MENYIBAK TABIR HIJAB

 


MENYIBAK TABIR HIJAB

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

SUMBER kesombongan ialah petaka ego diri merasa hebat, kuat, kaya, pintar, lancar. Malah standar kebenaran orang ego ialah dirinya sendiri. Diri yang paling besar, benar, baik, berbinar. Sedangkan orang lain adalah kecil, salah, buruk, gelap. Padahal, adakah wilayah manusia yang sempurna tanpa cacat? Mustahil, sesungguhnya manusia adalah tempat salah dan khilaf. Tidak ada manusia suci diantara kamu. Maka janganlah kamu merasa suci. Karena Allah maha mengetahui, siapa diantara kamu yang paling bertakwa. Sedangkan kamu tidak mengetahui apa-apa.

Sejarah telah merekam jejak Fir'aun yang kejam terhadap orang yang tidak mau menyembahnya. Fir'aun telah kehilangan radar kesadaran spiritual. Terjadi missinglink antara Fir'aun dengan Tuhan. Kerusakan moral, sosial, ekonomi, politik dan peradaban. Puncak kerusakan ialah pada saat Fir'aun melantik dirinya menjadi Tuhan. Padahal posisi Fir'aun hanya manusia biasa yang diamanatkan sebagai raja. Haman, pembantu Fir'aun. Haman merasa digjaya karena penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka berdua merasa menjadi pilar utama penentu nasib seluruh rakyat Mesir. Kesombongan Fir'aun dibentangkan Alquran. Ucapan kesombongan: "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku. Dan air sungai Nil yang mengalir berada di bawah telapak kakiku? Apakah kamu tidak melihat? (Az-Zukhruf:51)."

Qarun merasa paling kaya, sehingga atribut kekayaan dipamerkan ke khalayak ramai. Pameran kekayaan dengan bermegah-megahan (flexing) merupakan watak Qarun dan pengikutnya sampai hari kiamat. Perilaku flexing  dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah At-Takatsur ayat 1-2: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sehingga kamu berada di liang kubur."

Tiga tokoh tadi, banyak dikisahkan oleh Alquran. Mereka hidup semasa dengan Nabi Musa. Fir'aun menyandarkan kekuasaan kepada dirinya. Haman menyandarkan keilmuan kepada dirinya. Qarun menyandarkan kekayaan kepada dirinya. Bukan menyandarkan kepada Allah SWT yang maha berkuasa, berharta, berilmu. Hari ini, menjadi pembelajaran bagi kaum yang berakal sehat. Orang yang berakal sehat tidak mau menggadaikan kehidupan akhirat yang abadi untuk meraih kehidupan dunia yang sementara. Tidak mau menukar-ganti kenikmatan akhirat yang banyak dengan kenikmatan dunia yang sedikit.

Terhijab (Terdinding) dari Allah

Apabila yang besar adalah kekuasaan, niscaya manusia terhijab dari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Apabila yang mulia adalah kekayaan, niscaya manusia terhijab dari kemuliaan dan kekayaan Allah SWT. Apabila yang indah adalah keilmuan, niscaya manusia terhijab dari keindahan dan keilmuan Allah SWT.

Manusia yang seolah tampak saleh disangka mulia daripada makhluk Allah lainnya, dapat menjadi hijab yang tebal. Kekuasaan dianggap berkedudukan tinggi lagi bertahta suci, juga hijab. Sungguh ini hanya ilusi yang dibangun di tingkat keraguan (dzanni). Bahkan anggapan merasa diri tidak disentuh oleh api neraka atau merasa aman dari siksa Allah, kecuali hanya beberapa hari saja. Itulah fatwa yang terhijab, sesat dan menyesatkan.

Malah mereka mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa basis ilmu, cahaya, petunjuk dan kitab. Surah Al-Baqarah ayat 80 membongkar modus operandi kaum Yahudi: "Dan mereka berkata: Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa hari saja. Katakan (Muhammad), sudahkah kamu menerima janji dari Allah? Sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui (tuduhan)."

Seterusnya, kaum Yahudi membuat manuver terhadap Allah dalam firman-Nya: "Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah itu fakir. Sedangkan kami kaya. Kami (Allah) akan mencatat perkataan dan perbuatan mereka yang membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Dan Kami (Allah) akan mengatakan kepada mereka: Rasakan olehmu siksa yang membakar (Ali Imran:181)."

Menyibak Tabir Hijab

Orang mukmin sangat beradab kepada Allah SWT dalam perkataan, perbuatan, pikiran dan perasaan. Rasa tunduk, runduk dan sujud mereka termanifestasi dalam kehidupan keseharian. Berimplikasi secara langsung terhadap kesabaran, ketenangan, kedamaian, doa dan syukur. Buktinya adalah keyakinan mereka mengakui semua keberuntungan berasal dari rahmat-Nya. Berdasarkan firman Allah surah Al-Baqarah ayat 65: "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Niscaya kamu termasuk orang-orang yang merugi."

Nalar Qurani menjelaskan bahwa kehidupan bisa berlangsung harmoni karena terdapat keutamaan dari Allah (fadhlullah). Kehidupan dapat mengundang manfaat (maslahat) karena terdapat sifat kasih sayang dari Allah (rahmatullah). Kehidupan dapat terhindar dari kerusakan (mafsadat) karena terdapat perlindungan dari Allah (daf 'ullah).

Tanpa ketiga sifat kelembutan dan keelokan (jamaliyah) dari Allah di atas, sudah dipastikan manusia saling bertikai, melukai, membunuh, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), serta rusaklah bumi. Namun Allah SWT memiliki karunia yang berlimpah untuk alam semesta, manusia dan agama. Orang mukmin memandang pada sifat Allah Ar-Rahman (pengasih), Ar-Rahim (penyayang), Al-Halim (penyantun), Al-Karim (pemurah) untuk diteladani dan diamalkan.

Fakta agama-agama yang diyakini dan seluruh rumah ibadah yang masih tegak berdiri, menunjukkan kemuliaan dan keluhuran Allah SWT. Kalau bukan karena perlindungan, penjagaan dan pemeliharaan-Nya. Niscaya sudah musnah agama-agama dunia serta telah hancur tempat-tempat ibadah. Berdasarkan kalam Allah dalam kitab suci surah Al-Haj ayat 40: " ... Dan andai Allah tidak mencegah keganasan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Pasti telah dirobohkan biara, gereja, sinagoga dan masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah ..." Maksudnya, Dia menghormati realita yang ada agar berjalan kehidupan di bumi dengan harmoni, toleransi, serta hidup berdampingan secara damai di tengah kemajemukan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Semoga menginspirasi, menjadi renungan diri, mendidik generasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI