RAHASIA SYARAT TERKABUL HAJAT DENGAN SEBAB SELAWAT
RAHASIA SYARAT TERKABUL HAJAT DENGAN SEBAB SELAWAT
Oleh
Ma'ruf Zahran Sabran
AKU (Allah) ingin dikenal, ingin disembah,
kemudian Aku ciptakan sang-cahaya, bersumber dari cahaya-Ku. Sang Rasul
(cahaya) yang mengandung asma', sifat dan af'al (perbuatan)-Ku. Rasulullah,
dari cahaya-Ku (Ilahi) yang paling sempurna dalam menyerap cahaya-Ku (Ilahi).
Dari-Ku berasal, dan kepada-Ku semua dikembalikan. Bukankah Aku adalah satu
eksistensi permanen yang tunggal, esa, berdiri sendiri. Adapun tugas Rasulullah
SAW adalah merefleksikan nama dan sifat-Ku, supaya bisa dicontoh oleh seluruh
manusia. Artinya, Rasulullah SAW merupakan refleksi terbaik untuk
memproyeksikan nama-nama indah dari-Ku. Terlengkap dalam memproyeksikan sifat
mulia-Ku. Muhammad sang-kekasih, dia paling sempurna dalam memproyeksikan
perbuatan hikmah dari-Ku. Karena itu, Rasulullah SAW digelar insan kamil guna
dijadikan keteladanan terbaik (uswatun-hasanah) untuk mereka yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, serta mereka yang banyak mengingat Aku. Supaya Aku
semakin dikenal lebih luas, Aku ciptakan aku-aku, Aku hadirkan aku-aku yang
lain. Agar mereka berakhlak seperti Aku, Aku sangat pengasih dan sangat
penyayang. Aku paling cinta, jika sifat-Ku tertular pada hamba-Ku, sebagai
hasil mahakarya-Ku.
Kesadaran bahwa keesaan Tuhan dan keakuan
diri-Nya sebagai pencipta kosmik bersifat mutlak ke semesta-alam. Berdampak
pada seseorang bersifat ramah dan rahmah kepada lingkungan. Sebab secara
bersama-sama (manusia, flora, fauna) merupakan komunitas, puspa-raga yang
sedang mendiami bumi. Langit, bumi dan beragam hayati adalah milik Allah SWT.
Hingga sel dan virus, mereka bertasbih, bertahmid kepada Allah dan berselawat
kepada kekasih Tuhan, Rasul sang-cahaya.
Rasulullah SAW sebagai duta dan wakil Tuhan di dunia
dan akhirat telah dilantik dengan menyandang nama-Ku, sifat-Ku, af'al-Ku,
ajaran-Ku. Nama-Ku adalah namanya, sifat-Ku adalah sifatnya, af'al-Ku adalah
af'alnya, ajaran-Ku adalah ajarannya. Dalam konsep: "Dekat tidak
bersentuhan. Jauh tidak berperantara." Atau dalam pemahaman: "Jangan
satukan sehingga menyatu. Jangan pisahkan sehingga memisah." Doktrin
inilah yang menyebabkan setiap ibadah tidak tertolak, karena berselawat kepada
kekasih-Ku. Sebaliknya, banyak tumpukan ibadah yang tidak terangkat ke langit,
akibatnya menjadi benda rongsokan di bumi. Karena ketiadaan selawat kepada
kekasih-Ku, sang-pencinta.
Terlalu sering ayat ini dibaca. Tapi terlalu
sering diabaikan. "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat
kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kepadanya dan haturkan
salam penghormatan (Al-Ahzab:56)." Maksudnya, dengan berselawat Allah
menciptakan alam semesta. Dengan berselawat para malaikat menunaikan
tugas-tuntas. Bukti paling meyakinkan, ketika Allah SWT memberikan kuasa kepada
Rasulullah SAW untuk menganugerahkan syafaat pada hari kiamat. Syafaat yang tidak
dimiliki oleh seorang utusan-Nya, selain sang-kekasih, Rasulullah di dunia dan di
akhirat, serta keutamaan yang dimiliki umat akhir zaman. Terkhusus, Rasul
terakhir dan umat terakhir.
Rahasia syarat terkabul hajat, pengampunan dosa, petunjuk, doa, ibadah dengan sebab beriman kepada Rasul-Nya dan selawat. Tidak berlebihan bahwa generasi terbaik dari umat manusia ialah generasi sahabat. Sahabat artinya generasi yang hidup pada masa Rasul. Lalu generasi setelahnya dan setelahnya. Maksudnya, generasi tabi'in yaitu mereka yang beriman, hidup pada masa sahabat. Tabi'it-tabi'in yaitu generasi yang beriman, mereka hidup pada masa tabi'in.
Utamakan Selawat
Utamakan selawat bagi generasi pilihan ialah Gen-Z berciri
mengikuti sunah, akhlak dan adab Rasulullah SAW. Beliau adalah sebagus-bagus
sunah (perilaku keseharian). Bukan dalam arti fisik dan atribut material,
seperti memelihara jenggot, memakai jubah, berterompah. Mengendarai unta,
memakan gandum dengan minyak samin. Selayaknya mencontoh dari akhlak agung,
yaitu: "Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai rahmat
bagi seluruh alam (Al-Anbiya':107)." Sunah agung ialah akhlak berupa
rahmat (kasih-sayang) bagi siapa saja yang menjumpai baginda, langsung atau
tidak langsung.
Banyak ayat Al-Quran yang menunjuki jalan lurus. Jalan
lurus adalah metode Rasulullah ('ala minhajin-nubuwwah) berupa risalah Islam
yang beliau sampaikan. Bagaimana bisa terjadi, seseorang yang menerima Islam,
tapi "ogah" berselawat. Rajin tilawah Al-Quran, tapi malas
berselawat. Tinggi rating salatnya, tapi rendah rating selawatnya. Gemar
sedekah, tapi pelit selawat. Banyak puasa, tapi sedikit selawat?
Sudahkah diketahui, langit dan bumi diciptakan Allah dengan
kebenaran (bil-haq). Siapa kebenaran itu? "Dan katakan (Muhammad): Telah
datang kebenaran dan telah hancur kebatilan. Sesungguhnya setiap yang batil
pasti hancur (Al-Isra':81)." Kebenaran itulah Nur Muhammad. Siapa yang
meyakininya, bercahaya hidup-matinya. Rasul yang mengajarkan, beriman kepada
Nur Muhammad yang berasal dari Nur Allah. Niscaya tidak takut miskin yang
menyeret kepada kafir, karena berada di bawah naung cahaya. Tidak khawatir kaya
yang menyeret kepada kufur, karena berada di bawah naung cahaya.
Sebenarnya, Nur Muhammad telah lama hadir, sejak Al-Quran
menginformasikan, sehingga umat tahu. Sangat banyak, setiap kata hidayah,
cahaya, keuntungan, rasul, bimbingan, pengajaran, pembacaan kitab-kitab Allah,
penyucian jiwa merujuk kepada Nur Muhammad SAW. Karenanya: "Tidak ada paksaan
dalam agama. Sungguh
telah jelas petunjuk dan kelalaian. Siapa yang kufur terhadap yang
selain Allah dan beriman kepada Allah. Sungguh, mereka telah berpegang pada
tali yang kokoh. Tidak akan tersesat, dan Allah Maha Mendengar-Maha Mengetahui
(Al-Baqarah:256)."
Selawat Nur Muhammad yang awal, Nur Muhammad yang akhir.
Nur Muhammad yang lahiriah, Nur Muhammad yang batiniah. Nur Muhammad bukan
berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sekali diutus (present perfect),
selamanya (continuous) mengajar, mendidik, mengarahkan, menyucikan jiwa umat
yang meyakininya. Tanpa Nur Muhammad, bukankah kamu dahulu berada dalam
kesesatan yang nyata? Berdasarkan surah Al-Jumuah ayat 2: "Dia (Allah)
yang telah mengutus di kalangan kaum seorang utusan. Membacakan kepada mereka
ayat-ayatNya, menyucikan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka tentang
Al-Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (Sunah). Bukankah kamu dahulu berada dalam kesesatan
yang nyata?" Maha Benar Allah yang Maha Agung.

Komentar
Posting Komentar