KETENANGAN SUMBER KEBIJAKSANAAN SEBAGAI PONDASI KEBAHAGIAAN
KETENANGAN SUMBER KEBIJAKSANAAN SEBAGAI PONDASI KEBAHAGIAAN
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
BAHAGIA bukan datang tanpa upaya. Upaya pemantik untuk undangan
kebahagiaan ialah ketenangan. Kenapa gerangan? Karena ketenangan merupakan
sumber kebijaksanaan (hikmah). Sikap bijak dapat membuat seseorang lebih tenang
menjalani kehidupan dengan berpikir waras, berakal sehat, bertindak tepat,
berhitung cermat.
Kehidupan di dunia ibarat roda pedati yang berputar menggilas
waktu, siklus terus berjalan. Kadang manusia berada di posisi atas, samping
kanan, bawah, samping kiri. Tidak ada yang salah dari keempat posisi tersebut.
Posisi selalu baik, sangat bergantung kepada cara menyikapi situasi yang cepat
berubah. Karena itu, kehidupan harus ditempuh dengan bijak. Bijak dalam arti
tidak memaksakan kehendak ketika kehendak manusia berlawanan dengan kehendak
Tuhan. Meyakini bahwa setiap orang sedang menjalani kalung takdir yang melekat
pada leher mereka. Berhikmah Imam Ahmad ibnu Athaillah As-Sakandari (wafat:
Mesir, 709 H) menulis dalam kitab Al-Hikam: "Setiap orang pasti memiliki
kalung takdir. Sehingga bagaimanapun mereka berupaya keluar dari takdir.
Sungguh setiap orang telah dipagari oleh sekat pagar takdir, tanpa terlampaui.
Justru itu, bebaskan dirimu dari menanggung beban berat orang lain yang
memayahkan punggungmu. Kecuali hanya sebatas menjalankan kewajiban dan amanah.
Selebihnya, selamatkan dirimu saja." Pada tataran ini, Imam Ahmad telah
mendidik untuk beriman kepada takdir. Menerima dengan lapang takdir baik dan
takdir buruk dari Allah Ta'ala. Artinya, takdir baik mengandung hikmah
kebijaksanaan. Takdir buruk mengandung hikmah kebijaksanaan. Karena keduanya
bersumber dari Allah sang-Penentu.
Buktinya, Tuhan menyuruh Rasul dan hamba-Nya bersabar, bersabar
ialah sumber kebijaksanaan supaya tenang dalam menghadapi gejolak
situasi-kondisi yang selalu berubah. Semua ada hikmah disebalik peristiwa yang
terjadi. Jangan merasa hebat di tengah orang-orang yang tidak hebat. Jangan
merasa penting bila sekeliling mencemooh. Merasa tahu diri lebih diutamakan
daripada membusungkan dada. Sebab orang yang membencimu tidak butuh bukti akan
kebaikanmu. Dan orang yang mencintaimu tidak butuh daftar riwayat hidupmu. Oleh
karena itu, rendahkan suaramu dan sederhanakan tindakanmu. Jangan berharap semua
orang menyetujuimu, dan jangan takut
bila semua orang menolakmu. Terpenting adalah Tuhan bersamamu. Maka
jadilah orang sabar, niscaya Dia bersama orang-orang yang sabar. Jadilah orang
yang berbuat baik, karena Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat
baik.
Jelas, setiap tindak pasti berdampak. Langit mencatat takwil
bermakna tersirat, bumi merekam tafsir tersurat, gunung selalu bertasbih.
Sedangkan posisi manusia merupakan makhluk yang paling lemah secara fisik.
Perbandingan orang yang sombong tatkala ia tidak sanggup menembus bumi dan
tidak sanggup setinggi gunung. Sebuah tantangan logis dari-Nya.
Sombong merupakan sumber derita dunia dan akhirat. Betapa tidak,
orang sombong penuh topeng kebohongan. Diri lemah tapi mengaku kuat. Diri
rendah tapi mengaku tinggi. Diri hina tapi mengaku mulia. Sejatinya manusia
adalah lemah, rendah, hina. Sifat kuat, tinggi, mulia adalah milik Allah. Orang
sombong penuh topeng kebodohan. Mengaku tahu padahal tidak tahu. Mengaku 'alim
padahal jahil. Sungguh, sebab kebodohan itulah ia telah mempermalukan diri
sendiri.
Sebaliknya, orang yang ikhlas paling bahagia di dunia dan akhirat.
Ketika ia sudah tidak lagi merasa memiliki dan dimiliki oleh seseorang. Kecuali
apa yang dimiliki hanya berstatus pinjaman. Suatu saat sang-Tuan pemilik akan
mengambilnya, diberikan dengan ridha. Barometer ikhlas ialah menerima dan
melepas tanpa beban. Paling berbahaya dalam hidup, jika merasa memiliki
sehingga takut dan sengsara saat kehilangan. Semakin dalam rasa kemelekatan
seseorang kepada atribut duniawi, semakin sulit berpisah jika telah sampai
waktu berpisah (ajal). Justru kemelekatan tersebut dipertahankan yang
menyebabkan sakit dan perih sakaratul maut. Sebab roh memberontak untuk
berpisah dengan jasad dan sifat jasadiyah lainnya. Kecuali setelah dipukul oleh
malaikat bertubi-tubi di wajah dan punggung mereka. Roh keluar dari jasad
secara terpaksa, bukan suka rela.
Senada dengan sifat ikhlas adalah husnudz-dzan atau baik sangka.
Dalam ranah hukum harus seseorang menerapkan praduga tak bersalah sampai ada
putusan hakim di pengadilan. Akhlak seorang muslim diajarkan jangan menuduh
orang lain. Bahkan jika ia benar-benar bersalah, maka tutuplah aibnya.
Disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam Hadis riwayat Muslim yang artinya:
"Siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya
di dunia dan akhirat."
Sifat tenang berupa ikhlas dan baik sangka merupakan induk amal
saleh. Keduanya merupakan tema penting kebijaksanaan (hikmah) menuju
kebahagiaan (sa'adah). Orang yang ikhlas ibarat kata: "Ada alhamdulillah,
tidak ada alhamdulillah. Mencari yang ada, bukan mencari yang tidak ada."
Maka ikhlas menjadi saudara kandung husnudz-dzan. Meringankan, menyedikitkan
beban bahkan membuangnya. Tatkala jiwa telah sanggup berbahagia saat menerima
karunia-Nya dan berbahagia saat melepas. Tidak memaksa sesuatu yang bukan lagi
menjadi amanahnya. Sesuai dengan kalam wahyu-Nya: "Milik-Nya kunci-kunci
langit dan bumi (Az-Zumar:63)." Tunduk kepada ketetapan-Nya merupakan
jalan bahagia dunia-akhirat. Tidaklah Dia mengujimu, kecuali untuk melepaskan
jiwamu dari penjara dunia yang mengikat. Tidaklah Dia memudahkanmu, kecuali
agar engkau memandang kepada keberlimpahan sayang dari-Nya. Mereka yang ikhlas
dalam memberi akan ikhlas dalam menerima. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar