EKSISTENSI RAJA DUNIA TANPA MAHKOTA
EKSISTENSI RAJA DUNIA TANPA MAHKOTA
IBRAHIM bin Adham dahulu adalah anak dari seorang raja di negeri
Bagdad. Pada saat Ibrahim berburu di hutan sebagai kebiasaan anak raja beserta
para pembantu dan hulu-balang. Tengah di dalam hutan, Ibrahim mendengar suara
yang tidak didengar oleh para pembantunya. "Hai Ibrahim! Dengan tujuan
inikah engkau diciptakan?" Seakan tersentak dan terkejut dari bangun tidur
panjang. Ibrahim mencari sumber suara tersebut. Namun tidak ditemukan. Ibrahim berbalik
haluan dan mengajak seluruh rombongan pulang ke Bagdad. Ibrahim bin Adham
meninggalkan istana. Meskipun Ibrahim dipersiapkan menjadi putera mahkota
tunggal yang akan menggantikan tahta kerajaan ayahnya. Ibrahim lalu pergi ke
Mekah dan Madinah untuk berguru kepada sufi besar di sana.
Mereka yang melepas keterikatan terhadap dunia, adalah raja sejati
tanpa mahkota. Seorang sufi dari Mesir, Zunnun Al-Misri berkata: "Aku
tidak memiliki dan tidak dimiliki." Menunjukkan kesejatian diri yang
agung. Jika seseorang sudah menyerahkan diri kepada Allah SWT. Pasti sungguh
tidak ada lagi yang ditakuti dan dicemasi tentang masa depan. Tidak ada lagi
yang disesali tentang masa lalu. Kecuali kebahagiaan masa kini. Karena sudah
mengenal-Nya. Kondite hamba Tuhan yang sangat baik, melampaui ekspektasi.
Berkata Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (wafat:
1111 Masehi). Raja dunia yang lapang hati dan luas dada. Kebanyakan mereka
ialah hamba Allah SWT berkualitas raja dunia tanpa mahkota.
Imam Ahmad ibnu Athailllah Al-Iskandari (wafat: Mesir, 709 Hijriah)
dalam kitab Al-Hikam mengatakan: "al-kaunu dzulum" (alam semesta
adalah gelap). Maknanya, orang yang belum mengenal Allah SWT sesungguhnya sedang
berjalan di dalam kegelapan. Sampai menemukan suluh dari cahaya kebenaran
seperti yang diutarakan Nabi Ibrahim kepada Namrud. Didakwahkan Nabi Musa
kepada Fir'aun. Ajaran kesederhanaan yang diserukan Isa kepada bangsa Romawi.
Menjauhi zina, riba, berjudi, minuman keras dan mengundi nasib. Bukan malah
menjadi stempel kekuasaan dan tidak menjadi katalisator pembenar istana.
Hijab (dinding) terbesar ketuhanan adalah dunia. Dunia mampu
merubah wujud untuk menggoda manusia. Semakin tua umur dunia, semakin hebat
"bersolek, berdandan." Tamsil yang diperlihatkan Tuhan tentang dunia
umpama nenek tua-renta. Namun berhias seperti gadis. Nenek itu melambaikan
tangan tepat dihadapan Rasulullah SAW
ketika perjalanan Isra' Mi'raj dengan suara mendayu: "Muhammad, Muhammad,
kesinilah." Rasulullah SAW tidak menyahut.
Secara lahiriah, dunia adalah kesenangan. Tapi secara batiniah,
dunia mengandung pelajaran. Tidak sedikit manusia yang terseret arus dan
ditenggelamkan oleh dunia yang manis. Dunia pahit dapat menyebabkan seseorang
kufur. Dalam Hadis disebut: "Hampir saja kefakiran mendekatkan kepada
kekafiran (Hadis riwayat Abu Daud)." Dunia manis dapat menyebabkan
seseorang lupa jati diri. Kebagusannya dapat membuat diri terbakar
hangus. Tidak sedikit yang menjual
atau menutupi kebenaran untuk diganti dengan sekarung emas dan sepundi ringgit.
Menghalangi manusia dari jalan Allah SWT dan memakan harta diantara manusia
dengan cara yang batil.
Isi dunia yang selalu bergelayut di hati manusia adalah senang dan
sedih. Kedua lapisan luar dari rasa tersebut telah dimainkan oleh syaitan
sebagai musuh eksternal manusia. Dan diperturutkan oleh hawa nafsu sebagai
musuh internal. Keduanya menjadi hijab untuk mahabbah dan mukasyafah billah.
