TIGA KLUSTER MANUSIA DALAM MENYIKAPI MUSIBAH KARHUTLA
TIGA KLUSTER MANUSIA DALAM MENYIKAPI MUSIBAH KARHUTLA
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
MUSIBAH KARHUTLA di Kalimantan mendatangkan petaka yang besar bagi
masyarakat Kalimantan pada khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Dampak yang sama juga dirasakan oleh negara-negara tetangga, seperti Malaysia,
Singapura, Brunei Darussalam. Secara kesehatan, KARHUTLA dengan kabut asap yang
pekat, kotor dan berbahaya, dapat berakibat infeksi saluran pernapasan akut,
sehingga sangat merusak kesehatan paru dan mengancam kesehatan jantung. Jangka
waktu lama, beresiko mengurangi kecerdasan otak anak, melemahkan daya tahan
tubuh dan iritasi pada mata.
Lebih dari empat ribu (4.000) hektar perkebunan sawit terbakar
hangus menjadi abu. Perkebunan karet dilahap si-jago merah, yang tersisa adalah
debu. Banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian. Orang kaya jatuh miskin,
orang miskin semakin miskin. Otomatis, KARHUTLA di Kalimantan dapat mengurangi
pendapatan ekonomi harian. Disamping angka pengangguran meningkat karena usia
produktif yang besar sebagai potensi surplus demografi. Namun tidak terserap
oleh lapangan pekerjaan.
Tanpa disadari, musibah KARHUTLA dapat meningkatkan tindak kriminal
yang menanjak tajam sebagai penyakit sosial. Selain itu, dikhawatirkan akan
terjadi konflik horizontal. Jumlah ODGJ (orang dalam gangguan jiwa) akan
bertambah. Angka perceraian suami-istri semakin booming. Sebuah gambaran
kondisi masa depan yang menyeramkan. Tapi bangsa Indonesia harus belajar di
negeri sendiri. Dari pengalaman sejarah perjuangan mengusir, merebut dan
mempertahankan kemerdekaan dalam peperangan. Jadikan pelajaran berharga untuk
keluar dari kemelut musibah KARHUTLA beserta dampak penyerta.
Penjelasan tentang musibah KARHUTLA di atas, menyeleksi keimanan
manusia ke dalam tiga kluster, yaitu:
Manusia
yang beriman dan semakin bertambah iman mereka
Kluster pertama adalah mereka yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya tanpa ragu. Walaupun kaedah iman manusia bisa bertambah dan bisa
berkurang. Namun, orang yang totalitas keberimanannya tauhid (tidak syirik),
setiap harinya menjadi pertambahan iman sampai wafat. Berdasarkan surah Al-Fath
ayat 4 yang dinyatakan dengan firman: "Dialah yang telah menurunkan
ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin. Untuk menambah keimanan atas
keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah sajalah tentara langit dan
bumi. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Musibah KARHUTLA bagi orang-orang yang beriman kepada nama dan
sifat Allah SWT, akan sampai kepada kaedah: "Tidak akan bergerak sesuatu,
kecuali atas izin Allah." Maksudnya, bagi orang yang beriman (mukmin),
musibah KARHUTLA sebagai ujian iman sekaligus peringatan. Bahwa dirinya adalah
tempat salah, khilaf, alpa dan lupa. Pemantik kesadaran spiritual dapat
mendorong perilaku tobat.
Mereka
ragu kepada Allah dan bertambah keraguan, dikelompokkan ke dalam kaum yang
ingkar
Kluster kedua dalam menyikapi musibah KARHUTLA bagi orang yang
sejak awal sudah ragu dalam bertuhan dan bimbang ketika beragama. Mereka
akhirnya divalidasi ke dalam kaum yang ingkar. Mengapa gerangan?
Bertuhan bukan musiman. Tetaplah bertuhan ketika kondisi sehat atau
sakit, muda atau tua, lapang atau sempit, kaya atau miskin, hidup atau mati.
Sebab hidup di dunia merupakan medan-medan ujian dan rantai-rantai musibah.
Tidak sedikit ahli taat yang ketika diterpa musibah, lalu ragu kepada Allah SWT
yang selama ini mengasihi, menyanyangi, mencintai. Dari ragu karena sedikit
ujian, lalu ingkar kepada-Nya. Tuhan Allah yang selama ini diyakini
lemah-lembut (Al-Lathif). Sontak dengan kejadian musibah KARHUTLA berubah
menjadi Tuhan yang memaksa (Al-Jabbar) dan mengalahkan (Al-Qahhar) kesombongan
manusia, manusia tidak rela. Tuhan yang sebelum musibah KARHUTLA diyakini
pemberi nikmat (An-Nafi'). Setelah manusia mengalami musibah KARHUTLA, Allah
SWT menampakkan diri-Nya dalam sifat pemberi derita (Adh-Dhar). Banyak manusia
yang tadinya ragu, menjadi bertambah keraguan dan ujungnya ingkar kepada Allah
dan Rasul-Nya.
Mereka
yang sudah ingkar kepada Allah, semakin bertambah ingkar
Kluster ketiga ialah mereka yang sering salah mengerti tentang
Allah, gagal paham. Malah apa yang diperintah Allah, justru mereka fokus
melanggar. Sedangkan apa yang dilarang Allah, justru mereka fokus menunaikan.
Allah melarang korupsi, korupsi yang mereka senangi. Allah melarang judi, judi
yang mereka gemari. Artinya, orang yang ingkar adalah mereka yang tidak mau
tunduk terhadap legislasi hukum Tuhan. Jadi, bukan manusia yang diatur Tuhan,
namun manusia yang mengatur Tuhan.
Keingkaran dapat pula disebabkan manusia tertipu dalam memahami
makna kepemimpinan. Istilah agama kadang disalah-pahami, seperti terma khalifah
(pemimpin). Seakan jabatan khalifah sama dengan berkata atau berbuat semaunya.
Berkehendak dan memerintah seenaknya. Padahal, arti khalifah adalah mandataris
(wakil) Allah di bumi (khalifatullah fil ardhi). Kehadiran khalifah harus
bertujuan untuk mewujudkan kemakmuran, keamanan, kedamaian, kesejahteraan
rakyat.
Manusia lebih suka dipuji karena merasa dirinya hebat, sebenarnya
ringkih. Merasa dirinya kuat, esensinya lemah. Mengaku berdaya untuk melawan
Tuhan secara terang-terangan atau melawan Tuhan dalam diam. Merasa diri kuat
dalam menampik derita dan merasa diri kuat mengundang bahagia. Sumber
keingkaran mereka berasal dari hati yang tidak patuh kepada Allah. Lisensi dan
finalisasi keingkaran mereka telah difirmankan-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat
7 yaitu: "Allah sudah menutup, mengunci mati hati, pendengaran serta
penglihatan mereka, karena tembok keingkaran. Dan bagi mereka siksa yang
berat." Semoga literasi ini menjadi pembelajaran bermakna, mampu memetik
hikmah dari musibah KARHUTLA.

Komentar
Posting Komentar