HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH SWT DAN RASULULLAH SAW
HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH SWT DAN RASULULLAH SAW
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
BAGAIMANA supaya cinta kepada Allah SWT selalu lestari dan cinta
kepada Rasulullah SAW senantiasa hadir di hati? Karena cinta orang-orang yang
beriman adalah cinta yang sangat mendalam kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Telah sering ditulis dalam kitab-kitab Tasawuf mu'tabarah, tidak
ada wujud yang lebih dekat dan lekat dengan manusia kecuali Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Lalu, bagaimana cara menjelaskan kedekatan dan kemelekatan tersebut,
meskipun banyak ayat Alquran dan Hadis yang menyatakan kedekatan manusia dengan
kedua-Nya. Namun banyak yang belum memahami, belum menyadari. Disamping doktrin
bahwa manusia sebaik-baik bentuk kreasi Tuhan? Dikenal dalam kitab Tasawuf dari
abad ke abad, sungguh alam semesta tercipta dari nur Muhammad. Nur Muhammad
dari sir (rahasia) Allah SWT. Bila ini dipahami dengan benar, ketiga skuadron
yang tak terpisah, Allah, Muhammad, Adam (manusia). Terhimpun pada diri sejati
(Allah). Dalam firman: "Maka, kemanakah kamu akan lari? (fa-aina
tadzhabun). Jika seluruh yang kamu pandang adalah ayat atau peringatan dari
Allah dan Rasulullah untuk seluruh alam semesta. Bagi siapa yang menghendaki
jalan lurus. Dan tiadalah kehendak mereka, kecuali atas kehendak Allah, Tuhan
pemelihara semesta. (At-Takwir:26-29)."
Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak sempurna iman
seseorang diantara kamu, sehingga aku (Rasulullah SAW) lebih dicintainya
daripada hartanya, keluarganya dan semua manusia. (Hadis riwayat Muslim)."
Pertanyaan kemudian adalah, mungkinkah mencintai Rasulullah SAW melebihi
kecintaan kepada harta, keluarga dan seluruh manusia? Apabila Rasulullah SAW
yang wajib kita cintai melebihi segala yang ada. Sementara kita tidak pernah
duduk bersama dengan Rasulullah SAW. Jika iman kepada Rasulullah SAW. Lalu
menyayangi Rasulullah SAW melebihi semua makhluk. Sedangkan kita tidak pernah
mendapati baginda? Bila jawabannya bisa? Lantas bagaimana caranya? Pertanyaan
yang menantang dan sekaligus mengusik iman?
Literasi kali ini mengajak untuk berpikir. Sedekat apakah hamba
dengan Tuhannya? Kaedah yang terkenal dalam dunia batin hakikat yakni:
"Tuhan itu dekat, tapi Dia tidak berjarak. Tuhan itu jauh, tapi Dia tidak
berperantara." Bila Tuhan dekat, seberapa dekat? Maka bila Tuhan jauh,
seberapa jauh? Tuhan bukan bilangan, Tuhan bukan jarak, Tuhan bukan tempo.
Tuhan bukan irama. Mahasuci Allah dari berjarak. Mahasuci Allah dari
berperantara. Mahasuci Allah dari bertempo. Mahasuci Allah dari berirama.
Semakin eksistensi Allah SWT dijelaskan oleh manusia, semakin jauh dari
kemaha-benaran diri-Nya. Kecuali hanya kekurangan, kebodohan, kelemahan dan
kedangkalan manusia memahami-Nya. Tentang keluasan ilmu, keagungan kuasa dan
limpah curah kasih-Nya.
Artinya, Allah SWT tidak bisa dibatasi oleh bahasa. Bahasa hanya
akan mengurung rasa, atau bahkan sanggup membuang rasa. Terlebih rasa bertuhan
yang tidak bisa dijelaskan, kecuali dari diri untuk diri. Bertuhan pada fokus
diri dalam, bukan pada fokus diri luar. Memang sulit untuk dipahami orang lain.
Namun tidak asing untuk dirasai oleh diri sendiri. Karena rasa adalah diri
rahasia. Rahasia (sir) adalah inti amal bagi orang yang beramal kualitas saleh.
Dan rahasia (sir) adalah inti iman bagi orang yang beriman sahih.
Jamak ayat Alquran dan Hadis menyuruh manusia menaati Allah dan
Rasul-Nya. Adam lebur ke dalam Muhammad. Dan Muhammad lebur ke dalam Allah.
Tegak syahadat tauhid yang sesungguhnya: Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali
Allah. Bermakna tidak ada wujud kecuali wujud Allah. Tegak syahadat rasul: Dan
aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah. Bermakna jalan
yang paling selamat adalah dengan mengikuti sunah Rasulullah SAW. Sebab,
Muhammad Rasulullah adalah utusan resmi dari Allah.
Adam (umat) taat kepada Rasul Muhammad, dan Rasul Muhammad ingin
kembali kepada Tuhannya bersama umat. Ketiga konsep ini, wajib dipahami bagi
siapa yang ingin menempuh jalan lurus. Dalam bimbingan-Nya saat malam dan
siang, ketika kaya dan miskin, kala sehat dan sakit, lapang dan sempit, muda
dan tua, hidup dan mati. Sungguh yang Tuhan bimbing, dialah Muhammad
Rasulullah. Kewajiban sebagai umat Rasul ialah menjadikan kita sesifat dengan
Rasul. Sifat utama Rasul ialah jujur, amanah, penyampai kebenaran dengan ikhlas
dan cerdas. Sifat mulia tersebut bertumbuh pada setiap diri umat sejati.
Menjaga sifat Rasulullah SAW yang bertumbuh pada diri umat
merupakan metode untuk mencintai
Rasulullah SAW di atas kecintaan untuk memanjakan diri, mencari harta-benda dan
memenuhi hajat keluarga. Diri umat yang jujur sama dengan membinarkan cahaya
kejujuran Rasulullah sebagai wujud kecintaan kepada sang junjungan. Diri umat
yang amanah terhadap harta, tanggungjawab terhadap keluarga, menjaga
lahir-batin titipan jasadi dan ruhi, merupakan aksi kecintaan kepada Rasulullah
SAW. Diri umat yang ingin selamat dan menyelamatkan orang lain, bukankah ini
adalah diri rohani Rasulullah yang setia. Diri umat yang cerah dan mencerahkan,
diri umat yang cerdas dan mencerdaskan, adalah cara mencintai Rasulullah SAW di
atas segalanya. Tatkala hanya Rasulullah saja yang sanggup menuntun untuk
menjadi suri-tauladan, pembela, pendukung (patronase) di hadapan Tuhan pada
hari akhirat kelak. Ketaatan umat memantik dan mengundang syafaat dalam istilah
agama, merupakan bentuk pertalian cinta Rasul terhadap umat.
Keterangan agama diberikan supaya umat mengerti kepada siapa mereka
kembali setelah kematian. Jika kembali kepada diri yang terdiri, bukan saja
tidak sampai kepada-Nya. Justru semakin sesat, pekat, gelap, gulita, tersiksa.
Padahal jalan sudah terang-benderang. Mengapa mata menjadi buta? Mengapa
telinga menjadi tuli? Mengapa mulut menjadi bisu? Bukan mata yang buta, bukan
telinga yang tuli, bukan mulut yang bisu. Melainkan hati yang buta dari melihat
wujud Allah SWT. Hati yang tuli dari
mendengar bisikan-Nya. Hati yang bisu untuk bicara yang benar.
Sebagaimana telah difirmankan Tuhan dalam surah Qaf ayat 16: "Dan sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh
hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Sekira-kira ayat ini mengajar bahwa manusia bukan semata-mata makhluk dualitas
(jasmani dan rohani). Tapi lupa mencari sumber dari mana dia datang, untuk apa
dia dilahirkan dan dihadirkan sekarang, kemana dia akan pulang?
Tuntas sudah kajian agama, bila manusia sudah mengenal-Nya.
Pengenalan pada-Nya merupakan sumber akhlak, basis karakter, pondasi moral,
etika dan adab. Implikasi dari hancur diri terperi dan diri terdiri. Tegak,
teguh, berdiri keyakinan tidak ada yang dipertuhan dan dipertuan kecuali:
"Katakan (Muhammad), Dia Allah yang maha esa. Allah tempat meminta. Tidak
beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya.
(Al-Ikhlas:1-4)." Ayat ini, jangan sebatas dibaca tanpa dipahami. Jangan sekadar
ditulis tanpa dimaknai. Pesan terpenting dari empat ayat tentang keesaan Tuhan
yang agung ialah musnahkan diri manusia, hancurkan ego. Tegak lestari ego Tuhan
yang tunggal, esa, kuasa (itsbatullah). Itsbat kalimat tauhid di dunia dan di
akhirat! Wallahu a'lamu bish-shawab.
#Materi
disampaikan pada kajian Tauhidiyah Ahadiyah di rumah Bapak Haji Edi Wahdini.
Jumat, 2 Oktober 2026#

MaasyaAllah.... Tinggi sekali bahasa Tuan Guru.
BalasHapus