HUTAN KALIMANTAN TERBAKAR TANPA BISA DIPADAMKAN

 



HUTAN KALIMANTAN TERBAKAR TANPA BISA DIPADAMKAN

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

PERNAH menembus 800 angka polusi udara berkategori sangat berbahaya. Bukan tidak beralasan, logika kebakaran hutan dan lahan se-Kalimantan menyebabkan sesak nafas, iritasi pada mata, tubuh lemah karena dehidrasi. Derita itu sedang dirasakan oleh penduduk pulau Kalimantan, bumi dan langit, flora dan fauna. Kapan akan berakhir?

Kini, sifat angkara murka sudah aktif bersimahraja-lela. Dari kalangan papan atas hingga bawah. Sebuah negeri, sudah sering Tuhan peringatkan orang-orang kaya untuk tunduk-patuh kepada-Nya, memerhatikan nasib kaum fakir-miskin. Tapi mereka malah berlomba-lomba menikmati dunia, berpoya-poya dengan dosa, berpesta-pora di atas penderitaan, kelaparan, kehausan "wong cilik." Mereka menggadaikan tulang, keringat, air mata, tenaga dan darah rakyat kecil. Ketika mereka sudah melampaui batas. Maka berlakulah kebenaran hukum Kami. Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, mereka tidak akan pernah mendapatkan seorang penolongpun selain Allah SWT.

Ekologi hukum semesta yang sudah ditentukan Tuhan akan selalu berdampak terhadap manusia (baca:  Ar-Rum ayat 41). "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat dari ulah tangan manusia. Untuk Kami rasakan sebagian dampak buruk dari perbuatan mereka. Agar mereka kembali (kepada kebenaran)."

Sebenarnya di Kalimantan sudah tidak ada lagi hutan. Sepanjang telusur satelit, hutan Kalimantan yang seharusnya menjadi poros jantung dan paru bumi telah diamputasi oleh tangan-tangan jahat. Pembalakan liar terhadap hutan yang tidak terkendali oleh  oknum pejabat dan pengusaha mengakibatkan hutan Kalimantan gundul. Karena sebagian besar area hutan Kalimantan sudah disulap menjadi kebun sawit. Lebih kurang dua dasawarsa lapisan elit menikmati hasilnya. Adapun sebagian kecil masyarakat berkebun sawit untuk bertahan hidup.

Mengingat topografi Kalimantan berasal dari delta yaitu rawa-rawa yang dibuat daratan untuk pemukiman penduduk dan perumahan. Niscaya struktur tanah yang berasal dari dedaunan, ranting patah, pohon tumbang, atau tumpukan sampah akan membentuk lapisan tanah "gambut." Pasti kondisi bawah tanah bersifat "lembek". Kecuali di permukaan yang seperti kelihatan kuat, seakan kelihatan kokoh. Padahal di bawah adalah tanah cair (anyau). Faktanya, seberapa panjang pondasi beton bertulang masuk ke dalam tanah Kalimantan, pasti "ditelan." Karena semakin ke bawah, semakin goyah, semakin labil. Struktur tanah bekas delta sangat berbahaya bagi bangunan tinggi. Sehingga untuk jangka waktu lama pasti beresiko (fatal). Faktor ini yang sejak dulu menyebabkan para pengusaha hotel "hengkang" dari bumi Kalimantan untuk tidak membangun hotel pencakar langit. Kecuali satu dasawarsa terakhir, banyak bangunan bertingkat menghiasi kota. Sekarang, pengusaha berlomba membangun bangunan tinggi di tanah yang asalnya delta.

Kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA) Kalimantan sudah  terjadi sejak awal Agustus 2026 sampai hari ini. Sebulan lebih rakyat hidup di musim kemarau. Dampak buruknya adalah kekurangan air bersih untuk MCK, polusi udara sampai di tingkat berbahaya, sesak nafas sangat terasa. Asap kabut memicu penyakit asma dan ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), menyerang kekebalan tubuh, penurunan IQ anak dan dehidrasi. Bahkan dapat merusak kesehatan jantung dan paru. Bayi, anak-anak, ibu hamil dan orang tua paling beresiko rentan menghadapi polusi dan kabut asap yang menyelimuti rakyat Kalimantan. Karena hutan, gunung, kebun karet dan lahan sawit mereka terbakar luas, ratusan bahkan jutaan hektar hangus dengan mengepulkan debu, asap kabut yang pekat ke udara. Sehingga batas pandang hanya sanggup berjarak sekitar seratus meter saja.

Filosofi matematika 1+1=2 menjadi sulit untuk memadamkan api. Artinya, satu menyiram dengan air, satu menyiram dengan bensin lalu dicucul dengan api puntung rokok. Karakter jahat manusia muncul ketika sengaja membakar hutan dan lahan untuk membuka lahan sawit baru atau memasuki awal masa tanam dengan memanfaatkan musim kemarau. Menjadi "kebablasan" tatkala terjadi kebakaran besar. Amuk api dahsyat yang tak terkendali. Diperburuk oleh musim kemarau berkepanjangan dan angin kencang berketerusan. Pohon lapuk, ranting patah, daun kering sangat mudah terbakar. Sebab, mereka telah kehilangan cadangan air dan kehilangan kelembaban udara. Diperparah oleh kondisi tanah gambut, ibarat "api dalam sekam, musuh dalam selimut, gunting dalam lipatan."

Kondisi demikian sangat menyulitkan bagi relawan DAMKAR yang berjibaku dengan api. Relawan diliputi oleh asap tebal sehingga paru mereka penuh sesak dengan asap dan sulit untuk bernafas. Sebab api hanya berpura-pura padam di lapis permukaan tanah. Sedangkan di lapis dalam tanah masih tersimpan bermeter-meter sumber bara api yang masih bergejolak, merah merona, membara, tidak mau padam. Malah menyebar, bekerja, mengamuk, membakar dari bawah tanah. Ibarat api Tuhan sudah marah. Endingnya, jika api Tuhan sudah marah, maka hanya Dia yang sanggup memadamkan. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI