TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN

 


TAHAPAN MANUSIA BELAJAR MENILAI KEHIDUPAN

Oleh

Ma'ruf Zahran Sabran

MANUSIA ialah insan pembelajar (homo-educandum), jika ingin menjadi manusia berguna. Dalam belajar mereka ikut dinilai dan menilai lingkungan. Kaitan tahapan belajar menilai kehidupan, seseorang pasti melewati tiga fase normal dan utuh. Jika terhenti disalah satu fase, maka riwayat belajar akan pincang atau belum utuh. Tahapan tersebut adalah:

Baru Belajar

Tahapan pertama belajar  terfokus pada diri yang baru belajar. Bahwa hanya perspektifnya sajalah standar kebenaran, bukan dari yang lain. Cukup dimaklumi, ibarat setiap orang pasti pernah mengalami masa dimana "hanya silatnya" saja yang hebat. Sebab baru belajar satu dan dua jurus silat. Baru melewati masa yang "mencengangkan." Berakibat semua orang salah, standar benar hanya dirinya yang baru tahu. Padahal di luar sekolah sudah jauh berkembang ilmu pengetahuan. Problemnya bukan tentang tahu atau tidak tahu. Tapi adab pembelajar yang belum terbina sejak awal. Kadang ilmu bersesuaian (ekuivalensi) dengan adab. Lebih sering dalam praktik ketika ilmu bertentangan (ambivalensi) dengan adab. Mendatangkan kisruh situasi dan kondisi.

Contohnya, kaum Nabi Musa yang sudah diselamatkan oleh Allah SWT dari kekejaman Fir'aun dan tentaranya. "Maka berjalanlah kamu (Musa) dengan para hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar (Ad-Dukhan:23)." Namun setelah mereka keluar dari Mesir dan sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Tuhan di dalam Taurat. Mereka menyalahkan Musa. Menyalahkan Musa sama dengan menyalahkan Tuhan. Karena hijrah dari Mesir ke Palestina adalah perintah Tuhan. Tuhan bertujuan menyelamatkan Bani Israel (kaum Musa) serta menyelamatkan iman mereka.

Sedang Belajar

Tipe manusia yang sedang belajar berada di tahapan sering menyalahkan diri sendiri dan membenarkan orang lain. Padahal Allah SWT melarang untuk mencela dirimu karena merasa hina lalu bersedih. Firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 139: "Dan jangan kamu bersikap lemah, jangan pula kamu bersedih hati. Sebenarnya kamu tinggi (derajat), jika kamu orang-orang yang beriman."

Suka menyalahkan diri sendiri adalah sikap yang tidak proporsional dalam beriman kepada takdir baik dan takdir buruk dari Allah Ta'ala. Konsep iman kepada takdir Allah memerintahkan manusia untuk optimis. Konsep iman kepada takdir Allah melarang manusia untuk pesimis. Banyak ayat Alquran yang melarang manusia menceburkan dirinya ke lembah kebinasaan.

Setiap perintah selalu beriring dengan larangan. Termaktub dalam kitab Al-Muwafaqat, kitab induk Maqashid Syari'ah karangan Imam Abu Ishak Asy-Syathibi (lahir: Granada-Spanyol, 720 Hijriah, wafat: Granada -Spanyol, 790 Hijriah). Beliau hidup pada masa Dinasti Ahmar di Spanyol yang merupakan dinasti Islam terakhir di Eropa. Dinasti Ahmar berkuasa sejak 1238 Masehi sampai 1492 Masehi. Beliau (Imam Asy-Syathibi) menulis lima tujuan hukum ditetapkan, sebagai perintah sekaligus larangan.

Perintah menjaga agama sekaligus larangan merusaknya. Perintah menjaga jiwa sekaligus larangan merusaknya. Perintah menjaga akal sekaligus larangan merusaknya. Perintah menjaga keturunan sekaligus larangan merusaknya. Perintah menjaga harta sekaligus larangan merusaknya. Sebagaimana firman Tuhan dalam surah Al-Qasas ayat 77: "Carilah apa-apa yang didatangkan Allah kepadamu tentang (kebahagiaan) negeri akhirat. Dan jangan lupakan nasibmu di dunia. Berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik kepadamu. Dan jangan kamu melakukan kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Bukti hukum larangan berzina dalam rangka menjaga keturunan (hifdzun-nasl). Hukum larangan judi (maisir) dalam rangka menjaga harta (hifdzul-mal). Hukum larangan murtad, larangan mengundi nasib dalam rangka menjaga agama (hifdzud-din). Hukum larangan konsumsi alkohol (khamar) dalam rangka menjaga akal (hifdzul-'aql). Hukum larangan bunuh diri dalam rangka menjaga jiwa (hifdzun-nafs). Telah difirmankan-Nya dalam surah An-Nisa ayat 29: "Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah sangat sayang kepadamu."

Tuntas Belajar

Tipe manusia yang sudah tuntas belajar berciri tidak lagi menyalahkan Allah, Rasul, diri sendiri, diri orang lain, lingkungan. Tipe orang yang tuntas belajar ialah mampu berbaik sangka dalam situasi dan kondisi apapun. Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: "Aku kagum terhadap setiap masalah kaum muslimin. Bila mendapat kesenangan, mereka bersikap syukur. Bila mendapat kesusahan, mereka bersikap sabar. Keduanya baik bagi mereka." Berhenti menyalahkan diri dan orang lain, kecuali hanya berserah-diri kepada Allah SWT. Berhenti membenarkan diri dan orang lain, kecuali berserah diri kepada Allah SWT. Posisi netral merupakan kekuatan moral (the moral force). Kekuatan bagi mereka yang sudah tuntas belajar. Tidak suka menyalah-nyalahkan, dan tidak suka membenar-benarkan. Karena kaum muslimin menjadi saksi atas semua perbuatan manusia. Rasul menjadi saksi atas perbuatan kaum muslimin.

Tuntas belajar merupakan capaian akhir beragama, tidak lagi menyalahkan takdir diri dan takdir orang lain. Kondisi seseorang yang selalu ber-husnudz-dzan (berbaik sangka) kepada Allah dan ber-husnudz-dzan (berbaik sangka) kepada manusia merupakan jalur cepat menuju kematian husnul-khatimah. Sebaliknya, kondisi seseorang yang selalu suudz-dzan berindikator sebuah kematian yang buruk (suul-khatimah).

Artinya, tuntas belajar sama dengan tuntas memahami takdir. Meskipun beriman kepada takdir ditempatkan pada posisi rukun iman paling akhir, tapi sangat menentukan. Sebab beriman kepada takdir baik dan takdir buruk datang dari Allah merupakan wujud beriman terhadap perbuatan Allah (af'al Allah). Mereka yang tidak beriman kepada takdir Allah, otomatis kafir kepada Allah Al-Qadir, Allah Al-Muqtadir.

Jadi, tahap belajar manusia menilai adalah mereka yang melalui tiga kelas pembelajaran. Kelas "baru" belajar berciri telah mengenal diri, tapi tidak mengenal lingkungan. Kedua, kelas mereka yang "sedang" belajar berciri telah mengenal lingkungan, tapi kadang luput mengenal diri. Tahap akhir, kelas "tuntas" belajar ialah sanggup mengenal diri dan lingkungan. Sehingga tidak lagi menyalahkan diri sendiri dan tidak lagi menyalahkan lingkungan.  Namun secara bertahap memperbaiki situasi dan kondisi supaya beradab, berakhlak, bermartabat. Jika tidak sanggup merubah kondisi buruk menjadi baik, maka berserah diri sajalah dengan menyerahkan urusannya kepada Allah. Supaya kamu tidak terbebani oleh beban duniawi yang membebani, menyakiti. Demikian itu, adalah bagian dari putusan Allah yang telah Dia tetapkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATU ABAD MASJID MIFTAHURRIDHA BUKTI JEJAK PERJUANGAN ULAMA: TUAN GURU HAJI IBRAHIM BASIR

AKHLAK 1- HAK DAN KEWAJIBAN TETANGGA

PEMBELAJARAN PAI-SKI