MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang)

 


MEMUPUK NILAI IBADAH BERDAMPAK TERHADAP KEHIDUPAN (Kesadaran Beragama Bertumbuh, Bukan Kebiasaan Berulang)

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

AGAMA bukan semata doktrin, tapi juga metode penyampaian. Bahwa kebanyakan kita berhadapan dengan orang yang lebih dominan perasaan daripada pikiran. Umumnya mengedepankan emosi daripada intelek. Karena itu, pendekatan agama harus mementingkan rasa kemanusiaan, metode diskusi dan karakter kepedulian. Jangan sampai tindakan kekerasan mengatas-namakan disiplin, dan taat regulasi, sehingga menjadi bumerang lembaga pendidikan. Bagi masyarakat, tindakan kekerasan pasti dilawan dengan kekerasan. Sedangkan di sekolah, madrasah, pondok pesantren (pontren), jika kekerasan dilakukan kakak tingkat (kating) senior, maka pasti akan menumbuhkan rasa dendam di hati yunior, serta pewarisan sikap "pembantaian" yang terjadi berulang pada setiap tingkatan tahun ajaran.

Viral maraknya bullying (perundungan) di sekolah hingga membawa kematian, sebuah ironi yang terjadi di lembaga pendidikan sebagai miniatur masyarakat beradab dan berbudi pekerti luhur. Mengapa ini terjadi? Pelampiasan kekesalan di rumah yang tidak lagi kondusif. Tatkala kedua orang tua sibuk meraih karier dan gelar, anak menjadi korban terpapar. Rasa benci dan kesal ditujukan kepada teman sekolah yang dianggap lemah dan tidak berdaya. Disamping tugas sekolah yang menumpuk, segunung. Tugas akademik dan non akademik yang terasa tidak berujung. Anak di rumah berhadapan dengan orang tua yang sibuk, acuh, tidak peduli. Tugas orang tua sebagai pendidik kodrati, telah diambil alih oleh pembantu, digusur supir dan tukang kebun. Siswa di sekolah berhadapan dengan regulasi yang siap melindas. Bukankah hari ini, kita hanya menjadikan siswa robot yang hanya mau bergerak bila diperintah, kehilangan inisiasi dan inovasi. Tercerabut dari akar tunjang kemanusiaan, si-anak menjadi tumbang. Tidak kuat menahan arus angin kencang dan lemah menghadang pancaroba kehidupan. Fakta tatkala di rumah, si-anak menyaksikan kedua orangtuanya telah menjadi robot. Tatkala di sekolah, siswa menyaksikan gurunya telah menjadi robot. Semuanya diatur oleh "tombol." Agenda kerja umpama simbol digital abad ini, ibarat raja yang tidak bisa lagi dibantah. Siap menerima atau membuang seseorang ke tempat sampah digital. Berperilaku harus sesuai dengan aplikasi kurikulum online.  Artinya, guru telah kehilangan peran penting untuk menjadi manajer pembelajaran di kelas.

Solusi kekisruhan sekolah, perlu pembahasan tentang ibadah. Biasanya berhubungan dengan rukun Islam. Bila selama ini kajian rukun Islam sering ditinjau dari ilmu fikih. Literasi ini menelusuri nilai ibadah yang berdampak terhadap akhlak berbasis kesadaran, bukan saja kebiasaan yang setiap hari dikerjakan berulang. Lalu keseringan yang membuang kesadaran makna.

Salat Berdampak

Sudahkah dipahami, kenapa salat perlu niat? Aku berniat sengaja salat (maghrib) tiga rakaat, menghadap kiblat di waktu salat (maghrib) karena Allah Ta'ala.

Dalam urutan rukun salat, kenapa takbiratul-ihram lebih dahulu daripada berdiri tegak. Kedua rukun ini (niat dan takbiratul-ihram) perlu disorot dari sisi hakikat batin, bukan semata syariat zahir. Dalam praktiknya, berdiri dulu, baru niat dan takbiratul-ihram. Niat merupakan rukun qalbi (rukun hati). Maknanya, luruskan niat karena Allah yaitu lisan berucap di hati menancap untuk Allah yang tinggi (lillahi ta'ala).

Membuktikan semua unsur alam bergerak karena ijin Allah SWT. Sungguh jika semua manusia meyakini bahwa pergerakan benda langit dan bumi karena ijin dari-Nya. Maka ketundukan manusia seiring dengan ketundukan alam semesta kepada Tuhan. Bedanya, ketundukan manusia didasarkan oleh kesadaran, bukan semata rotasi semesta tanpa rasa dan tanpa kesadaran. Karena rutinitas seperti pergantian malam dan siang, perjalanan bulan dan matahari. Berdampak terhadap pergantian musim, pergantian hari, pekan, bulan dan tahun. Di dalam waktu tersebutlah manusia beribadah dan bekerja. Sebuah hikmah agung dari aturan dari-Nya yang semakin menyadarkan manusia untuk taat kepada-Nya. Bukan fanatisme buta. Namun ketaatan berbasis kesadaran dan ilmu pengetahuan.

Bacaan Allahu akbar (Allah Maha Besar) dalam salat menjadi rukun ucapan disetiap pergantian rukun gerakan salat. Hikmah yang dikandungnya, membuktikan bahwa untuk sekadar mengangkat kedua tangan dan berdiri tegak menghadap kiblat, seseorang harus bertakbir terlebih dahulu, sekaligus membuktikan betapa lemah manusia. Demikian pula pergantian antar gerakan salat yang diawali dengan takbir. Membuktikan wajib menyertakan kebesaran Allah dalam seluruh aktivitas. Hikmah berdampak pada penyebutan kebesaran nama Allah SWT dalam gerak dan diam terlebih dahulu, sebelum menyebut nama yang lain.

Salat berdampak pada akhlak dan adab mulia menjadi indikator salat yang diterima (maqbul). Maksudnya, salat yang sanggup menyuruh seseorang berperilaku akhlakul-mahmudah (akhlak terpuji). Dan salat yang sanggup mencegah seseorang berperilaku akhlakul- madzmumah (akhlak tercela).

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-Ankabut ayat 45: "Bacalah apa yang telah diwahyukan Allah kepadamu (Muhammad) dari Al-Kitab (Al-Quran). Dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan mengingat Allah (salat) lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu usahakan." Jelas ayat ini menerangkan hubungan erat antara salat dengan akhlak.

Zakat Berdampak

Akhir-akhir ini, kesadaran berzakat bertumbuh, berkembang dan meningkat. Namun apakah ibadah harta tersebut berdampak signifikan terhadap pembangunan akhlak?

Idealnya, berzakat seiring bertumbuh akhlak mulia seperti tidak rakus terhadap harta duniawi. Ajaran zakat yang sangat pundamental yaitu mampu memisahkan diri dari kecintaan terhadap harta. Membuang ketergantungan, kepemilikan dan kemelekatan padanya.

Demikian literasi salat dan zakat berdampak akhlak. Dalam rangka saling mengingatkan, saling menasehati kepada kebenaran dan untuk kesabaran. Sebab manusia sangat sering salah, bahkan menjadi tempat salah (mahallul-khatha'). Insan sangat mudah lupa, bahkan menjadi tempat lupa (mahallun-nisyan). Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI