WAJAH YANG TIDAK ASING



WAJAH YANG TIDAK ASING

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

Bagi para sufi, pandangannya terhadap makhluk tidak bisa terlepas dari pandangan-Nya kepada yang esa. Dimana saja kamu berada, pasti engkau dapati wajah Allah Swt. Sebuah hakikat syahadat yang sekali diikrarkan dengan lisan, dibenarkan oleh hati dan dibuktikan berupa amal perbuatan, itulah pengertian iman. Artinya, setelah syahadat (kemanapun seorang pergi) pasti yang dijumpai adalah ayat-ayat (tanda-tanda) berupa materi alam semesta. Orang yang mengenal Allah, sungguh Allah hadir disebalik materi tersebut (the subject beyond matter). Bukan jasad, tapi disebalik jasad, bukan hati, tapi disebalik hati, bukan roh, tapi disebalik roh. Dialah Tuhan Allah yang menghidupkan, mematikan dan kepada-Nya semua dikembalikan. Dengan-Nya kita berilmu, hidup, kuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan berbicara. Dengan-Nya kita berdaya-upaya. Karena tidak ada daya dan upaya, kecuali selalu bersama-Nya. Runtuh langit bila tidak ditopang Tuhan. Hanyut bumi bila tidak ditahan oleh-Nya.

Dimanakah hidupnya makhluk, jika bukan Tuhan yang menghidupkan. Artinya, di dalam kehidupan makhluk, ada khalik yang maha hidup. Hidup bukan berdiri sendiri, namun ada Tuhan yang menghidupkan, sehingga bila sampai ajal yang sudah Dia tetapkan, Dia matikan yang hidup. Atau  sebaliknya, bila tiba kelahiran seseorang. Dia menghidupkan yang mati  (lahir), dan Dia juga berkuasa mematikan yang hidup (wafat). Seperti Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia memuliakan orang yang Dia kehendaki. Dia menghinakan orang yang Dia kehendaki. Di sisi-Nya seluruh kebaikan dan Dia berkuasa atas tiap-tiap sesuatu. Lalu memandanglah kepada yang hidup sebenarnya adalah kehidupan yang diberikan oleh Allah Swt. Demikian sesungguhnya seseorang tidak terhijab pandangannya dari Allah Swt karena kehadiran manusia atau kehidupan makhluk. Karena yang hidup, dalam arti yang menghidupkan dan dihidupkan ialah Dia juga. Maha esa dalam penciptaan dan penghadiran. Apakah berita ini telah sampai kepadamu? Berhati-hatilah dalam berucap dan bersikap karena pandangan sudah terbuka dari ketertutupan materi dunia. Misteri alam semesta yang berabad-abad belum terpecahkan.

Berpenghidupan dan berpengetahuan adalah milik Allah semata. Telah Dia tegaskan: "Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah:216)." Bahwa wujud yang mengetahui ialah Allah, lalu Dia amanahkan kepada roh, bentuk jasadnya ialah otak yang berdaya pikir. Apabila seseorang sudah memiliki pandangan rohani yang bercahaya (nurul-bashirah). Tertampaklah baginya wujud Allah yang memikirkan dan dipikirkan sebagai level tertinggi dalam tafakkur, tadabbur dan tadzakkur. Tiga level amaliah batin makrifat yang mengantar kepada pelepasan diri majazi kepada diri hakiki (jalan kembali pulang). Jalan keputusan menuju penyatuan dalam celupan warna Allah (sibghatallah). "Celupan Allah, dan siapakah orang yang lebih baik daripada mendapat celupan Allah. Dan hanya kepada-Nya kami menyembah. (Al-Baqarah:138)."

Sangat berbahaya jika pandangan warna di dunia mengandung banyak wajah, sehingga terlupakan satu wajah. Awal mula pembelajaran mengenal wajah ialah wajah ibu, lalu wajah ayah, wajah guru, wajah saudara dan wajah banyak orang. Kondisi sebelum mengenal-Nya, sangat berbeda ketika setelah mengenal wajah-Nya yang esa. Sungguh Allah merupakan sejati wajah dalam versi kebenaran pandangan (haqqul-bashirah) yaitu pernyataan: Aku memandang Allah sebelum sesuatu. Sesuatu dapat diartikan alam semesta. Aku memandang Allah setelah sesuatu. Aku memandang Allah selalu bersama sesuatu. Aku memandang Allah di dalam sesuatu. Orang yang memandang alam adalah alam, itulah pandangan orang-orang syariat. Orang yang memandang alam adalah Allah, itulah pandangan orang-orang hakikat. Orang yang memandang alam tidak bisa hidup tanpa dihidupkan oleh Allah, itulah pandangan orang-orang makrifat. Hidup si-hamba dalam pengawasan Allah saja. Namun juga menghormati aturan pengawasan yang dibuat manusia. Dengan kata lain, siapa yang bersyukur kepada manusia adalah sama dengan bersyukur kepada Allah. Karena Allah wujud mutlak yang menguasai setiap wujud makhluk yang nisbi, relatif dan temporal. Sebaliknya, siapa yang menganiaya makhluk, niscaya ia menganiaya khalik. Sebab, kehidupan makhluk dalam waktu satu detik-pun tidak bisa terlepas dari khalik. Tidak bisa terlepas dari pengetahuan, penjagaan, pemeliharaan, penglihatan dan pendengaran Allah Swt. Allah Swt adalah wujud mutlak yang berilmu-pengetahuan. Satu detik Allah membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk dari-Nya. Pasti orang tersebut akan buta. Dalam arti buta hati tanpa mengenal jalan kebaikan dan keburukan. Tersesat ketika datang dan tidak mengerti jalan pulang. Karena hidayatullah (petunjuk Allah) bukan disebabkan oleh faktor kedekatan, keturunan, kekayaan, kejayaan, ilmu pengetahuan dan kepangkatan. Tapi petunjuk berasal dari sisi Allah Swt yang mutlak anugerah-Nya lagi pasti.

Dengan catatan, selama seseorang menghidupkan Allah yang ada di dalam jiwa, bukan di luar jiwa. Jika manusia berharap kepada-Ku, maka Aku mengabulkan harap dan pinta mereka dengan sempurna. Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku ijabah. Sekarang dan detik ini pula, di sini. Bahkan lebih cepat yaitu ketika berkemampuan untuk berdoa diperkenan. Karena doa adalah karunia kebaikan terbesar di dunia. Berobatlah ketika sakit, sebab Aku yang menyembuhkan. Belajarlah saat tidak tahu, karena Aku yang mengajarkan ilmu dan adab. Jika aku (manusia) lapar, maka Dia yang menghilangkan rasa lapar. Dia yang mengenyangkan dengan perantara makanan dari manusia. Bila aku haus, sungguh Dia yang menghilangkan rasa haus dengan pemberian minuman dari manusia. Pendapat yang telah disampaikan dan disepakati oleh ahli makrifat dari kalangan Ahlussunnah (jumhur ulama). Namun Allah bisa berbuat melalui proses dan tanpa proses terhadap makhluk-Nya. Sebab dalam sifat jaiz Allah Ta'ala. Dia berbuat sekehendak-Nya tanpa ada yang sanggup menyuruh atau menahan kuasa dan kehendak-Nya.

Memuliakan ciptaan Allah sama artinya memuliakan sang-pencipta. Karena ada wajah Allah pada tiap-tiap sesuatu. Menghormati hasil kreasi-Nya senyawa dengan menghormati sang-kreator. Memudahkan urusan makhluk semakna dengan mudah berbisnis dengan-Nya. Bukan lagi sebatas "antara aku dan engkau." Tapi sudah menjadi rasaku adalah rasamu. Kesenanganku adalah kesenanganmu. Cintaku adalah cintamu, benciku adalah bencimu. Bukankah wujud kualitas tertinggi pada tataran kekasih? Ketika sudah tidak lagi sanggup membedakan banyak kehendak, kecuali hanya satu kehendak. Kata aku dan engkau telah disublimasi menjadi kata kita. Dan kata kita direduksi menjadi esa dalam jiwa dan raga. Inilah sebenarnya tauhid murni yang diajarkan secara turun-temurun (mutawattir) dari generasi ke generasi. Batasan tauhid murni adalah tauhid yang tidak tercampur dengan syirik (persekutuan) Tuhan dengan manusia. Meskipun manusia berperan, tapi bagi seseorang yang telah mengesakan Allah (muwahhidullah) sanggup menihilkan peran makhluk. Maksudnya, menghormati manusia, tapi jangan sampai menuhankan. Sungguh tegak lurus dan mewujud benar dalam realita ialah kenyataan perbuatan Allah Ta'ala. Simpul konsep yang diusung bernukil: La fa'ila illallah (tidak ada perbuatan kecuali perbuatan Allah). Wallahu a'lamu bish-shawab.

Materi kajian disampaikan edisi Jumat, 7 Agustus 2026. Pukul 19.30-21.30 Wiba. Dikediaman Abdus Solah Rido'i, S.Pd, M.Pd. Jl. Ujung Pandang Gg. Bala Arung Pontianak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI

AL BARKAH