MENGENAL LEBIH DEKAT ABDURACHMAN ABROR (Ilmuwan Berintegritas)
MENGENAL LEBIH DEKAT ABDURACHMAN ABROR (Ilmuwan Berintegritas)
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
ABDURACHMAN, kelahiran Banjar Negara, Jawa Tengah, 25 Desember
1939. Ketika Kalimantan Barat masih kekurangan guru, beliau datang mengabdikan
diri sejak Januari, 1971. Tidak ada niat hengkang dari bumi Khatulistiwa atau
pindah tugas (mutasi) ke Jakarta dan tanah kelahiran, telah menjadi prinsip
hidupnya. "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung." Beliau juga mengabdi sebagai guru PGAN
(Pendidikan Guru Agama Negeri) Pontianak. Tugas utama beliau ialah dosen IAIN
Syarif Hidayatullah Cabang Jakarta di Pontianak sampai purna tugas. Mengingat
ketika itu, jumlah dosen di Pontianak, masih sangat sedikit. Sayap pengabdian
beliau mengajar diperluas ke banyak tempat,
UNTAN, UPB, APDN dengan mengampu mata kuliah Agama Islam. Sekitar tahun
1972-1985, beliau aktif sebagai penceramah dan pembina rohani Lembaga
Pemasyarakatan (LP) Pontianak. Dimana penghuninya kebanyakan tahanan politik
(TAPOL) eks PKI, seperti yang dikisahkan kepada penulis. Abd. Rachman Abror
sering membawa buku, majalah dan koran. Karena penghuni LP juga terdapat kaum
intelektual eks- PKI, diantaranya
pejabat dan pengusaha.
Hampir semua guru Kalimantan Barat pernah mendapat asuhan dan
didikan beliau. Hidupnya sangat sederhana. Selain gaji dosen yang kurang
mencukupi, beliau tidak segan-segan memelihara ayam, kambing, dan berkebun.
"Ngarit" rumput menjadi tradisi beliau di luar jam dinas. Tanpa rasa
malu, beliau telah menjadi contoh bahwa bekerja merupakan bentuk upaya
mensyukuri nikmat sehat dari-Nya daripada meminta-meminta. Pelajaran berharga
lain adalah beliau sangat menjunjung tinggi disiplin. Sehingga mahasiswa
terbiasa disiplin, jujur, sederhana. Tiga karakter yang sangat menonjol dari
beliau. Sehingga beliau disebut dosen dan pejabat dekan paling bersih. Berani
menolak "rasuah" (sogok-menyogok) meski permintaan dari oknum pegawai
pusat. Menjunjung tinggi hukum dan menaati undang-undang. Beliau sangat
berintegritas, berkomitmen memajukan pendidikan.
Beliau sangat santun bila di luar jam kuliah. Tapi sangat disiplin
dan serius jika berbicara ilmu pengetahuan di ruang perkuliahan. Sosok ilmuwan
yang patut diteladani oleh semua ilmuwan. Sumber pencerahan pendidikan bagi
kaum pendidik. Sumber hikmah untuk para agamawan yang ingin menemukan
kesejatian, kemurnian dan ketulusan beragama. Tidak hanya disenangi di kalangan
muslim. Namun beliau juga memiliki sahabat lintas iman dan kepercayaan. Jangan
heran, sekiranya beliau diterima di semua tempat. Meski ramah, tapi beliau
teguh memegang tiga prinsip. Disiplin, jujur, sederhana, sehingga disenangi
kawan dan disegani lawan.
Abd. Rachman Abror selama menjabat Dekan Fakultas Tarbiyah
(1979-1984) dan selama menjadi dosen, sangat banyak kenangan abadi tentang sang
guru. Setiap pagi pukul 05.45, beliau sudah di kampus dengan sahabat setianya,
mesin ketik dan buku Psikologi Pendidikan yang beliau terjemah dari bahasa
Inggris ke bahasa Indonesia. Buku Educational Psychology karya Lester D. Crow
dan Alice Crow (Crow and Crow). Buku yang menjadi pegangan dosen dan mahasiswa
di IAIN, STKIP PGRI dan FKIP UNTAN masa itu. Kecuali itu, beliau juga mengarang
buku Psikologi Pendidikan yang diterbitkan oleh Tiara Wacana Yogyakarta (1990).
Beliau juga menulis buku yang berjudul Tafsir Al-Fatihah, Psikologi Agama,
Studi Perbandingan Agama sebagai modul mata kuliah yang diampu.
Contoh materi kuliah Perbandingan Agama yang beliau sampaikan:
"Tujuan mempelajari Perbandingan Agama bukan untuk mencari titik kelemahan
agama-agama. Namun menemukan titik kekuatan, sebagai modal guna memotivasi diri
menjadi lebih baik." Sebuah pernyataan yang tidak semua bisa diterima oleh
mahasiswa. Sedangkan kuliah Psikologi Agama, beliau mengatakan: "Fenomena
ritual doa terdapat pada semua agama. Tidak penting lirik doa. Apabila tidak
sampai kepada puncak kebaktian tertinggi (summum-bonum)." Banyak lagi,
materi kuliah yang paradoks dalam perspektif mahasiswa.
Tidak heran bila dinas ke daerah beliau disambut hangat oleh
bupati, para camat dan kapolres. Rekam jejak akademik beliau pernah menjadi
dosen di APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Pontianak. Demikian pula di
jajaran Kepolisian, beliau pernah mengajar di SPN (Sekolah Polisi Negara)
Pontianak, sebagai riwayat pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi. Membelah
diri dan membagi waktu, saat Pontianak masih kekurangan dosen, hanya tujuh
orang dosen tetap IAIN Pontianak kala itu. Beliau aktif di dalam dan di luar
kampus IAIN Syarif Hidayatullah Pontianak.
Peran Tut Wuri Handayani telah beliau jalankan dengan aktif.
Kecuali itu, membangun karsa di tengah generasi muda pembelajar sudah beliau
perankan dengan baik selama menjabat. Di mata penulis, beliau lebih dari
seorang dosen yang tegas, ayah yang ramah, sahabat yang bisa diajak berbagi
suka dan duka. Buktinya, salah satu program kerja HMI (Himpunan Mahasiswa
Islam) cabang Pontianak adalah diskusi kontinyu setiap Sabtu malam Ahad. Ketika
diminta sebagai narasumber tetap kajian, beliau dengan senang hati menyanggupi.
Hadir dosen muda ketika itu, Hamka Siregar, Marsih Muhammad dan
mahasiswa pencinta kajian (1992-1994).
Kalangan mahasiswa diantaranya Hasan Basri, Jafari, Aida Mokhtar, Mursalin dan
yang lain. Membahas buku karya Prof. Fazlur Rahman (Guru Besar UCLA), lahir:
Pakistan, 21 September 1919, wafat: Chicago, USA, 26 Juli 1988. Bukunya adalah:
Islam (1966), Islam and Modernity (1982), Major Themes of the Quran (1980).
Atmosfer akademik (non formal) sangat terasa, tersambung link antar dua
generasi. Membangun peradaban minimal kerangka ilmu dan landasan pengetahuan.
Meski tidak banyak yang hadir, namun semangat keilmuan terpancar di wajahnya.
Panggilan jiwa yang sudah tertanam sejak lama di Yogyakarta, ketika PGAN di
sana (ikatan dinas). Dan dua gelar kesarjanaan diraih dari IKIP Yogyakarta.
Dalam waktu yang sama, kuliah di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga dengan
beasiswa penuh.
Adapun paginya, perkuliahan formal dan terjadual merupakan
masa-masa indah untuk kembali bersua dengannya. Mata kuliah Psikologi Agama dan
Perbandingan Agama menjadi rencana studi mahasiswa semester VII dan VIII. Dua
mata kuliah yang diasuh beliau, mengantarkan banyak generasi memiliki wawasan
luas dalam toleransi, dan menghargai perbedaan. Beliau dikenal baik di kalangan
pemuka agama-agama dan aliran kepercayaan di Pontianak.
Selama masa bhakti, beliau menempati rumah dinas. Satu halaman,
dibelakang SMA Darud-Da'wah wal Irsyad (samping MAN 2), berlokasi di Jl. Ahmad
Yani. Disamping itu, beliau sangat banyak memelihara anak asuh yang
disekolahkan dan dikuliahkan sampai tamat. Hidup bersama dengan beliau di rumah
itu. Beliau tidak pernah marah sebagaimana pengakuan anak asuh beliau yang
bernama Mahmud. Setelah tamat S1, Mahmud bertugas sebagai Guru Agama di Tayan
Hilir. Purna bhakti, beliau hidup damai dengan keluarga di rumah rindang dan
asri di kawasan Kota Baru Pontianak. Menjalani hidup secara sederhana,
"nrimo ing pandum" menjadi prinsip hidup. Tidak berlebihan, jika kita
gelar beliau "sufi modern."
Peran penting berikutnya, dia adalah tokoh yang membuka cakrawala
beragama secara luas dan membumi. Tidak saja teori, praktik dan cara pandang.
Kecuali itu, Abror mengajarkan metode memahami Islam dengan akal sehat.
Melarang taklid, jumud, dan fanatisme buta dalam beragama. Juga memadukan teks
dan konteks ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari secara cerdas. Tidak
jarang pendapatnya ditantang oleh ulama tradisional. Dia sangat menghormati
ulama tradisional sebagai sahabat diskusi. Betapa tegas tanya-jawab ketika diskusi berlangsung,
tapi diakhiri dengan salam dan peluk cium. Hal tersebut menandakan beliau
adalah ilmuwan yang berlapang dada, mudah memaafkan, tidak menyimpan dendam,
konsisten kepada kebenaran, komitmen kepada kebaikan, dan bergaul dengan siapa
saja. Jadi, siapapun yang mengetahui Abd. Rachman Abror dan mengenalnya lebih
dekat, pasti beliau orang baik, ramah, menghormati orang tua, menghargai
sesama, menyayangi anak muda. Satu hal yang tidak boleh terlupakan, Abror adalah orang yang berhasil memadankan
otak, hati, tangan. Lulus dalam memaksimalkan potensi pikir, zikir, amal saleh.
Mengajarkan, dan menjadi contoh kebaikan bagi generasi.
Semua orang yang mengenalnya, satu nama yang tidak asing. Tapi kaya
peran dan tanggungjawab mulia. Sang dosen, guru, ayah, sahabat, peneliti,
penulis, ilmuwan, agamawan yang bersifat penyayang, pengasih dan peduli sesama.
Atas nama pengabdian kepada nusa, bangsa dan agama. Beliau telah mengukir jiwa
para guru dan dosen Kalimantan Barat yang tak terhitung jumlahnya. Ikut menoreh
tinta emas pendidikan dan peradaban.Tokoh toleransi lintas agama, tapi tetap
menjadi penganut agama Islam yang taat. Sesuai dengan ujaran yang sering
disampaikan, "agree in dis agreement" (setuju di dalam
ketidaksetujuan) menjadi adab ketika ikhtilaf. Hidup bersahaja, pekerja giat,
bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (anti KKN) merupakan gaya hidup
Abror. Tidak untuk menumpuk kekayaan. Polos, sederhana dan apa adanya.
Mencintai keluarga dan profesi sebagai wujud menaati Allah dan Rasul-Nya. Tidak
pernah kompromi dengan kejahatan dan kerakusan jabatan, sosok ideal dari Abd.
Rachman Abror.
Nasehatnya sederhana, namun seumur hidup akan diingat oleh
mahasiswa. Setiap mahasiswa pasti memiliki kenangan tentang sang dosen, sesuai
kapasitas daya tangkap mereka. Tentang penyampaian ilmu, tegur-sapa, nasehat,
tawa dan kecewanya, bahkan diamnya. Rapi, disiplin, selalu memposisikan diri
secara tepat. Semua itu berangkat dari hati tulusnya. Dia berbuat bukan untuk
pencitraan, bukan iklan. Artinya, dia berbuat atau tidak berbuat karena
tuntunan hati. Bukan keterpaksaan dan tidak pesan sponsor.
Sikap independensi keilmuan telah memahat nama baik dan sifat luhur
untuk Abror. Raga dan jiwa yang akan menjadi sebuah kisah manis untuk ditimba
sumur kearifan darinya. Ibarat pepatah: "Gajah mati meninggalkan gading.
Harimau mati meninggalkan belang. Rusa mati meninggalkan tanduk. Badak mati
meninggalkan cula. Manusia wafat meninggalkan nama." Dalam kisah Abror,
beliau telah meninggalkan memori indah. Melalui profesi guru dan dosen yang
beliau pilih secara suka-rela, tanpa paksa.
Overall dari lembar kisah Abror, cukuplah semua karya beliau yang
tertulis dan yang tidak tertulis. Semoga merupakan 'amal jariyah terbaik yang
diterima Tuhan. Bagi mahasiswa dan orang-orang yang pernah menimba ilmu,
tumpahan rindu, limpahan sayang, luapan kasih, biduk cinta darinya, menjadi doa
dan kenangan terbagus. Memori tentangnya denganku. Setelah wisuda S1 IAIN
Pontianak, 10 Agustus 1995 di Auditorium UNTAN. Sebagai lulusan terbaik, aku
diangkat sebagai asisten beliau. Sungguh, beliau memanggilku dengan sebutan Pak
Ma'ruf. Untuk kuliah perdana, September 1995. Masya Allah, diriku menjadi
terharu, betapa perhormatan terhadapku, mahasiswanya. Sehat selalu bapak,
pembimbing, guru dan dosenku.
.jpg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar