SATU TAHUN HAUL PERTAMA ALMARHUMAH IBUNDA AZIZAH BINTI BEDU: MENGENANG KEBAIKAN MERUPAKAN DOA KEBAHAGIAAN DI TAMAN SURGA
SATU TAHUN HAUL PERTAMA ALMARHUMAH IBUNDA AZIZAH BINTI BEDU:
MENGENANG KEBAIKAN MERUPAKAN DOA KEBAHAGIAAN DI TAMAN SURGA
Oleh
Ma’ruf Zahran Sabran
"JADIKAN kubur ibunda almarhumah Azizah binti Bedu taman
diantara taman-taman surga." Doa yang pasti tak terlupakan ketika haul.
Memohon ibunda almarhumah Azizah binti Bedu ditempatkan bersama keluarga yang
telah mendahului. Tiadalah doa dari hati yang tulus taat beriman, kecuali Allah
ijabah. Berdasarkan firman-Nya: "Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu
(Muhammad) tentang Aku. Maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permintaan orang yang
meminta. Hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dengan beriman kepada-Ku. Semoga
mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah:186)."
Ingatan kebaikan yang tak hilang dalam haul pertama untuk
almarhumah merupakan hari raya baginya. Hidangan doa terus berdatangan dari
majelis keluarga dan sahabat yang masih hidup di dunia. Apalagi almarhumah
termasuk bagian dari Jama'ah Tauhidiyah Ahadiyah (JTA) yang langsung diasuh dan
dibai'at oleh Tuan Guru Usman bin Melek Al-Muqaddas.
Penulis mengenang almarhumah yang memasak nasi kuning beserta ayam
panggang untuk dibacakan do'a Rasul saat kami bai'at pertama. Sweet memories
(kenangan manis) bersama almarhumah Azizah tentu masih diingat, melekat di hati
JTA. Sambil almarhumah mendampingi, ikut mendoakan setiap jama'ah yang dibai'at
dan ikut menyimak penjelasan Tuan Guru Usman bin Melek Al-Muqaddas berupa
nasehat, petuah, tausiah bagi jama'ah yang baru bergabung.
Setelah beberapa kali berobat ke Rumah Sakit, almarhumah
menghembuskan nafas terakhir. Tanda perpisahan jasad dengan roh. Karena roh
akan kembali kepada sayang Tuhannya. Sebagai yang telah dituturkan oleh Tuan
Guru Usman bin Melek Al-Muqaddas kepada penulis. Ketika naza' (ilmu keputusan
terakhir) yaitu satu menit sebelum maut. Atau masa enam puluh detik yang sangat
menentukan: Husnul-khatimah atau Su'ul-khatimah. Sang-Tuan Guru mendekat ke
telinga ibunda dan berkata dengan pelan: "Mama, siapakah Tuhan kita yang
sebenar-benarnya?" Ibunda Azizah tidak sanggup mengatakan Tuhan yang
sebenarnya. Tuhan bukan nama dan sifat, tapi melampaui semua yang ada. Sehingga
Dia bukan ucapan (la shaut). Dia bukan gambaran meskipun di dalam benak (la
mushawwir). Dia bukan yang dipercakapkan oleh mulut manusia (la kalam). Dia
tidak bisa dituliskan oleh pena siapapun (la qalam). Namun Dia dahulunya ada,
sekarang ada, dan akan tetap ada. Dia hidup tidak pernah mati. Dia selalu
hadir, selalu terbit tidak pernah terbenam. Dia terang tidak pernah gelap.
Namun Dia tidak boleh dinisbatkan dengan ada, hidup dan terang. Jelas, menyata
diri-Nya di dalam hati dan roh orang yang telah mengenal Allah ('arif billah).
Azizah telah mengenal sejati zat-Nya yang agung. Bukan di lisan Azizah,
melainkan di roh sesuai janji Azizah di rumah Tuhan dahulu, alam arwah. Menyaksikan
bukan menyebutkan, hak pribadi Azizah secara khusus dengan Tuhannya, bukan
dengan manusia umumnya.
Sesuai dengan sanad ilmu gurunya, Tuan Guru Haji Ismail Mundu bin
Haji Abdul Karim Daeng Palewo bahwa Islam adalah agama rahasia. Rahasia agama
terletak pada kasih, sayang, cinta. Rahasia kasih, sayang, cinta merupakan rasa
terdalam dari roh yaitu sifat rahmaniyyatullah. Luas dan dalam rahasia agama
penuh rahmat, sehingga Azizah tidak akan pernah sanggup mengatakan Tuhan
sebatas nama, Tuhan sekadar gelar, atau Tuhan hanya dipagari oleh sifat.
Keyakinan Azizah yang mendalam kepada Tuhannya, berarti iman yang lebih berat
daripada seluruh alam semesta. Karena, segala puji bagi Allah Tuhan yang
menguasai alam semesta raya.
Menjawab pertanyaan Tuan Guru Usman bin Melek Al-Muqaddas tadi,
ibunda Azizah binti Bedu hanya menjawab dengan isyarat telunjuk tangan kanan ke
langit. Isyarat batin: Ahad, Ahad, Ahad (esa, esa, esa) tanpa dua-Nya, tanpa
tiga-Nya. Tiga kali pertanyaan berulang dibisikkan Tuan Guru Al-Muqaddas kepada
ibunda. Jawaban isyarat hakikat ialah dengan tangan telunjuk kanan simbol
membuka langit. Ibarat aku akan kembali kepada Ahad, Ahad, Ahad. Dampak baik
dari sikap menyokong setiap bai'at yang digelar di rumah Tuan Guru. Dampak
positif dari selalu menyimak tausiah Tuan Guru dan ikut mendoakan jama'ah yang
baru bai'at pada Perguruan Tauhidiyah Ahadiyah. Bai'at dua kalimah syahadat
yang dihadiri oleh Allah SWT dan disaksikan oleh Rasulullah SAW. Keikhlasan
hati, ketulusan niat ibunda almarhumah Azizah binti Bedu yang ditatap Allah
dengan tatapan ridha-Nya. Pandangan santun, lembut, kasih, sayang, cinta
Rasul-Nya yang kelak akan memberikan bantuan berupa syafa'at agung
(syafa'atul-udzma) di hari kiamat untuk ibunda almarhumah Azizah. Syafa'at yang
sangat dirindukan dan dinantikan oleh semua umat Nabi Muhammad SAW. Muhammad
Habiburrahman, kekasih dari Tuhan yang maha penyayang.
Tanpa terasa, satu tahun sudah ibunda almarhumah Azizah meninggalkan kita semua (2025-2026). Penulis menjadi saksi bahwa almarhumah adalah penyabar. Sakit yang dideritanya, tidak pernah ia kisahkan kepada siapapun. Ibunda tidak mau merepotkan anak-cucu dan keluarga besarnya. Pelajaran berharga bagi diri penulis sendiri bahwa: "Bicara itu perak, diam itu emas." Mengingat semua itu, senyuman almarhumah masih berbekas di hati, meski tanpa bicara. Pernah pula mengantar minuman kopi sewaktu penulis bertamu ke rumah guru, dengan menyapa: "Silakan minum Ustadz." Masya Allah, berbahagialah di sana ibunda dengan hidangan makanan yang lezat, minuman yang nikmat.
Ternyata, sapaan rindu dan sentuhan kecil ibunda sanggup mengundang keramahan dan kemurahan Allah SWT. Hari ini, bahkan diamnya mengandung sejuta hikmah. Kita merasa kehilangan, ada aura positif yang dahulu kita rasakan. Sekarang ibunda sudah tiada. Bukan jasadnya semata, tapi kita telah kehilangan doa, redha dari orang tua, sesepuh JTA. Diamnya adalah doa terbaik, diamnya ialah pemberian restu yang tidak pernah padam selamanya. Apa yang tertinggal hari ini adalah jejak kesabaran, ketulusan, menerima siapapun yang datang tanpa pertanyaan. Kecuali diterima sebagai keluarga besar, bukan sebagai orang asing. Getaran cinta yang penulis rasakan sendiri. Ibunda Azizah telah menjadi ibu bagi semua orang yang ingin mengambil hikmah, ilmu, adab, cahaya, berkah dan kearifan dalam hidup. Terbukti ibunda, sekali bersama Allah, selamanya selalu bersama-Nya. Puncak ma'rifat yang tak terpisah lagi dengan-Nya. Sebuah capaian tertinggi ibunda di kelas mahabbah, muraqabah, musyahadah, mukasyafah billah (4 M).
Terakhir, ucapan tahniah: Selamat kepada keluarga besar Azizah binti Bedu dalam penyelenggaraan satu tahun haul pertama di kediaman Tuan Guru Mursyid Usman bin Melek Al-Muqaddas, Pontianak, 20 September 2026. Barakallah khair.

Komentar
Posting Komentar