EKSISTENSI RAJA DUNIA TANPA MAHKOTA



 EKSISTENSI RAJA DUNIA TANPA MAHKOTA

Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran

 

IBRAHIM bin Adham dahulu adalah anak dari seorang raja di negeri Bagdad. Pada saat Ibrahim berburu di hutan sebagai kebiasaan anak raja beserta para pembantu dan hulu-balang. Tengah di dalam hutan, Ibrahim mendengar suara yang tidak didengar oleh para pembantunya. "Hai Ibrahim! Dengan tujuan inikah engkau diciptakan?" Seakan tersentak dan terkejut dari bangun tidur panjang. Ibrahim mencari sumber suara tersebut. Namun tidak ditemukan. Ibrahim berbalik haluan dan mengajak seluruh rombongan pulang ke Bagdad. Ibrahim bin Adham meninggalkan istana. Meskipun Ibrahim dipersiapkan menjadi putera mahkota tunggal yang akan menggantikan tahta kerajaan ayahnya. Ibrahim lalu pergi ke Mekah dan Madinah untuk berguru kepada sufi besar di sana.

Mereka yang melepas keterikatan terhadap dunia, adalah raja sejati tanpa mahkota. Seorang sufi dari Mesir, Zunnun Al-Misri berkata: "Aku tidak memiliki dan tidak dimiliki." Menunjukkan kesejatian diri yang agung. Jika seseorang sudah menyerahkan diri kepada Allah SWT. Pasti sungguh tidak ada lagi yang ditakuti dan dicemasi tentang masa depan. Tidak ada lagi yang disesali tentang masa lalu. Kecuali kebahagiaan masa kini. Karena sudah mengenal-Nya. Kondite hamba Tuhan yang sangat baik, melampaui ekspektasi.

Berkata Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (wafat: 1111 Masehi). Raja dunia yang lapang hati dan luas dada. Kebanyakan mereka ialah hamba Allah SWT berkualitas raja dunia tanpa mahkota.

Imam Ahmad ibnu Athailllah Al-Iskandari (wafat: Mesir, 709 Hijriah) dalam kitab Al-Hikam mengatakan: "al-kaunu dzulum" (alam semesta adalah gelap). Maknanya, orang yang belum mengenal Allah SWT sesungguhnya sedang berjalan di dalam kegelapan. Sampai menemukan suluh dari cahaya kebenaran seperti yang diutarakan Nabi Ibrahim kepada Namrud. Didakwahkan Nabi Musa kepada Fir'aun. Ajaran kesederhanaan yang diserukan Isa kepada bangsa Romawi. Menjauhi zina, riba, berjudi, minuman keras dan mengundi nasib. Bukan malah menjadi stempel kekuasaan dan tidak menjadi katalisator pembenar istana.

Hijab (dinding) terbesar ketuhanan adalah dunia. Dunia mampu merubah wujud untuk menggoda manusia. Semakin tua umur dunia, semakin hebat "bersolek, berdandan." Tamsil yang diperlihatkan Tuhan tentang dunia umpama nenek tua-renta. Namun berhias seperti gadis. Nenek itu melambaikan tangan tepat dihadapan Rasulullah SAW ketika perjalanan Isra' Mi'raj dengan suara mendayu: "Muhammad, Muhammad, kesinilah." Rasulullah SAW tidak menyahut.

Secara lahiriah, dunia adalah kesenangan. Tapi secara batiniah, dunia mengandung pelajaran. Tidak sedikit manusia yang terseret arus dan ditenggelamkan oleh dunia yang manis. Dunia pahit dapat menyebabkan seseorang kufur. Dalam Hadis disebut: "Hampir saja kefakiran mendekatkan kepada kekafiran (Hadis riwayat Abu Daud)." Dunia manis dapat menyebabkan seseorang lupa jati diri. Kebagusannya dapat membuat diri terbakar hangus. Tidak sedikit yang menjual atau menutupi kebenaran untuk diganti dengan sekarung emas dan sepundi ringgit. Menghalangi manusia dari jalan Allah SWT dan memakan harta diantara manusia dengan cara yang batil.

Isi dunia yang selalu bergelayut di hati manusia adalah senang dan sedih. Kedua lapisan luar dari rasa tersebut telah dimainkan oleh syaitan sebagai musuh eksternal manusia. Dan diperturutkan oleh hawa nafsu sebagai musuh internal. Keduanya menjadi hijab untuk mahabbah dan mukasyafah billah. Manusia terhalang untuk mencintai-Nya, terdinding untuk menyaksikan-Nya.

Mengilmui kalimah syahadat lalu banyak memohon ampun kepada Allah merupakan dua hal yang beriringan. Dinukil dari surah Muhammad ayat 19 difirmankan Tuhan: "Maka ketahuilah, sesungguhnya Dia, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Memohon ampunlah atas dosamu dan untuk mukminin dan mukminat. Dan Allah mengetahui tempat kediamanmu dan tempat usahamu."

Ciri raja dunia tanpa mahkota adalah mereka yang mengimani kalimah syahadat dan istighfar bukan sebatas dibaca. Tapi wajib diilmui dan diamalkan. Makna tidak ada Tuhan kecuali Allah adalah tidak ada perbuatan kecuali Allah. Perluasan makna syahadat tauhid (keesaan) ialah, pertama, tidak ada yang sanggup memberi manfaat dan mudharat kecuali Allah. Terbuka hijab hati yang mengajarkan jangan mengambil manfaat dari makhluk dan jangan menampik mudharat darinya. Karena makhluk tidak kuasa untuk mengundang manfaat. Makhluk tidak kuasa menghadang mudharat, kecuali atas kehendak Allah SWT. Sehingga semua ilmu santet, seluruh ilmu sihir hancur berkeping-keping. Ketika sebelum melancarkan serangan.

Ciri kedua, raja dunia tanpa mahkota ialah mereka yang mengimani tauhid, tidak ada yang mampu memuliakan dan menghinakan makhluk, kecuali Allah. Manusia tidak ada peran sedikitpun untuk memuliakan dan menghinakan seseorang. Melainkan atas kehendak, kuasa Tuhan. Implikasinya, jangan meminta keberlimpahan pujian, gelar kehormatan, anugerah kemuliaan kepada manusia. Jangan merendah dan menghinakan diri di hadapan manusia. Berlakulah sewajarnya sebagai sesama hamba Allah SWT.

Tanpa kesadaran primordial keesaan Tuhan yang berdampak, manusia sangat mudah labil. Labilitas hati disebabkan keinginan dunia yang diperturuti, ancaman manusia yang ditakuti, pujian manusia yang diikuti. Jika ego sentris lebih mengemuka daripada kemaslahatan agama. Maka nantikan kehancuran bumi. Bila ego organisasi banyak mengedepan daripada merangkul banyak bendera. Ibarat menyimpan bom waktu, siap menunggu ledak.

Ciri ketiga adalah, mengimani tidak ada Tuhan yang sanggup merendahkan dan meninggikan derajat, kecuali Allah. Bebas manusia tauhid dari berhutang jasa kepada makhluk. Dan apapun hutang yang telah diberikan, semua tidak terlepas dari cakupan pengetahuan dan pengawasan Allah SWT. Ikhlaskan apa yang sudah dilepas. Relakan apa yang sudah ditolong. Tanpa mengungkit jasa dan tidak menggali lubang kebaikan yang telah ditanam sejak lama.

Ciri keempat adalah, mengimani tidak ada Tuhan yang mampu meluaskan dan menyempitkan rezeki, kecuali Allah. Dia yang selalu Maha Memberi Rezeki, menentukan, menetapkan dan mengantar rezeki tepat sasaran melalui para utusan yang Dia tunjuk. Sehingga rezeki datang tidak salah alamat dan tidak salah tuju. Demikian juga, ketika Dia berkehendak untuk menyempitkan rezeki. Sampai ke ujung langit berusaha tetap sempit. Namun pasti sesuai takar.

Implikasi beriman kepada rezeki Allah SWT seluas langit dan bumi. Generasi abad-21 telah merasakan bahwa rezeki tidak hanya di bumi yang terhampar. Melainkan di langit yang terluas. Dalam arti memaksimalkan fungsi satelit seperti universitas virtual. Rezeki langit yang tidak lagi menjejerkan ruang kuliah bertingkat 21 lantai ke atas. Tapi dengan gmeet dan zoom meeting lebih menghemat ruang kuliah, waktu, biaya, tenaga, sarana dan prasarana. Rezeki langit yang dikaruniakan Allah bagi Gen-Z. Fakta lompatan teknologi manual ke teknologi digital berdampak. Wallahu a'lam.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI