KESEIMBANGAN RELASI JASMANI-ROHANI SIMPUL KEBAIKAN SEHATI

 


KESEIMBANGAN RELASI JASMANI-ROHANI SIMPUL KEBAIKAN SEHATI

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

 

PERNAHKAH kita terpikir tentang orang yang kita temui, jalan yang kita lewati, rumah yang kita tempati. Seakan pernah kita lihat, tapi entah di mana, kapan? Sekelumit gambar masa lalu yang pernah kita lihat lalu terproyeksi masa sekarang. Situasi ini riil, bahwa manusia adalah makhluk surga atau minimal makhluk langit yang diturunkan oleh Allah SWT ke bumi. Secara implisit membuktikan asal mula seluruh manusia adalah beriman. Dasar teologisnya adalah: "Hai orang-orang yang beriman. Berimanlah ...! (An-Nisa':136)."

Tugas hidup semua orang adalah membongkar catatan langit tersebut. Sebelum terlambat ketika datang ajal kematian. Tapi diri lupa, belum sadar tatkala perjanjian primordial pernah disaksikan dan menyaksikan. Pintu gerbang langit tersebut dapat dibuka dengan iman. Iman yang akan membuka data pribadi tersimpan dengan rapi. Seruan kepada semua orang itu sama. Sebab kita memiliki kitab pribadi masing-masing. Bukan sebatas ahli kitab dari kalangan umat terdahulu. Kesamaan ajaran tersebut adalah menyeru kepada kalimat yang sama (konsensus bersama), yaitu sembahlah Allah dan jangan persekutukan Dia dengan sesuatu.

Namun ibadah untuk dapat sampai ke langit sangat berat. Karena berpuluh tahun manusia disuapi, dilumuri, dibedaki oleh unsur bumi yang terdiri dari tanah, air, api, angin. Inilah hijab (dinding perintang) terbesar saat manusia sulit menembuskan doa ke langit. Karena kesan duniawi tidak saja merasuk tapi telah melekat menjadi pendengaran, penglihatan dan hati. Sering kitab suci memperingatkan, apakah kamu tidak berpikir? Karena pendengaran, penglihatan dan hati, akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.

Perimbangan sebutan bumi dan langit mencirikan dualitas semesta yang seimbang. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran menyebut langit yang berfungsi mengandung potensi hujan lebat guna menghidupkan bumi setelah matinya. Di langit tersimpan catatan rezeki seseorang dan apa-apa yang dijanjikan. Langit yang memiliki gugusan bintang, matahari dan bulan. Mereka beredar menurut garis edarnya masing-masing. Selain berguna bagi pergantian tahun, bulan, musim. Juga sebagai penentuan waktu ibadah. Sumber pengetahuan metereologi, klimatologi dan geofisika. Serta berguna bagi pengembangan bio-teknologi pertanian.

Dalam perspektif filsafat, ada yang mengibaratkan langit adalah ayah dan bumi adalah ibu. Ada pula yang mengibaratkan langit merupakan unsur rohani dan bumi unsur jasmani manusia. Menghilangkan atau membuang satu dari dua unsur tersebut, akan berakhir ketimpangan. Ketimpangan merupakan titik awal kebimbangan. Sebab Allah SWT menciptakan alam semesta, lalu meletakkan neraca keseimbangan (mizan). Dia adil pada langit dan bumi, malam dan siang, bulan dan matahari, lautan dan daratan. Sikap manusia terhadap relasi jasmani-rohani terbagi pada tiga kategori:

Pertama: Ada jasmani, tidak ada rohani. Kondisi paling kritis yang apabila tidak segera diobati akan terbawa sakit sampai hari kiamat. Hati yang terbelah.

Cirinya ialah selalu menilai manusia dari pandangan inderawi. Mereka hidup layaknya makhluk hidup. Bernapas, bergerak, berkembang-biak. Namun mereka sulit untuk merasa simpati dan empati kepada orang lain. Mereka memiliki akal yang sebatas memenuhi keinginan, hasrat jasmaninya. Al-Quran sangat banyak merinci manusia yang hanya punya potensi lahiriah yang hidup, tapi telah mengalami kematian batiniah sejak lama.

Artinya, mereka memiliki mata, tapi tidak melihat. Mereka memiliki telinga, tapi tidak mendengar. Bukan mata yang buta, bukan telinga yang tuli. Tapi hati yang buta dan tuli. Jasmani mereka bertumbuh. Rohani mereka mati. Kualitas hidup rohani mereka lebih buruk daripada hewan ternak. Kondisi yang difirmankan Tuhan, surah Al-A'raf ayat 179: "Dan sungguh Kami akan mengisi neraka Jahanam dari kebanyakan bangsa jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tidak memahami dengan hatinya. Mereka memiliki mata, tidak melihat. Mereka memiliki telinga, tidak mendengar. Mereka itulah hewan ternak. Bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai."

Dampak buruk manusia tanpa hati-nurani yang berfungi untuk memikir, menelaah dan beriman. Mereka berbuat sesuka, sekehendak diri yang tidak takut kepada Allah SWT. Sejahat-jahat hewan melata yang buta, tuli, bisu, karena mereka tidak beriman. Telah berkata Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (wafat: 1111 Masehi), ketika beliau menasehati para murid. Nasehat tertulis dalam kitab Ayyuhal Walad: "Hai anakku sayang, hiduplah semaumu, niscaya kamu pasti akan menjadi mayat (mati). Cintailah apa saja yang engkau cintai, niscaya kamu pasti akan berpisah. Kerjakanlah sesukamu, niscaya kamu pasti akan diminta pertanggungjawaban."

Kedua: Ada rohani, tidak ada jasmani. Kondisi seseorang yang duduk pada derajat mematikan jasmani, menghidupkan rohani. Berbuat atas petunjuk rohani. Namun jasmani terabai.

Sejati hidup bukan sebatas bernapas, makan-minum untuk bertahan hidup, kawin, berkembang-biak, kemudian mati. Hewan juga bisa melakukannya. Sedangkan tata kelola kehidupan sudah diajarkan lewat kitab suci dan contoh langsung dari sang-nabi yang diutus. Bahwa esensi hidup tidak sekadar menarik dan menghembuskan nafas. Tapi menghidupkan keimanan di hati. Iman ibarat motor penggerak amal. Relasi iman dan amal menjadi bukti bahwa keduanya menciri kehidupan berkualitas.

Potret langit terhadap manusia di bumi beragam arsip. Ada yang hidup jasmani tapi mati rohani. Ibarat bangkai berjalan, menebar bau busuk hati, raga tanpa jiwa. Tatkala nasehat tidak lagi didengar. Tatkala ayat-ayat Tuhan tidak lagi dibaca. Hati sudah tidak sanggup lagi menerima hidayah. Analisa potret yang berkesimpulan: "Sesungguhnya orang-orang yang ingkar. Sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan. Mereka tetap tidak beriman (Al-Baqarah:6)." Karena iman sangat berharga, tidak bisa dibeli dengan seluruh kekayaan dunia. Iman tidak dapat ditebus dengan keluarga dan semua manusia yang menjadi taruhan. Mereka yang hanya menghidupkan dunia dan mematikan akhirat. Narasi dan naluri hidayah telah Dia tutup selamanya.

Jika nalar langit telah tertutup, maka gelap kehidupan manusia. Hati sudah tidak sanggup membaca isyarat rohani. Karena terdapat tembok penghalang tebal yang melapisi antara diri bumi dan diri langit berupa sikap sombong, bermegahan, berlebihan.

Sedangkan orang yang menghidupkan rohani dan mematikan jasmani. Berimplikasi tidak terlalu beruntung pada dimensi material. Melainkan kaya pada dimensi spiritual. Tidak memiliki banyak aset kekayaan. Namun banyak berisi ilmu dan murid. Mereka hakikatnya kaya, meskipun miskin. Dijelaskan dalam firman Tuhan (Ali Imran ayat 169-170): "Dan jangan kamu menyangka orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Melainkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan memperoleh rezeki. Mereka bersenang-senang terhadap apa yang telah didatangkan Allah kepada mereka berupa keutamaan dari-Nya. Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (dunia). Bagi yang belum menyusul mereka dengan kabar: Jangan takut dan jangan bersedih hati."

Ketiga: Seimbang jasmani-rohani. Resep dan praktik ideal moral agama yang proporsional, profesional, kebermanfaatan-ikhlas. Dunia-akhirat telah dipamong oleh Tuhan.

Menjalankan fungsi ideal insan kamil karena iman, ilmu, amal. Guna menepis sifat mula kemanusiaan yaitu sangat aniaya (dzaluma) dan sangat bodoh (jahula). Caranya, agama diturunkan, ilmu diajarkan. Tanpa anugerah ilmu, manusia tersesat, terlempar dari jalan lurus. Tanpa anugerah ilmu, manusia tidak mengenal iman, cahaya, kitab dan kebenaran. Sebab manusia jahula (sangat bodoh), akan menjadi dzaluma (sangat aniaya). Pentingnya ilmu, ilmu menuntun kepada keadilan. Keseimbangan yang memuat dua sistem yaitu diri jasmani-diri rohani, alam dunia-alam akhirat.

Istilah proporsional ialah cerdas menempatkan dunia pada proporsinya. Seperti sabda Rasulullah SAW: "Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu (Hadis riwayat Muslim)." Dan cerdas menempatkan akhirat pada proporsinya. Profesional artinya, sifat dunia ditanggapi dengan kebaikan dunia berupa ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Sifat akhirat ditanggapi dengan kebaikan akhirat berupa iman dan taqwa (IMTAQ). Simultan keduanya membuat dunia mudah dan akhirat terarah.

Adapun kebermanfaatan ikhlas ialah sifat hidup yang bernilai dan berharga untuk diri, keluarga, masyarakat, lingkungan dan kemanusiaan. Berikan apa yang telah diberikan dengan ikhlas. Jangan membatalkan pahala pemberian dengan berharap balasan lebih banyak, dan untuk menunaikan perintah Tuhanmu, bersabarlah. Wallahu a'lam.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI