PENGARUH KESADARAN KEESAAN TUHAN BERDAMPAK TERHADAP KESATUAN KOSMIK (Makna Batin Pertemuan Dua Laut)
PENGARUH KESADARAN KEESAAN TUHAN BERDAMPAK TERHADAP KESATUAN KOSMIK
(Makna Batin Pertemuan Dua Laut)
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
ISTILAH pertemuan dua laut terdapat dalam surah Al-Kahfi ayat 60.
Makna kias dari pertemuan dua laut ialah laut syariat dan laut hakikat.
Pertemuan serta percampuran keduanya disebut ma'rifat. Syariat berpikir tentang
diri luar (lahiriah). Hakikat berpikir tentang diri dalam (batiniah). Perpaduan
syariat dan hakikat berada pada wilayah rasa. Rasa bukan ilmu, rasa bukan
syariat, rasa bukan hakikat. Rasa ialah rahasia (sir). Rasa yang ingin direbut
malaikat dan ingin dicuri Iblis. Namun gagal, sebab Allah SWT tidak
berkehendak. Malaikat sudah diformat menjadi manusia taat tanpa rasa. Iblis
sudah diformat menjadi manusia durhaka tanpa rasa. Rasa adalah kebenaran,
wilayah kerja hati. Disebut dalam surah Al-Kahfi ayat 29: "Dan katakan
(Muhammad), kebenaran dari Tuhanmu. Siapa yang menghendaki beriman, berimanlah.
Dan siapa yang menghendaki kufur, kufurlah. Sesungguhnya Kami menjanjikan neraka
untuk orang-orang zalim."
Pertanyaan paling dasar ialah, siapakah sang-kebenaran yang telah
diutus oleh Allah SWT. Dia tunjuk di kalangan makhluk-Nya, sebuah jabatan duta,
mandataris dari-Nya. Supaya Dia dikenal keberadaan-Nya. Meskipun Dia maha hidup
selamanya, berdiri-sendiri tanpa bantuan makhluk-Nya. Agar kehadiran-Nya
dirasakan manusia, sehingga manusia bersyukur kepada-Nya. Untuk mengerti
manusia, adalah manusia itu sendiri sebagai utusan. Bukan dari bangsa malaikat
dan bukan pula dari bangsa jin.
Dengan kebenaran yang dengannya, Tuhan berkenan. Nabi yang paling
awal dan yang paling akhir. Dia ciptakan sang-kekasih, sang-cahaya sebelum
diciptakan eksistensi yang lain. Eksistensi sang-kekasih sanggup menyerap semua
nama-nama mulia dari-Nya, menerapkan sifat kelembutan dan kegagahan-Nya.
Nama-Nya berarti bukan zat-Nya, sifat-Nya bukan zat-Nya. Keduanya berlainan,
meskipun sifat tidak bisa terlepas dari zat-Nya. Berdasarkan firman Allah dalam
surah Asy-Syura ayat 11: "Tidak serupa Dia dengan sesuatu apapun. Dan Dia
Maha Mendengar-Maha Melihat."
Muhammad dalam kapasitas sebagai Rasulullah berfungsi duta Allah
untuk alam semesta, dari awal hingga akhir. Muhammad dalam kapasitas sebagai
Asmaullah dan Sifatullah menerangkan dan mempraktikkan cara meneladani sifat
kemuliaan (jalaliyah) dan sifat keindahan (jamaliyah). Muhammad dalam kapasitas
sebagai Haqqullah (kebenaran Allah), maka Muhammad Haqqullah, Hujjatullah
adalah Muhammad yang paling berhak memberikan penjelasan tentang Tuhan yang
sebenarnya. Muhammad dalam kapasitas Nurullah telah mendapat amanah memancarkan
cahaya Muhammad kepada alam semesta. Sehingga alam semesta merupakan pancaran
sifat dari sifat Muhammad Nurullah. Sifat Muhammad berasal dari pancaran zat
Allah Jalla wa Akram.
Keniscayaan ma'rifat bahwa hanya ada satu eksistensi tunggal-esa di
alam semesta. Tidak ada manifestasi absolut (mutlak) kecuali Allah SWT.
Manifestasi semesta yang ada karena diadakan, disebut manifestasi relatif dan
temporer. Bahkan kata "ada" esensinya adalah tidak ada. Semua yang
diadakan karena Allah, dan semua yang ditiadakan karena-Nya. Dia berada dalam
keadaan yang tidak berubah, dahulu, sekarang, akan datang.
Arti manifestasi relatif ialah tidak ada yang kekal. Sifat
kelemahan alam terhubung dengan ruang, waktu, kondisi. Suatu saat akan musnah,
punah dan tutup usia. Misal, kata ganti orang (pronomina persona) tunggal ialah
aku. Kata ganti kedua disebut engkau. Kata ganti orang ketiga disebut dia. Kata
ganti tunggal-jamak disebut kami. Kata ganti kedua-jamak disebut kamu. Kata
ganti ketiga-jamak disebut mereka. Bagaimana ilmu tauhid menerangkan bahwa alam
semesta adalah satu (the universe is one)?
Tauhid telah menegaskan bahwa manusia berasal dari Allah dan
kembali kepada-Nya. Maksudnya, seluruh kata ganti di alam semesta akan musnah.
Bahkan kemusnahan total. Totalitas kemusnahan nama, sifat, diri, perbuatan,
kecuali wujud Maha Esa saja. Pemaknaan kalimat tauhid, tidak ada Tuhan kecuali
Allah, tidak ada yang diwujudkan kecuali Allah. Tidak ada yang disembah kecuali
Allah. Tidak ada yang dicintai kecuali Allah. Tidak ada yang dikenal kecuali
Allah. Selain Dia, bukan keberadaan. Selain Dia, bukan kehadiran. Selain Dia,
bukan kebenaran. Keberadaan, kehadiran, kebenaran adalah Dia dan milik-Nya.
"Milik-Nya kunci-kunci langit dan bumi. Adapun orang-orang yang ingkar
terhadap ayat-ayat Allah. Mereka itulah orang-orang yang merugi
(Az-Zumar:63)."
Pemaknaan tauhid terdalam dari kata mereka, sungguh mereka akan
musnah, kecuali Allah. Sebab yang mereka sembah selain Allah adalah buta, tuli,
bisu dan tidak bisa menolong dirinya sendiri. Pemaknaan tauhid terdalam dari
kata kamu. Kamu sebenarnya tidak ada, kecuali diadakan dan akan kembali kepada
tiada untuk dikumpulkan di hadirat Allah SWT. Lalu, betapa tidak logis, ketika
kamu sombong. Menyombongkan titipan Tuhan, status titipan yang disandang oleh
semua orang. Pemaknaan tauhid dari kata kami. Kami adalah hamba Allah, hanya
kepada-Nya kami tunduk, hanya kepada-Nya kami berserah-diri. Jelas, bahwa
kemanusiaan adalah satu (the humanity is one).
Tentang Aku, surah Taha ayat 14 merupakan ilustrasi tegas bahwa
hanya ada Aku-Allah: "Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan
selain Aku. Sembahlah Aku saja. Dan dirikanlah salat, hanya untuk mengingat
Aku." Menisbatkan (meneguhkan) Aku-Allah, dan menafikan (meniadakan)
aku-aku yang selain Allah. Meniadakan aku-Ma'ruf, meniadakan aku-Ryan,
meniadakan aku-Edi. Simpul kalimat tauhid: La ana illa Ana (tidak ada aku
kecuali Aku). Tidak ada aku merupakan pernyataan ketiadaan diri yang relatif. Kecuali
Aku merupakan pernyataan keberadaan diri yang absolut. (Perhatikan penulisan
A=besar dan a=kecil, untuk sebatas memudahkan paham). Wallahu a'lam.

Komentar
Posting Komentar