Manusia terhalang untuk mencintai-Nya, terdinding untuk menyaksikan-Nya.
Mengilmui kalimah syahadat lalu banyak memohon ampun kepada Allah
merupakan dua hal yang beriringan. Dinukil dari surah Muhammad ayat 19
difirmankan Tuhan: "Maka ketahuilah, sesungguhnya Dia, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Memohon ampunlah atas
dosamu dan untuk mukminin dan mukminat. Dan Allah mengetahui tempat kediamanmu
dan tempat usahamu."
Ciri raja dunia tanpa mahkota adalah mereka yang mengimani kalimah
syahadat dan istighfar bukan sebatas dibaca. Tapi wajib diilmui dan diamalkan.
Makna tidak ada Tuhan kecuali Allah adalah tidak ada perbuatan kecuali Allah.
Perluasan makna syahadat tauhid (keesaan) ialah, pertama, tidak ada yang sanggup
memberi manfaat dan mudharat kecuali
Allah. Terbuka hijab hati yang mengajarkan
jangan mengambil manfaat dari makhluk dan jangan menampik mudharat darinya.
Karena makhluk tidak kuasa untuk mengundang manfaat. Makhluk tidak kuasa
menghadang mudharat, kecuali atas kehendak Allah SWT. Sehingga semua ilmu
santet, seluruh ilmu sihir hancur berkeping-keping. Ketika sebelum melancarkan
serangan.
Ciri kedua, raja dunia tanpa mahkota ialah mereka yang mengimani tauhid, tidak ada yang mampu memuliakan
dan menghinakan makhluk, kecuali Allah. Manusia tidak ada peran sedikitpun
untuk memuliakan dan menghinakan seseorang. Melainkan atas kehendak, kuasa Tuhan. Implikasinya, jangan meminta
keberlimpahan pujian, gelar kehormatan, anugerah kemuliaan kepada manusia.
Jangan merendah dan menghinakan diri di hadapan manusia. Berlakulah sewajarnya
sebagai sesama hamba Allah SWT.
Tanpa kesadaran primordial keesaan Tuhan yang berdampak, manusia
sangat mudah labil. Labilitas hati disebabkan keinginan dunia yang diperturuti,
ancaman manusia yang ditakuti, pujian manusia yang diikuti. Jika ego sentris lebih mengemuka daripada kemaslahatan
agama. Maka nantikan kehancuran bumi. Bila ego organisasi banyak mengedepan
daripada merangkul banyak bendera. Ibarat menyimpan bom waktu, siap menunggu
ledak.
Ciri ketiga adalah, mengimani tidak ada Tuhan yang sanggup merendahkan dan meninggikan derajat,
kecuali Allah. Bebas manusia tauhid dari berhutang jasa kepada makhluk. Dan
apapun hutang yang telah diberikan, semua tidak terlepas dari cakupan
pengetahuan dan pengawasan Allah SWT. Ikhlaskan apa yang sudah dilepas. Relakan apa yang sudah ditolong. Tanpa mengungkit
jasa dan tidak menggali lubang kebaikan yang telah ditanam sejak lama.
Ciri keempat adalah, mengimani tidak ada Tuhan yang mampu meluaskan
dan menyempitkan rezeki, kecuali Allah. Dia yang selalu Maha Memberi Rezeki,
menentukan, menetapkan dan mengantar rezeki tepat sasaran melalui para utusan
yang Dia tunjuk. Sehingga rezeki datang tidak salah alamat dan tidak salah
tuju. Demikian juga, ketika Dia berkehendak untuk menyempitkan rezeki. Sampai
ke ujung langit berusaha tetap sempit. Namun pasti sesuai takar.
Implikasi beriman kepada rezeki Allah SWT seluas langit dan bumi.
Generasi abad-21 telah merasakan bahwa rezeki tidak hanya di bumi yang
terhampar. Melainkan di langit yang terluas. Dalam arti memaksimalkan fungsi
satelit seperti universitas virtual. Rezeki langit yang tidak lagi menjejerkan
ruang kuliah bertingkat 21 lantai ke atas. Tapi dengan gmeet dan zoom meeting
lebih menghemat ruang kuliah, waktu, biaya, tenaga, sarana dan prasarana. Rezeki
langit yang dikaruniakan Allah bagi Gen-Z. Fakta lompatan teknologi manual ke
teknologi digital berdampak. Wallahu a'lam.

Komentar
Posting Komentar