Postingan

REFLEKSI DIRI

  REFLEKSI DIRI Oleh Ma’ruf Zahran Sabran DOA orang yang hidup, ditunggu oleh orang yang mati. Sebab, orang yang sudah mati di alam kubur, ibarat timbul-tenggelam di dalam laut. Lemparkan saja untuk mereka, meski ban bekas sebagai pelampung, guna penyelamatan di laut. Sungguh berat mereka yang kini berada di alam kubur (barzakh). Terutama, orang-orang yang kita sayangi, kasihi dan cintai. Ayahnda, bunda, nenek, kakek, pasangan (suami atau isteri), anak, sahabat, saudara, tetangga, zuriyat. Mereka (almarhum dan almarhumah) menunggu, menanti dan sangat berharap doa dari kita yang masih hidup. Mendoakan mereka pada setiap khutbah kedua di hari jumat, tentu sifatnya umum. Umum dalam arti, para roh (arwah) berebut mendapatkan makanan, minuman, buah-buahan, selimut. Bahkan, tangan mereka telah menadah sebelum khatib mendoakan: "Allahummaghfir lil-muslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al-ahya-i minhum wal-amwat" (Ya Allah, ampuni muslimin dan muslimat, mukminin...

ESA KEDIRIAN

  ESA KEDIRIAN Oleh Ma’ruf Zahran Sabran SETIAP wujud materi, pasti memiliki kedirian (ego). Minimal konsep diri untuk dijadikan pertimbangan sebelum menjadi aksi. Dunia industri teknologi yang kita jalani sekarang, menuntut berani tampil beda, kerja kreatif, inovatif dan futuristik. Tidak jarang (kerap kali) melanggar adab kepatutan dan kesopanan sosial. Misal, karena tuntutan marketing, dusta menjadi halal. Atau, karena desakan promosi jabatan, diri jujur menjadi haram. Orang yang mengalah bukan berarti kalah. Tetapi dia sedang melangitkan diri berupaya pendakian jiwa. Bisa dia larut dalam konflik duniawi meski berwajah ukhrawi, betapa ruginya. Telah menyejarah bukti nyata pertumpahan darah dan perampasan harta atas nama agama. Keterlibatan sahabat Rasulullah SAW dari perdebatan, diplomasi, konflik, dan menyeret mereka pada kancah peperangan. Pecahnya perang Unta, konflik antara   Ali bin Abi Thalib dan Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Konflik perang Shiffin yang ...

JANGAN MERUSAK NILAI PUASA RAMADAN DENGAN TIGA PERKARA

JANGAN MERUSAK NILAI PUASA RAMADAN DENGAN TIGA PERKARA Oleh Ma’ruf Zahran Sabran KHUTBAH Idulfitri Rasulullah SAW terhenti, seketika hilang suara Rasulullah SAW. Suasana menjadi hening. Terus, Rasulullah SAW membaca amin 3x. Amin, amin, amin. Setelah membaca amin (tiga kali), Rasulullah SAW menyelesaikan khutbah sampai selesai. Selesai Rasulullah SAW berkhutbah dan yang mulia telah turun dari mimbar. Para sahabat bertanya: "Apa gerangan yang membuat Rasulullah SAW menghentikan khutbah disaat beliau sedang berkhutbah Idulfitri? Rasulullah SAW menjawab: Telah datang kepadaku, malaikat Jibril. Jibril bersabda: Maukah engkau ya Rasulullah SAW. Aku (Jibril) berdoa, dan anda (Rasulullah SAW) mengaminkan." Tentu, jawaban Rasulullah SAW mau. Malaikat Jibril berdoa: "Wahai Allah, jangan Engkau terima puasa. Puasa dari anak yang durhaka kepada orang tuanya." Rasulullah menyambut doa malaikat Jibril dengan mengaminkan, amin yang pertama. Malaikat Jibril berdoa lagi...

MEMAHAMI HAKIKAT ALQURAN

  MEMAHAMI HAKIKAT ALQURAN Oleh Ma’ruf Zahran Sabran Alquran menyatakan, hamba rabbani menyadari betul posisinya sebagai hamba Tuhan yang menerima keputusan untuk dirinya. Keputusan dalam perintah (amar) dan keputusan dalam larangan (nahi). Bersekeyakinan, apapun yang diperintah Tuhan, pasti mengandung kebaikan. Dan didalam larangan-Nya, niscaya mengandung kebaikan pula. Maksudnya, hikmah dalam semua perbuatan Tuhan (af'alullah). Mendapat nikmat adalah kebaikan, menuntut hati untuk bersyukur. Mendapat bala' adalah kebaikan, menuntut hati agar bersabar. Mendapat taat adalah kebaikan, menuntut hati untuk tawadhu'. Mendapat maksiat adalah kebaikan, menuntut hati guna bertaubat. Intinya, alhamdulillahi 'ala kulli hal (segala puji hanya untuk Allah, dalam semua keadaan). Bagi para murid, hikmah perbuatan Tuhan selalu tampak diakhir atau dibelakang dari peristiwa. Sedang bagi para mursyid, hikmah selalu datang diawal dan didepan. Bahkan, hikmah (limpahan kebaikan yang...

INTERNALISASI ALQURAN PADA BULAN RAMADAN

  INTERNALISASI ALQURAN PADA BULAN RAMADAN Oleh Ma’ruf Zahran Sabran PERUBAHAN, selalu diawali oleh diri sendiri. Diri sendiri yang senyawa, senapas, sejalan dengan kitab suci Alquran. Finally, ketika puncak spiritual seseorang tidak lagi menuhankan tuhan. Tuhan yang didalam maupun diluar alam semesta. Melainkan Allahul-ahad yang maha meliputi (muhith) dan maha menyaksikan (syahid). Tuhan-tuhan (palsu) yang berukuran besar atau kecil, tuhan berdiameter. Dia tidak sanggup menciptakan sesuatu, bahkan dia diciptakan (baca Alfurqan:3). Selanjut, tuhan palsu tidak mampu menepis keburukan untuk dirinya. Tidak sanggup mendatangkan kebaikan untuk dirinya. Tidak kuasa mematikan, tidak kuasa menghidupkan, tidak kuasa membangkitkan. Mungkin, atau masih bersemayam tuhan-tuhan kecil yang bersembunyi disebalik diri, tuhan ego. Bukankah yang pertama dan utama tugas (misi) Alquran, adalah pengosongan diri. Finalti, diri yang tidak memiliki kuasa. Malah, diri (ego) yang tidak memiliki apapun,...

IDULFITRI KEMBALI KEPADA KESUCIAN

  IDULFITRI KEMBALI KEPADA KESUCIAN Oleh Ma’ruf Zahran Ssbran KESUCIAN identik dengan kepolosan seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, atau hari kelahiran. Atau, idulfitri adalah hari kelahiran kembali. Orang yang diampuni dosa-dosanya seperti kain putih, suci, bersih. Sama dengan muallaf, berapapun usia mereka saat memeluk Islam, mereka bersih. Mulai dari angka nol. Pemutihan ini, karena keagungan kalimah syahadat (kesaksian). Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah. Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah. Dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Bagaimana bagi mereka yang telah menjadi muslim. Puasa Ramadan menemukan momen yang paling tepat untuk menggapai kesucian (fitrah). Meski setiap malam dan setiap hari, setiap orang berpotensi menerima hidayah, inayah, taufik, rahmat dan kesucian (fitrah). Sebab, lailatul-qadar (malam kesucian) Ramadan merujuk kepada fitrah nan fitri. Seperti, selesai salat, seseorang kemb...

PARA FINALIS RAMADAN

PARA FINALIS RAMADAN Oleh Ma’ruf Zahran Sabran Memasuki putaran ketiga Ramadan, sepuluh hari terakhir, mulai malam 21 Ramadan terdapat karunia batin kebahagiaan. Putaran (fase ketiga) ini disebut masa "itqum-minan-nar" (bebas dari siksa api neraka). Setelah dua fase dilewati, rahmah (kasih sayang), dan maghfirah (ampunan) Allah Jalla wa 'Ala. Jika pembebasan (kemerdekaan) dari neraka adalah tujuan, dan masuk surga adalah rahmat Allah SWT. Lalu, apa syarat terbebas dari api neraka, dan terlulus masuk ke passing grade surga? Dengan bahasa indah yang sangat sopan dan lemah lembut. Syarat tersebut sudah Tuhan simpul dengan doa dari-Nya. Membuktikan kehalusan budi pekerti Tuhan (Al-lathif), dan kesantunan adab-adab-Nya (Al-halim). Redaksinya, dengan puasa, mudahan kamu bertakwa. Dengan Alquran, mudahan kamu bersyukur. Dengan doa, mudahan mereka terbimbing. Takwa, syukur, bimbingan merupakan saluran menuju keselamatan dunia dan akhirat. Tuhan menginginkan takwa tumbuh d...