PASCA SALAT ISTISQA' TAPI HUJAN BELUM TURUN

 


PASCA SALAT ISTISQA' TAPI HUJAN BELUM TURUN

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

LEBIH taat lagi, ketika pasca salat Istisqa' meski Allah SWT belum menurunkan hujan rahmat yang lebat dari langit. Bukan sebaliknya, menyudutkan dan menyalahkan-Nya. Di sini, manusia harus selalu introspeksi (mawas diri) secara individual dan komunal. Jangan hanya mengimani sifat Allah Ar-Rahim (penyayang). Namun Dia juga memiliki sifat Al-Jabbar (memaksa). Dia berhak memaksa langit untuk menurunkan atau menahan air hujan.

Ingatlah perjalanan hidup umat terdahulu (kaum 'Ad, Tsamut, Madyan) harus menjadi pelajaran bagi umat yang hidup masa sekarang. Idealnya, jilid musibah demi musibah sanggup mendatangkan refleksi dan proyeksi bagi kaum yang berakal. Bahwa umat terdahulu lebih sehat, kuat, jaya, kaya. Buktinya tangga rumah mereka terbuat dari emas. Piring, gelas, mangkok, sendok, garpu terbuat dari perak. Mereka bekerja memahat gunung-gunung batu untuk dijadikan perumahan, pemandian umum, kolam renang, ruang pertemuan, istana megah dan gedung mewah. Kemakmuran, keadilan, keamanan, kesejahteraan rakyat terjamin, udara sehat, air bersih, jalan raya mulus. Di tengah kota tersedia area pemandian umum air panas untuk musim dingin, area pemandian umum air dingin untuk musim panas. Kini, adakah engkau mendapati yang tersisa dari mereka? Generasi terus datang dan pergi silih-berganti, tidak ada yang kekal abadi, kecuali perubahan, pergantian.

Para Nabi diutus untuk menyampaikan berita akhirat. Mereka selalu mengajak umat kembali ke jalan Allah setelah tersesat. Pesan menggembirakan berupa surga dan pesan menakutkan berupa neraka didakwahkan. Diyakini tobat dan istighfar (memohon ampun) kepada-Nya sanggup membuka kesempitan hidup karena ketertutupan kabut dosa yang pekat. Istighfar juga sanggup mengundang rezeki dari arah yang tidak diduga. Dua hikmah istighfar yang digaransi oleh Allah dan Rasul-Nya. Tugas kita hari ini ialah menyediakan tempat di bumi bagi turun hujan rahmat yang deras dari-Nya. Buatlah rumah-rumah Alquran, kampung-kampung tobat, negeri-negeri istighfar. Rumah, kampung, negeri yang dapat memantik turun berkah dari atas langit dan memancing rahmat dari dalam bumi.

Dituliskan dalam kitab Qishashul-Auliya' (Kisah para Kekasih). Di ibukota Irak (Basrah) dan wilayah  sekitar, terjadi musim kemarau panjang sehingga banyak flora dan fauna mati karena kepanasan, kehausan dan kelaparan. Hiduplah seorang ulama besar yang bernama Imam Hasan Al-Basri, beliau bergelar Raja generasi Tabi'in. Sang-Imam menyerukan salat Istisqa' mengingat akibat kemarau panjang sehingga semua wajib menghemat air dan mengganti wudhu dengan tayamum.

Setelah ditetapkan tempat dan waktu salat Istisqa'. Jamaah berbondong-bondong datang dari segenap penjuru ke halaman lapang, padang luas. Salat Istisqa' dilaksanakan secara berjamaah. Istighfar dan doa dilantun dengan suara lirih, rendah hati dan berbisik kepada Penguasa langit. Memohon dengan sungguh-sungguh, menangis, merintih, memelas, merayu, mengangkat tangan tinggi-tinggi seakan menusuk langit Allah dengan bujuk-rayu. Namun setetespun air hujan tidak turun. Bahkan angin kemarau semakin kencang terasa panas ketika menerpa wajah. Tidak ada satupun jamaah salat Istisqa' yang beranjak dari sajadah mereka. Mereka tidak ingin pergi, mereka tidak mau pulang ke rumah. Mereka hanya ingin doa mereka segera diijabah dengan kasih sayang Tuhan.

Dalam keheningan yang lama setelah salat Istisqa'. Sekonyong-konyong datang seorang pemuda, lalu menunaikan salat sunah sendiri. Sejatinya pemuda ini tidak ikut salat Istisqa'. Tapi dua rakaat salat yang ia kerjakan dengan ringan, menyedot perhatian ulama besar, Imam Hasan Al-Basri. Setelah salat, pemuda lansung mengangkat kedua belah tangan seraya berdoa, segera Allah SWT turunkan hujan lebat.  Dan membasahi seluruh kota Basrah dan kawasan sekitar.

Bersuka-ria penduduk kota Basrah dan kawasan sekitar karena cita dan hajat mereka kabul. Kemudian si-pemuda tadi pulang ke rumah majikannya dalam keadaan basah-kuyup. Kembali lagi mengerjakan seluruh pekerjaan rumah atau menunaikan perintah dari majikan. Kali ini, semua kebun, taman, sawah, rumah sudah tidak berdebu lagi. Udara panas berganti sejuk meliputi kota dan desa. Raja dan rakyat tersenyum riang-gembira.

Namun lain halnya dengan Imam Besar Hasan Al-Basri. Setelah melihat peristiwa ganjil tersebut. Kronologis anak muda yang tidak diketahui asal-usul keluarga dan silsilah keilmuan tersebut. Datang ke Masjid Basrah untuk menunaikan salat sunah dua rakaat dengan ringan. Bahkan belum selesai ia berdoa, secepat kilat awan hitam datang dan segera turun hujan lebat. Peristiwa tersebut diobservasi oleh Imam Besar Hasan Al-Basri, durasi waktu antara anak muda itu datang, salat dan berdoa tidak lebih dari lima menit. Hasan Al-Basri, sebagai seorang waliyullah, pemegang sanad keilmuan, fakih, sufi, 'alim bergelar Raja generasi Tabi'in (Tabi'in adalah generasi yang hidup di masa generasi sahabat. Sahabat adalah mereka yang hidup semasa dengan Rasulullah SAW), tentu tidak menyia-nyiakan karamah (kemuliaan) yang diberikan Allah kepada anak muda. Beliau mengambil hikmah kejadian dari fakta yang baru berlangsung, dengan cara mendatangi rumah tuan majikan tempat anak muda tinggal dan bekerja.

Sesampainya di rumah tuan majikan serta mohon ijin untuk menemui sang pemuda. Setelah berkenalan, Imam Besar Hasan Al-Basri menanyakan amal apa yang dikerjakan, sehingga dengan sebab salat sunah dua rakaat dan doa-mu, Allah berkenan segera menurunkan hujan lebat. Sedangkan sebelumnya, kami sudah menunaikan salat Istisqa' berjamaah dan dengan doa yang panjang. Namun hujan tidak turun, berjam-jam kami menunggu turun hujan. Tapi setetespun air tidak turun. Adapun dirimu wahai anak muda, Allah berkenan menerima salatmu yang ringan dan doamu yang pendek. Buktinya, kita sedang merasakan lembut dan dinginnya air hujan berkah, rahmat, lebat sebagai jawaban atas permintaan seluruh penduduk kota Basrah.

Anak muda tersebut tidak sanggup menjawab pertanyaan Imam Besar Hasan Al-Basri. Sebaliknya, anak muda permisi dengan baik-baik. Dengan sadar dan tahu diri sebagai tukang atau pembantu rumah tuan majikan, tentu masih banyak pekerjaan yang belum tuntas. Setelah saling berpamitan, si-anak muda masuk ke dalam kamar tidurnya yang kecil di sudut ruang kerja, bersebelahan dengan ruang dapur. Di tempat itulah, si-anak muda menumpahkan perasaan kepada-Nya. Sembari menangis, seraya berlinang air mata, sontak suara hatinya berbisik: "Wahai Penguasa langit dan bumi. Engkau lebih mengetahui keadaan diriku yang sebenarnya daripada diriku sendiri. Jika diriku dan diri orang lain lebih mengetahui tentang diriku. Aku rela untuk kembali ke hadirat cinta-Mu sekarang. Karena selama ini, aku hanya merindukan cinta dan merindukan saat kesaksian berjumpa dengan-Mu." Akhirnya, Tuhan mengutus malaikat cinta untuk menjemput roh si-anak muda. Lalu, Tuhan memerintah malaikat langit untuk berhias dalam acara jemputan rohnya, menyediakan untuknya tempat mulia dengan cahaya ampunan, cinta, kasih, sayang, damai, tenang, bahagia, sejahtera di sisi-Nya.

Anomali peristiwa tadi, mengingatkan bahwa banyak hikmah yang Allah sembunyikan dari fakta yang tampak. Artinya, baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah. Jahat menurut manusia, belum tentu jahat menurut Allah. Atau sebaliknya, baik menurut Allah, belum tentu baik menurut manusia ingkar. Jahat menurut Allah, belum tentu jahat menurut manusia kafir. Sehingga, ada tiga hal yang dirahasiakan Allah. Dia merahasiakan ridha kepada ahli taat. Supaya ahli taat tidak berlaku sombong. Dia merahasiakan murka kepada ahli maksiat. Supaya ahli maksiat kembali kepada Allah karena memandang kepada kelembutan perlakuan dari sang-Pengasih. Dia merahasiakan kekasih-Nya (wali, jamak auliya') diantara semua hamba-Nya. Agar wali (kekasih) Tuhan terpelihara dari niat jahat orang yang jahat. Terpelihara dari mata orang yang taat, supaya kekasih-Ku tidak disembah disamping diri-Ku. Sampai detik ini, si-anak muda waliyullah tidak diketahui namanya (no name), tidak dikenal silsilah nasab keturunannya, dan tidak dikenal jejak sanad keilmuannya. Wallahu a'lamu bish-shawab.

(Disampaikan pada Kajian Tauhidiyah Ahadiyah di kediaman Bapak Hajiman, S.Pd. Jum'at, 4 September 2026).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

PEMBELAJARAN PAI-SKI