HIKMAH BERSYUKUR LANDASAN PEMANTIK BAHAGIA DUNIA-AKHIRAT

 


HIKMAH BERSYUKUR LANDASAN PEMANTIK BAHAGIA DUNIA-AKHIRAT

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

ETIMOLOGI syukur berasal dari kata syakara yang artinya terbuka. Syakara sebagai lawan kata (antonim) dari kafara. Jika syakara artinya terbuka, maka kafara artinya tertutup. Indikator orang yang selalu terbuka ialah mereka yang siap mendengar, sering menerima dan memberi informasi. Jenis informasi dunia dan berita akhirat. Lalu menyaringnya, mengikuti perkataan yang baik yaitu kalam Allah dan sabda Rasul. Sedangkan orang yang selalu tertutup ialah mereka yang menolak informasi dunia dan akhirat. Bahkan membuta-tulikan informasi. Informasi agung ialah hidayah (petunjuk) dari Tuhan. Adapun sumber ketertutupan adalah ego diri yang merasa lebih hebat daripada orang lain. Sehingga apapun informasi dari yang selain egonya berhukum haram untuk didengar, salah dan bid'ah untuk diikuti. Artinya, tidak ada orang yang benar di dunia ini, kecuali ego dirinya. Pada dirinya terdapat dinding yang menghalangi cahaya hidayah, tidak tembus ke hati. Ketika ia sudah melantik diri menjadi serba pandai, mendaulat diri serba tahu. Itulah awal kerusakan beragama. Karakter tertutup sangat berbeda dengan karakter terbuka. Open minded (pemikiran terbuka) merupakan capital bagi capaian prestasi dan kinerja maksimal.

Kufur dan takabbur ibarat dua saudara kandung yang saling mencukupi dan melengkapi. Maksudnya, orang yang kufur pasti takabbur, dan orang takabbur pasti kufur. Kufur terbagi atas dua, kufur ilhad dan kufur nikmat. Kufur ilhad menyangkut keyakinan. Tidak beriman kepada Allah, tidak meyakini keesaan, kehadiran, kekuasaan, keagungan, kemuliaan dan kebesaran-Nya. Sehingga dampak manusia takabbur yaitu merasa diri cukup mampu menjalani hidup tanpa Allah SWT. Sombong dengan merasa selalu hadir bukan dihadirkan, merasa kuat bukan dikuatkan, merasa kuasa, agung, mulia, pintar dan besar. Padahal semua itu hanyalah tipuan yang bermain di ranah ego (ilusi). Artinya, sifat kufur mengusung perilaku takabbur. Dan sifat takabbur mengusung perilaku kufur.

Terminologi syukur dapat diartikan berterimakasih. Maha berlimpah kasih adalah sifat dan akhlak Allah yang selalu berterimakasih kepada hamba-Nya (Asy-Syakur).  Siapa yang sering menerima kasih sesering itu pula ia harus memberi kasih. Bila setiap orang tahu bahwa makna pemberian adalah penerimaan, maka ia akan terhindar dari sifat kikir. Karena serta-merta pemberian tulus akan mengundang keberlimpahan yang banyak secara materi dan non materi seperti doa.

Jangan abaikan peran doa. Meskipun bacaan doa terkesan sepele. Namun doa yang terbit dari hati yang tulus, sanggup menembus langit. Pada hakikatnya, doa memohon kepada Allah SWT yang memiliki kekuatan tanpa batas. Dia berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Tidak ada satu kekuatan-pun yang sanggup menyuruh-Nya berbuat, bila Dia tidak berkehendak. Tidak ada satu kekuatan-pun yang sanggup menghentikan kehendak-Nya, bila Dia sudah berkehendak. Karena alam semesta hanya tunduk kepada takdir yang telah ditetapkan-Nya. Dalam kesyukuran mengandung kebahagiaan, dan dalam keingkaran mengandung kesengsaraan. Orang yang bersyukur akan berefek baik bagi diri dan lingkungan. Orang yang kufur akan berefek buruk bagi diri dan lingkungan.

Dampak teragung dan terbesar syukur dalam kehidupan adalah menghadirkan kehidupan paling harmoni. Karena bentuk rasa syukur ialah menimbang sebelum mengkritik. Meskipun kritik itu baik, tapi dapat merenggangkan hubungan meskipun tidak putus. Dalam persahabatan, meskipun kritik itu benar, apalagi di dalam forum (majelis). Hati kecil akan mengatakan "sebaiknya menghindar daripada nama tercemar." Posisi berkata yang baik atau diam merupakan dua pilihan yang paling tepat dalam situasi dan kondisi apapun. Boleh menegakkan aturan disiplin keras, tapi untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Urgensi memudahkan urusan orang lain dengan profesi yang diamanatkan. Dengan kata lain, menjadi pribadi solutif (problem solving), bukan pembuat problem (troublemaker). Perusuh, profokator, anarkis atau tautan kebijakan yang tidak berpihak terhadap kaum lemah.

Orang yang telah penuh rasa syukur, akan mudah menjalani kehidupan, pertemanan, persahabatan tulus tanpa kepentingan. Apa yang diperlukan dalam giat keseharian bukan agenda kritik atau mempersulit. Kritik baik-baik saja, tapi melindungi dengan kasih dan suri tauladan lebih baik lagi. Maknanya "jangan usil terhadap kadar dan takdir orang lain. Karena Al-Qadir hanya sifat kepemilikan Allah. Dosa besar tidak hanya meninggalkan salat. Justru merampas sifat Allah Al-Qadir (kuasa), Al-Jabbar (memaksa), Al-Muntaqim (menyiksa). Merampas himpunan sifat Jalal-Nya, merupakan dosa teramat besar ketika dipakaikan kepada tubuh manusia yang lemah serba terbatas (adzillah-karahah). Betapa banyak persahabatan yang terputus dan terkubur hanya karena satu atau dua kata yang menyakiti. Meskipun sudah dimaafkan, pasti ada bekas goresan luka di hati. Lukanya boleh sembuh, tapi bekas sayatan luka masih tetap terasa. Ingatlah, menasehati diri sendiri lebih sulit daripada menasehati orang lain. Mengkritik diri sendiri lebih payah daripada mengkritik orang lain. Jikapun apabila terpaksa menasehati orang lain, maka lakukanlah ibarat "menarik benang di hamparan tepung." Maknanya, hamparan tepung tidak rusak dan benang bisa ditarik. Berlaku syair Arab: "Jika pedang lukai tubuh, akan ada harapan sembuh. Jika lidah lukai hati, kemana obatkan dicari."

Bukti orang yang tidak bersyukur (kufur) ialah sering marah-marah. Dimatanya, semua manusia salah, yang benar hanya dirinya. Semua manusia buruk, yang baik hanya dirinya. Secara esensial, sungguh ia belum salat, walau ia merasa sudah salat. Salat yang dikerjakan oleh orang ego, hanya menyembah ego, bukan menyembah Allah SWT. Karena indikator diterima atau ditolaknya salat seseorang terletak pada akhlak hidup keseharian. Apakah termasuk ke dalam golongan akhlak terpuji (mahmudah) atau akhlak tercela (madzmumah)?

Endingnya, hikmah bersyukur sanggup menghadirkan surga (bahagia) dunia-akhirat. Sedangkan kufur sanggup menghadirkan neraka (sengsara) dunia-akhirat. Mereka yang bersyukur akan selalu menyerahkan dan mengembalikan problem hidup kepada-Nya, tanpa melepas tanggungjawab dan tanpa abai terhadap amanah Tuhan yang dititipkan kepadanya. Namun sebatas menjalankan amanah, bukan memaksa takdir untuk berpihak kepada kepentingan pribadi dan kehendak golongan. Semoga kekal berbahagia dengan cara bersyukur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI