirami jiwa yang
lagi remuk dirundung-lara. Multi talenta yang dianugerahkan Tuhan padanya,
membuat umat semakin cinta kepada sang Guru sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Ibarat beliau menjadi bahu untuk bersandar, menjadi sahabat setia di kala
lapang dan sempit. Mendahulukan
kepentingan umat daripada kepentingan pribadi dan golongan. Demikian selayaknya
akhlak ulama yang telah beliau contohkan.
Dari beberapa sumber terpercaya, beliau juga sering mengobati orang
sakit. Tatkala dokter dan tenaga medis masih sangat langka untuk dijumpai.
Mengingat masa hidup Guru Haji Ibrahim bin Haji Basir (lahir: Medan Sri, Padang
Tikar, 1902, wafat: Pontianak, 1988), masa dimana guru, dokter dan profesi lain
masih langka di Indonesia, terlebih di Pontianak dan sekitar. Sehingga
kehadiran beliau sangat dinanti masyarakat, sebagai guru dan dokter.
Banyak
petuah bestari yang hingga detik ini, masih hidup di hati keluarga, para murid,
muhibbin, sejarawan, pemerhati dan peneliti, untuk selalu diamalkan. Seperti
manaqib yang dibacakan oleh Dr. Lukmanul Hakim, M.S.I yang bersumber dari
puteri tunggal Guru Haji Ibrahim, Umi Hajjah Halbani.
Diantara petuah ujaran berhikmah beliau adalah: "Berilah minum
orang yang datang ketika aku masih hidup atau yang berziarah ke kuburku ketika
aku telah wafat. Apabila sampai waktu makan, berilah mereka makan. Karena
mereka adalah tamuku." Sifat kasih sayang sangat menonjol pada diri Guru
Haji Ibrahim. Terbukti dalam keterangan manaqib, beliau menyediakan 10 kg beras
setiap hari beserta menu lauk-pauk beragam. Tanpa membedakan latar belakang,
setiap tamu tidak akan keluar dari rumah Tuan Guru kecuali dalam keadaan
kenyang.
Sifat peduli, ramah, pemurah, pengasih lagi penyayang, ikhlas
memberi tanpa ungkitan. Faktanya, rumah Tuan Guru selain sebagai madrasah
tempat belajar-mengajar. Tempat menerima tamu, menjadi rumah singgah musafir,
majelis taklim dengan menyediakan ruang dan waktu bagi ulama yang baru datang
ke Pontianak untuk menyampaikan ceramah agama, seperti Habib Ridha bin Yahya
dari Surabaya, Syekh Ramadan dari Sudan. Beliau juga menerima sebanyak 60 jiwa
yang harus diselamatkan sebagai anak asuh, terbanyak dari anak Tionghoa. Tuan
Guru adalah orang tua asuh bagi keluarga miskin, bayi terlantar, anak terbuang,
berstatus yatim-piatu. Tuan Guru telah meyakini, menghidupkan satu jiwa
manusia, sama dengan menghidupkan semua manusia. Akhirnya setiap hari, Tuhan
jadikan rumah Tuan Guru selalu dikunjungi oleh pejabat dan rakyat, orang kaya
dan orang miskin. Mereka bertandang meminta nasehat dari sang Maestro.
Kepribadian mulia dari beliau ialah tidak pernah meminta upah atas
ilmu yang diberikan, beliau tidak meminta jasa atas layanan dan konsultasi.
Meskipun orang-orang jauh datang untuk belajar dan berobat tetap beliau layani,
membuat namanya gilang-gemilang . Tidak sedikit yang bermalam di rumah beliau.
Beliau sediakan jaminan makanan dan minuman gratis, serta tempat istirahat yang
nyaman. Gurunda ibarat sang surya menyinari dunia. Hanya memberi tak harap
kembali. Sifat pemurah tersebut terinspirasi dari kitab pertama yang beliau
ajarkan kepada semua murid. Kitab yang bernama: "Adabul- Insan" (Adab
kepada Manusia). Guru mengajarkan, baguskan adabmu kepada manusia. Niscaya
Allah Ta'ala akan mencukupimu. Bersyukurlah kepada manusia, pasti Allah Ta'ala
akan bersyukur kepadamu. Sayangi apa yang ada di bumi, niscaya yang di langit
pasti menyayangimu. Cinta tulus dan kasih Tuhan Allah akan selalu tercurah bagi
jiwa pengasih dan penyayang. Sebaliknya, orang yang tidak menyayangi, pasti
tidak disayangi. Rasulullah panutan sang Guru pernah bersabda: "Tidak
sempurna iman seseorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya seperti
ia mencintai dirinya sendiri (Hadis Riwayat Muslim)."
Peringatan Satu Abad Masjid Miftahurridha sudah dilaksanakan,
Sungai Ambawang, Ahad, 30 Agustus 2026. Ucapan tahniah dan selamat kepada
panitia beserta segenap jajaran. Apresiasi yang setinggi-tingginya, salam
hormat dihaturkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya yang telah
menghadiri acara Satu Abad Peringatan Masjid Miftahurridha yang telah didirikan
oleh Guru Haji Ibrahim beserta ayahnda Guru Haji Basir bin Haji Tahir di tahun
1925. Selanjutnya, PEMDA KKR mendaulat Masjid Miftahurridha sebagai cagar
budaya sejak tahun 2022. Suasana asri di tepian sungai Ambawang, terdapat
tempat ibadah dan pusara sang-Mursyid, dapat dijadikan destinasi wisata religi
lokal dan mancanegara. Semoga generasi milenial mampu mensuri-tauladani
nilai-nilai kebaikan universal dari putera terbaik bangsa, Tuan Guru Haji
Ibrahim bin Haji Basir yang melegenda di hati umat dan menginspirasi karena
kemurahan, kasih, sayang, damai dan ajaran agama tentang cinta. Kepedulian
tulus, sejahtera dan pemberian tanpa pamrih yang beliau titipkan. Menjadi pesan
moral berharga kepada semua lapisan masyarakat dari generasi ke generasi.

Komentar
Posting Komentar