KESADARAN SPIRITUAL MENGANTAR MANUSIA MENUJU KESADARAN SOSIAL DAN EKSISTENSIAL
KESADARAN SPIRITUAL MENGANTAR MANUSIA MENUJU KESADARAN SOSIAL DAN
EKSISTENSIAL
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
ANOMALI dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (1077-1166 Masehi)
bergelar Sulthanul Auliya' (Raja para
wali) berpetuah: "Perjalanan manusia menuju Allah merupakan perjalanan
mundur, bukan maju." Maksudnya, dimanapun saat manusia berada, kapan waktu
dan kesempatan, jangan lupakan awal perjanjian manusia dengan Tuhan di alam
azali. Ketika manusia menyaksikan ikrar syahadat pertama di alam roh (jamak
arwah). Bahwa kehidupan di dunia ialah perjalanan, bukan persaingan. Setiap
jejak langkah tanah yang kita pijak merupakan realisasi takdir yang telah
dicatat oleh Tuhan di alam ketuhanan (lahut). Alam ketika belum ada sebutan,
ingatan dan pikiran (baca: Surah Al-Insan ayat 1). Bahkan di alam lahut tidak
ada debu, tidak ada partikel.
Ada satu pesan titipan Tuhan yang selalu Dia turunkan, bukan di
bumi. Tapi di hati manusia berupa petunjuk akal sehat dan petunjuk agama
(hidayah aqliyah wa hidayah diniyah). Manusia tidak sekadar mendengar dan
melihat, namun juga menyaksikan Tuhannya di alam roh. Dalam firman: " ...
Bukankah Aku Tuhanmu? (Arwah) menjawab: Benar, kami menyaksikan. (Al-A'raf:172)
..." Menyaksikan adalah perbuatan mukmin yang sebenar-benarnya (mukmin
haqqa). Iman yang diikrarkan oleh lisan, disaksikan dan dibenarkan oleh hati,
diamalkan oleh seluruh anggota tubuh.
Allah SWT menciptakan manusia dengan ukuran yang akurat, eksakta
(bi-qadar). Bahkan menjadi hamba Allah ('abdullah) sekaligus pengganti atau
wakil Allah sebagai pemimpin di muka bumi (khalifatullah fil ardhi) yang
bertujuan untuk memakmurkan kehidupan di bumi. Untuk tujuan perluasan
kemakmuran di bumi, Tuhan memerintahkan Rasulullah SAW untuk berhijrah. Hikmah
hijrah bukan sekadar memeroleh teman baru, lingkungan baru. Namun juga media
pembelajaran bagi diri agar mengenal Tuhan Allah SWT.
Sejarah menerangkan hijrah Rasulullah SAW beserta sahabat di bawah
lindungan wahyu. Ketika penduduk Yatsrib (Madinah) mengangkat sumpah
Bai'atur-Ridhwan (janji setia) di Hudaibiyah. Lokasi Hudaibiyah ialah sebuah
desa perbatasan antara Mekah-Madinah. Sejak masa Rasulullah SAW sampai hari
kiamat, Hudaibiyah dijadikan miqat makani (ketentuan tempat) bagi jamaah umrah
untuk memulai sebagai tempat berangkat jamaah umrah yang sudah berada di Mekah.
Tuhan abadikan peristiwa janji setia penduduk Madinah kepada Allah dan
Rasulullah dalam kitab suci Alquran.
Bai'at yang termaktub dalam surah Al-Fath ayat 10 yang artinya:
"Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sungguh mereka
hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan manusia. Siapa
yang melanggar janji, niscaya sesungguhnya dia melanggar janji dirinya sendiri.
Dan siapa yang menepati janjinya kepada Allah. Niscaya Allah akan memberinya
pahala yang besar."
Pandangilah wajahmu benar-benar, bercerminlah betul-betul tentang
dirimu! Sebab Tuhan sebagai jiwa sejati telah menciptakanmu dalam paras rupa
yang paling indah, disempurnakan kejadianmu, lalu diberinya petunjuk.
Dihamparkannya bumi yang datar, di atasnya ada rerumputan, sayuran,
buah-buahan, dan tumbuhan beranekaragam jenis. Semuanya untuk melayani manusia.
Nah, tulisan ini mengajak pembaca berpikir bahwa manusia secara pribadi harus
bertanggungjawab terhadap dirinya, bukan diri orang lain. Alquran surah
Al-Zalzalah ayat 7-8 telah jelas menyatakan: "Siapa yang berbuat kebaikan
meskipun sebesar zarrah (atom). Niscaya mereka akan melihat balasan amal
kebaikannya. Dan siapa yang berbuat keburukan meskipun sebesar zarrah (atom).
Niscaya mereka akan melihat balasan amal keburukannya."
Kehadiran manusia di muka bumi sepatutnya menjadi cetak biru
(blueprint) penerapan cita-cita Allah SWT. Namun sering kali manusia merasa
memiliki kekuasaan terhadap alam, lalu mengeruk alam tanpa batas. Bukan lagi
untuk makan dan minum, melainkan menumpuk kekayaan dalam jumlah yang besar.
Tamak dan serakah menjadi sifat umum manusia. Ketika aturan dan hukum tidak
benar-benar ditegakkan. Permainan culas oknum pejabat dan penjahat akan
melahirkan kesengsaraan rakyat turun-temurun. Apa yang akan diwariskan oleh
generasi sekarang yang sedang memimpin terhadap gen-z dan gen-alpha? Kecuali
hutan yang sudah gundul bekas perkebunan sawit dan tambang batubara. Air
tercemar bekas penambangan emas. Udara yang kotor dan berbahaya bagi jantung
dan paru. Lapangan pekerjaan yang sempit karena lemahnya skill, kompetensi
lulusan, ketika bersaing di bursa pasar bebas global. Menurunnya kualitas
kesehatan ibu dan anak akibat gizi buruk. Sebab ekonomi dan pendidikan
berbanding lurus dengan pemenuhan gizi dan nutrisi bayi, ibu hamil, dan ibu
pasca persalinan. Kriminalitas meningkat saat perekonomian rakyat semakin
menjerit akibat koruptor yang tidak ditindak oleh hukum secara tegas.
Perlu diketahui, kesadaran spiritual di atas tentang diri sejati
ialah Allah dan Rasul-Nya. Rasul akan melepas pangkat dirinya menuju Tuhan
pemilik singgasana ('arsy) yang agung. Umat Rasul bila sudah semirip dengan
sifat Rasul yang mulia, jujur, amanah, penganjur kebaikan lagi cerdas. Niscaya
umat bersama Rasul menghadap pencipta. Berdiri khusyuk di hadirat-Nya pada hari
kiamat, sebagaimana dahulu mereka berdiri di hadirat-Nya untuk pertama kali
mengucap syahadat di alam roh. Syahadat yang berbunyi: "Benar, kami
menyaksikan. (Al-A'raf:172)."
Tapi ketika manusia terlahir ke alam dunia. Terlupakan syahadat,
perjanjian dan sumpah cinta di alam roh tadi. Namun terkontaminasi, bahkan
hilang oleh kimia dunia dan seluruh unsurnya. Tertutup dan terkunci oleh
kesibukan yang melanda. Sehingga upaya untuk mencahayai ingatan janji setia
alam roh muncul kembali. Guna membongkar kelupaan dan kealpaan agar berbinar
kembali. Metode yang ditempuh adalah mengundang cahaya dengan cahaya, memancing
air dengan air, memercik api dengan api, menerpa angin dengan angin, menutup
tanah dengan tanah. Kesamaan unsur tersebut dapat diupayakan dalam dua perenungan.
Pertama tadzakkur (berzikir). Kedua tafakkur (berpikir).
Zikirnya ahli ma'rifat adalah kesanggupan diri untuk berpikir
hingga ke akar masalah (radix). Berpikir tentang penciptaan langit dan bumi,
pergantian malam dan siang. Berzikir dan berpikir yang berakhir pada keesaan
Allah dalam satu ayat, tapi mengandung tiga kalimat doa, Ali Imran ayat 191:
"Tuhan kami, tidak sia-sia apa yang Engkau ciptakan. Mahasuci Engkau. Maka
hindarkan kami dari siksa api neraka."
Dampak bai'at ialah terbukanya hijab spiritual. Keterbukaan akan
memantik kesadaran spiritual yang sanggup menggedor dinding kebekuan hati dan
mendobrak tembok keangkuhan diri. Bahwa diri yang berjanji di alam roh dalam
keadaan berhutang atau diri tergadai. Harus diri pula yang melunasi janji dan
menebus gadai tersebut. Karena memang hidup manusia di dunia dalam keadaan
terhutang dengan Tuhannya. Tebusannya adalah: "Benar, kami
menyaksikan." Pertanyaan pemantik selanjutnya: Sudahkah kamu bayar hutang
tersebut? Jangan sampai datang tagihan di akhirat nanti! Tatkala ditanya,
lunasi hutangmu selama hidup di dunia, selama hayat dikandung badan! Sudahkah
kamu menyaksikan Tuhan di dunia? Agar di akhirat kamu tidak disiksa pada hari
penyiksaan yang berat! Wallahu a'lamu bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar