JIWA TEROMBANG-AMBING KARENA TIDAK YAKIN TERHADAP ZIKIR

 


JIWA TEROMBANG-AMBING KARENA TIDAK YAKIN TERHADAP ZIKIR

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

MARAH sering sebagai pelampiasan rasa benci, dengki, merasa lemah menghadapi ujian, merasa gagal dan tidak berharga. Terlebih marah yang bukan karena Allah merupakan tanda ketidak-berimanan seseorang kepada takdir baik dan buruk dari-Nya, minimal jiwa terombang-ambing. Sebagian besar marah disebabkan oleh faktor terganggunya emosi, harapan, cita-cita, kehendak pribadi yang menginginkan cetak biru (blueprint) bagi orang lain, termasuk keluarga. Supaya orang lain sama sukses seperti dirinya. Apalagi ibarat memakaikan baju sendiri ke ukuran badan orang lain. Sungguh sebuah penilaian sepihak yang tidak adil. Bukankah setiap orang memiliki stories perjalanan hidup yang berbeda-beda. Ibarat nabati, ada masa tumbuh, kembang, mekar, berbunga, berbuah, tua, layu, tumbang, lapuk dan akhirnya mati. Sunnatullah yang pasti berlaku pada semua makhluk hidup. Kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian. Adapun kematian bagi manusia di dunia adalah awal kehidupan di akhirat. Dengan penciptaan baru, alam, bumi dan langit yang berbeda dari dunia.

Jangan mengambil kewenangan Allah dalam urusan takdir. Lalu manusia merasa berkuasa untuk mengatur Tuhan. Sejak tahun 2000 menjadi titik mula ketika manusia sudah mulai berani secara terang-terangan melawan Tuhan. Mengapa tidak sanggup mengambil pelajaran untuk berubah ke arah yang lebih baik pasca tsunami Aceh (26 Desember 2004), belum cukupkah sebagai pelajaran? Menyusul gempa Yogyakarta, Nias, Padang, NTT, banjir Sumatera. Diiringi KARHUTLA pulau Kalimantan (2026). Sebagaimana kalam wahyu Tuhan telah berfirman: "Dan ketika Kami akan menghancurkan sebuah negeri. Kami perintahkan kepada orang-orang kaya diantara mereka untuk menaati Allah. Tapi mereka berbuat kerusakan sehingga melampaui batas dalam kedurhakaan. Pasti berlaku hukum ketetapan, maka Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isra':16)." Dalam surah Ibrahim ayat 42 disebutkan: "Dan jangan engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap perbuatan orang-orang zalim. Allah menangguhkan siksa mereka, sampai suatu hari ketika mata mereka terbelalak takut."

Teringat dengan sabda Rasul untuk menyikapi dua keadaan (bahagia dan sengsara) secara cerdas: "Menakjubkan persoalan kaum muslimin. Semuanya mereka respon dengan kebaikan. Ketika diberi nikmat mereka bersyukur, ketika diberi bencana mereka sabar. Keduanya baik bagi mereka. (Hadis Riwayat Ahmad)." Terlebih belakangan ini, bulan-bulan penutup tahun 2026. Telah banyak kita saksikan gunung berapi mulai aktif  mengeluarkan cairan lahar dan lava (gempa vulkanik). Disamping dasar laut mengalami kepatahan lempeng kerak bumi yang berpotensi tsunami, gelombang pantai dahsyat berskala besar akibat gempa di dasar laut (tektonik). Akan sangat banyak mendatangkan kerugian material dan non material. Seperti korban jiwa, harta dan sebagian besar akan kehilangan mata pencaharian. Sehingga indeks masyarakat miskin kota dan miskin desa menanjak tajam. Prediksi kriminal melaju pesat dan penyakit masyarakat semakin meningkat.

Demikian pula KARHUTLA di pulau Kalimantan yang merengsek maju menuju pemukiman penduduk. Kebun sawit, kebun karet, kebun kelapa, pisang dan tanaman lain sudah musnah dimakan api menjadi abu. Kesedihan para petani terdengar sangat memilukan hati: "Ya Tuhan, kebun sawit kami telah terbakar dimakan api." Sebuah pengaduan kepada-Nya dengan tangan kosong. Karena dahulu kebun sawit yang sangat indah mempesona di atas bukit. Terpajang dari Tayan hingga Entikong. Sepanjang Sanggau Kapuas sampai Kapuas Hulu. Demikian lebat kebun sawit dari Sungai Duri hingga perbatasan Aruk-Sajingan. Terlebih KARHUTLA yang membakar hutan Ketapang hingga ke bibir jalan. Dahulu dipuji, kini menjadi hutan api yang sulit dipadamkan. Saham dan modal triliunan rupiah yang telah ditanam, hangus hanya dalam beberapa menit saja, sekejap mata.

Akibat musibah bencana besar nasional yang melanda. Menjadi tanda bahwa tahun 2027 yang akan datang lebih sulit lagi. Tatkala keuntungan kebun sawit yang telah dikalkulasi menjadi angka yang terbakar di atas kertas. Devisa negara akan merosot tajam dan defisit anggaran lebih memprihatinkan. Selain karena korupsi, musibah bencana alam karena gempa, banjir dan kebakaran. Juga disebabkan oleh kerusakan akhlak dan kemunduran adab. Akhlak dan adab rakyat sangat berkesesuaian (ekuivalen) dengan kesejahteraan dan kemakmuran sebuah negeri. Sehingga seorang ahli syair dari negeri Mesir, Syauqi Bek bersyair: "Hanyalah sesungguhnya negeri akan jaya, abadi, makmur karena akhlak penduduk suatu negeri. Maka rusaklah suatu negeri, ketika akhlak mereka telah pergi."

Doa Qunut Nazilah yang sering dibaca Nabi ketika musibah, bencana, dan derita menerpa wajah yang menyengsarakan umat. Diantaranya: "Ya Allah Tuhan kami, bagikan kepada kami sebagian rasa takut kepada-Mu yang dapat mencegah kami untuk bermaksiat kepada-Mu. Bagian taat kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu. Bagian yakin kepada-Mu yang menyebabkan kami menganggap rendah musibah dunia kami. Ya Allah, berilah nikmat dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selamanya dalam kehidupan kami, dan jadikan kami pewarisnya. Untuk mengalahkan orang-orang yang menzalimi kami. Tolong kami menghadapi musuh-musuh kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah pada agama kami. Jangan Engkau jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami. Jangan Engkau jadikan dunia sebagai capaian tertinggi ilmu kami. Dan jangan Engkau utus pemimpin zalim kepada kami lantaran dosa-dosa kami. Pemimpin yang tidak menyayangi kami dan pemimpin yang tidak takut kepada-Mu."

Sandaran vertikal spiritual menjadi kekuatan moral (the moral force) tersendiri untuk menghadapi huru-hara zaman. Ajaran agama selalu mengajar pelaksanaan ibadah secara berulang-ulang dalam rangka pendalaman, penguatan jiwa saat menghadapi masa sulit sekarang dan akan datang. Pengalaman menarik seorang sahabat dekat yang sanggup menghentikan konsumsi rokok dan kebiasaan minum kopi. Setelah memasang ring jantung yaitu cincin yang dipasang di katup jantung saat operasi. Meskipun pengalaman merokok telah dilalui selama 51 tahun berstatus perokok aktif. Satu yang menarik dari penuturan beliau: "Berhenti merokok menjadi mudah tatkala dianggap sebagai puasa." Bukankah puasa merupakan ibadah rahasia di sisi-Nya. Begitulah keadaan kaum beriman, tatkala ibadah yang sering berulang ditunaikan. Akan memberikan efek kekuatan spiritual pada saat yang tepat. Puasa mengajar kesabaran yang bersandar kepada Allah, niscaya manusia akan tenang mengalami krisis pangan dunia bersama-Nya, berkekalan dengan-Nya. Sewaktu Dia menjadi penjamin berupa penghilang rasa lapar. Dia pengaman dari rasa takut. Maka sembahlah Tuhan pemilik rumah ini (Ka'bah).

Akhirnya, ketika hamba sudah terikat kepada-Nya. Ternyata tidak ada lagi yang ia takuti selain Allah. Bukan deviden saham yang menghidupi, bukan honor yang menguatkan. Tapi zikir, zikir akhir zaman bukan semata ucapan bibir tentang bacaan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil. Namun sanggup memaknai zikir secara batin sampai menembus relung hati terdalam (roh). Zikir hati berupa kesadaran berketuhanan esa. Hadirkan hati kepada-Nya, sehingga terbuang stok angan-angan sebagai sampah dunia. Mulai dari hari, pekan, bulan dan tahun ini, bersungguh-sungguhlah dalam ibadah dengan menghayati setiap bacaan mulia dan gerakan ketundukan pada-Nya. Hikmah terbesar ialah ketika ibadah menjadi konsumsi jasmani dan nutrisi rohani yang cukup. Zikir berkelanjutan tiada henti (zikir mudawwamah) merupakan terapi batin dari kebimbangan menempuh takdir-Nya. Zikir mudawwamah akan memberikan solusi yang digjaya ketika Tuhan memberi waktu secara tepat dalam mengatasi problem kehidupan. Sungguh zikir merupakan logistik kaum beriman, dimana perbendaharaan Allah tidak pernah habis. Zikir merupakan amunisi menghadapi musuh secara presisi. Sungguh Dia menyediakan kasih, sayang, ampunan, maaf, rezeki, pahala yang agung di dunia dan akhirat bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Wallahu a'lamu bish-shawab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI