MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin Yaqzan)

 


MENGKONFIRMASI AKAL DENGAN WAHYU (Belajar dari Kisah Inspiratif Hayy bin Yaqzan)

Oleh

Ma’ruf Zahran Sabran

MANUSIA bertipe makhluk yang bisa dididik dan mendidik, atau disebut manusia pendidikan (homo educandum) untuk menumbuhkan potensi baik padanya. Melalui guru dan tanpa guru (formal). Bukti nyata adalah kisah inspiratif Hayy bin Yaqzan.

Lembar kehidupan Hayy bin Yaqzan diangkat dari sebuah kisah filsafat klasik karya Ibnu Thufail (Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail Al-Qaisi). Beliau lahir di Andalusia (Spanyol, 1105 Masehi). Beliau wafat di Maroko, 1185 Masehi, seorang filosof muslim dari Eropa. Kitab Hayy bin Yaqzan artinya: Si-Hidup, anak dari yang sadar.

Ringkas kisah terdapat seorang bayi terdampar sebatang kara di pulau kosong tanpa manusia. Diasuh oleh seekor kijang. Pendidikan dan pembelajaran berlangsung tanpa bahasa, tanpa guru, tanpa kitab. Dengan instink, naluri, akal dan pengamatan alam, bayi Hayy tumbuh dan belajar bertahan hidup.

Mengamati tumbuhan, gerak-gerik hewan, perjalanan bintang, pergantian malam dan siang, penciptaan langit dan bumi, bulan dan matahari, serta sifat semesta. Lalu Hayy menemukan hukum sebab-akibat. Hukum yang telah sanggup mengedukasi Hayy untuk menemukan Tuhan. Bahwa sifat Tuhan berbeda dengan sifat semesta yang terbit akhirnya terbenam. Hayy membongkar mayat induk kijang sebagai ibunya. Kemudian Hayy menemukan konsep jasad dan roh.

Observasi alam semesta yang dilakukannya, sampai pada penemuan ma'rifatullah. Mengenal Allah lewat akal murni, menempuh perjalanan batin rohani dan pengalaman spiritual. Akhir kisah, Hayy bertemu dengan seorang manusia yang bernama Absal. Absal datang dari pulau seberang yang telah lama beragama. Mereka sadar, sungguh kebenaran yang Hayy temukan melalui proses akal sehat. Ternyata memiliki kesamaan dengan konsep agama yang bersumber dari wahyu.

Pesan moral dari kisah Hayy bin Yaqzan bahwa akal sanggup menemukan kebenaran, yaitu akal yang dikonfirmasi oleh wahyu. Apabila proses tersebut ditempuh dengan benar, manusia bisa sampai kepada Tuhan berbantuan tadabbur alam. Pengaruh karya Ibnu Thufail sampai ke seluruh daratan Eropa, bahkan menginspirasi dunia filsafat, bahasa, sastra dan novel.

Kitab Hayy bin Yaqzan mungkin terinspirasi oleh kisah dari Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Pengamatan benda-benda angkasa yang dilakukan Ibrahim terhadap bintang, bulan dan matahari. Disebutkan dalam surah Al-An'am ayat 75-78, observasi ketika Nabi Ibrahim berproses. Puncak penemuan Tuhan yang sebenarnya, tertuang di ayat 79.

Alam semesta menjadi media dan bukti kebesaran Allah SWT. Kehadiran-Nya, ilmu, pengetahuan, pengawasan, pemeliharaan, pengajaran dan didikan Tuhan kepada alam semesta. Dia adalah Tuhan yang memelihara alam semesta, terpujilah nama-Nya. Oleh sebab itu, kisah Nabi Ibrahim sangat menginspirasi kaum terpelajar se-dunia. Ibrahim mencari Tuhan berawal dari observasi bintang. Ketika bintang terbenam, Ibrahim mengatakan: Aku tidak suka kepada yang tenggelam. Karena setiap yang tenggelam pasti bukan Tuhan. Observasi Ibrahim tertuju kepada bulan. Namun tatkala siang datang, bulan menghilang.

Nabi Ibrahim berkata: "Sekiranya Tuhanku tidak memberiku petunjuk, sungguh aku termasuk orang-orang yang sesat." Kemudian terbit matahari, Ibrahim mulai terkagum dan terkesima dengan matahari. Ibrahim mengatakan: "Inilah Tuhanku, ini lebih besar." Tatkala matahari terbenam. Ibrahim berkata: "Hai kaumku, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan."

Akhir keyakinan (Al-An'am:79), Nabi Ibrahim berkata: "Sungguh aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Agama yang lurus lagi berserah diri. Dan aku bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." Ajaran tauhid dari Allah, Jibril, Ibrahim adalah mata rantai ajaran yang paling kuat. Turun-temurun, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, ajaran bahwa Tuhan tidak bisa diperlambang oleh benda langit dan benda bumi. Sehingga Nabi Ibrahim berkata kepada kaumnya yang masih musyrik: "Aku berlepas diri terhadap apa yang kamu persekutukan." Dengan kata lain, aku tidak bertanggungjawab terhadap sesembahan yang kalian sembah. Tuhan yang kalian personifikasi dengan alam semesta. Semoga berhikmah. Wama taufiqi illa billah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI