PERKEMBANGAN TASAWUF LINTAS GENERASI (Al-Muhasibi, Al-Ghazali, Al-Iskandari)

 


PERKEMBANGAN TASAWUF LINTAS GENERASI (Al-Muhasibi, Al-Ghazali, Al-Iskandari)

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

MATA rantai ilmu keislaman (sanadiyah) yang tak terputus dari generasi ke generasi menunjukkan ajaran yang otentik. Otentisitas ajaran Islam yang bebas dari intervensi manusia. Ajaran tauhid yang bersumber dari Alquran dan Hadis yang diriwayatkan secara mutawatir. Mutawatir artinya dalil agama diterima dari Rasulullah kepada orang banyak. Orang banyak tersebut meriwayatkan dan disampaikan kepada orang banyak pula. Sehingga tidak terdapat kekeliruan pada dalil. Baik dipandang dari segi sanad, rawi maupun matan.

Tiga tokoh guru tasawuf dunia yang akan dibahas pada artikel kali ini, Imam Al-Haris bin Asad Al-Muhasibi (wafat: Irak, 243 Hijriah), Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (wafat: Iran, 505 Hijriah), Imam Ahmad ibnu Atha'llah Al-Iskandari (wafat: Mesir, 709 Hijriah). Mereka dikenal sejak dari dahulu, sekarang dan akan datang karena meninggalkan rekam jejak keilmuan berupa tulisan. Karya monumental mereka sangat banyak, berjumlah puluhan sampai ratusan judul buku (kitab). Bertebaran karya beliau di seluruh dunia belahan timur-barat, utara-selatan.

Al-Muhasibi terkenal dengan kitab Ar-Ri'ayah li Huquqillah (Memelihara Hak-hak Allah), karya monumental diantara banyak karya beliau. Isinya pertama, Ri'ayah Jawarih yaitu memelihara adab-adab zahir dalam rangka menjaga hak-hak Allah. Seperti adab sebelum dan setelah salat. Adab puasa, zakat, haji dan umrah. Adab makan, minum dan 24 jam menjaga adab kepada Allah SWT. Kedua, Ri'ayatul-Qulub yaitu memelihara kebersihan hati dari riya' (ingin dilihat), sum'ah (ingin didengar), 'ujub (bangga diri), takabbur (sombong). Ketiga, Ri'ayah As-Sir (memelihara rahasia batin) dengan Allah melalui tiga adab. Pertama, adab ikhlas kepada Allah saja. Sehingga beramal saleh tidak terpengaruh oleh pujian atau hinaan manusia. Pujian manusia tidak membuat ia besar hati. Hinaan manusia tidak membuat ia kecil hati. Ibarat pujian dan hinaan telah "hambar" dihadapannya. Pujian manusia tidak berdaya untuk memalingkan wajahnya dari Allah SWT sebagai pusat harapan dan tujuan. Hinaan manusia tidak berdampak buruk baginya untuk berhenti dari amal saleh. Ikhlas seakan penawar dari racun dunia yang terhidang seperti makanan di atas meja makan.

Memelihara adab batin kepada Allah, menurut Al-Muhasibi yang kedua adalah muraqabah. Muraqabah artinya senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT. Umpama 24 jam CCTV Allah menyala terang, tidak pernah padam. Dalam firman-Nya: "... Dan adalah Allah kepadamu selalu mengawasi. (An-Nisa':1)."

Adapun langkah yang ketiga adalah muhasabah. Setiap malam sebelum tidur, Al-Muhasibi melakukan muhasabah. Kemudian menjadi gelar diri yang dianugerahkan oleh para murid dan jamaahnya. Al-Muhasibi artinya orang yang selalu melakukan muhasabah (introspeksi). Terdapat tiga item pertanyaan yang selalu diucapkan. Pertanyaan pertama yang berulang, sering kali dipertanyakan: "Adakah kewajiban hari ini yang aku tinggalkan?" Kendati Al-Muhasibi sangat rajin menunaikan dan melunaskan kewajibannya terhadap Allah dan manusia. Namun khawatir itu, selalu beliau evaluasi setiap malam sebelum tidur.

Pertanyaan kedua, maksiat apa hari ini yang aku kerjakan? Beliau sangat selektif saat menilai diri. Ruang terbuka diri untuk menilai diri. Sekecil apapun maksiat diri, apalagi yang besar, pasti disorot oleh Al-Muhasibi. Pertanyaan ketiga, wahai Al-Haris, nikmat Tuhanmu manakah yang masih engkau dustakan? Wahai Al-Haris, nikmat Tuhanmu manakah yang belum engkau syukuri? Tuhanmu memberi nikmat, adalah untuk mengujimu, apakah engkau bersyukur atau kufur? Berulang pertanyaan tersebut bergelut di hatinya setiap malam.

Mengamati perjalanan studi ketiga tokoh ulama se-dunia ini, mereka memiliki peminatan akademik yang sangat tinggi. Terbukti dari disiplin kompetensi ilmu mereka yang sangat mumpuni pada semua lini. Fikih, tauhid, tasawuf, filsafat, kalam, tafsir, hadis, sejarah, cabang serta rumpun keilmuan yang dikuasai.  Mata rantai  keilmuan (sanad) yang tersambung (muttashil) langsung kepada Rasulullah SAW. Teori, praktik dan tradisi keilmuan yang bersandar kepada Rasulullah pasti sampai kepada pemilik-Nya, Allah SWT.

Adapun jarak masa kehidupan antara Imam Al-Haris bin Asad Al-Muhasibi dengan Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali dalam rentang tiga abad (300 tahun). Sedangkan jarak masa Al-Ghazali dengan Al-Iskandari ialah sekitar 2 abad (200 tahun). Meskipun mereka tidak pernah berjumpa secara fisik (liqa'). Namun secara spiritualitas intuisi mereka tidak pernah dipisahkan oleh ruang kuliah atau masa persahabatan dalam lingkup keilmuan. Buktinya, sanad muttasil menyatukan mereka dalam budi, pekerti, karya, karsa, daya, rasa, bersama ilmu Rasulullah SAW.

Para ilmuwan muslim berwasilah kepada sang pesuruh Allah (Rasulullah) sehingga sampai kepada Allah SWT. Al-Muhasibi mengambil matarantai yang tersampai kepada Imam Sufyan Tsauri dan Imam Sufyan bin Uyainah, dua orang Imamul-hadis yang menjadi rujukan para periwayat hadis. Lima ratus tahun kemudian, Imam Al-Ghazali ikut berguru kepada Imam Al-Haris bin Asad Al-Muhasibi, meskipun secara ilham (imaginer). Buktinya, kitab Ihya 'Ulumuddin isinya (sekitar delapan puluh persen) diambil dari karya Imam Al-Muhasibi yaitu Ar-Ri'ayah li Huquqillah. Dua ratus tahun berlalu, Imam Ahmad ibnu Atha'llah Al-Iskandari mengarang kitab Al-Hikam. Jika Ar-Ri'ayah adalah magnum opus (karya besar monumental), maka Ihya 'Ulumuddin meletakkan dasar teori secara sistematis, objektif, filosofis dan logis. Karena negeri Iran, tempat majelis Al-Ghazali sudah bersentuhan dengan dunia filsafat Persia dan Yunani. Generasi pelanjut, Imam Ahmad ibnu Atha'llah Al-Iskandari memberikan panduan rinci pengalaman Ihya dalam bentuk petunjuk teknis (juknis) pembersihan hati dan amal. Sebab kitab Al-Hikam ditulis saat Ibnu Atha'llah melakukan khalwat. Karya inspiratif yang berbasis intuitif ketuhanan (khatir-rabbani). Tiga serangkai pemikir muslim dengan tiga karya monumental, wajib dipahami oleh para mursyid dan para murid. Bergegas para pencinta, peminat, pengkaji, peneliti dan pengamal ajaran Islam terutama dunia batin tasawuf. Mengingat kitab Ar-Ri'ayah, Ihya 'Ulumuddin dan Al-Hikam sangat signifikan dan memiliki nilai urgensi dalam ruang dan kelas kajian tasawuf. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI